Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)

Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)
Bab 61. Penolakan


__ADS_3

Setelah tiga puluh menit teleponnya terputus, ada mobil yang terparkir di depan kantornya. Jelas Nala tahu siapa pemilik mobil tersebut. Apalagi, Zia dan Zio tampak turun dari sana. Nala tersenyum lalu berdiri untuk menyambut buah hatinya.


"Mommy!"


"Hai, Sayang. Kalian habis darimana?" tanya Nala setelah memeluk dua anaknya.


"Daddy mengajak kami ke kantornya dan sarapan disana," jawab Zia antusias.


"Kita makan bakso loh, Mom. Enak sekali di kantor Daddy," sahut Zio tak mau kalah.


"Wah, sepertinya sangat menyenangkan ya," timpal Nala takjub.


Zia dan Zio mengangguk serentak. "Mom. Kita mau main di taman belakang ya? Disana nyaman," pamit Zio yang diangguki oleh Zia juga.


Ya. Di belakang masih terdapat ruang kosong tiga meteran. Akhirnya, Nala jadikan taman agar ada tempat untuk melepas penat seandainya Nala atau karyawannya pening karena pekerjaan.


"Iya. Pelan-pelan jalannya, Sayang," Nala memekik khawatir saat Zia dan Zio berlari kencang memasuki kantor. Nala yang sudah berdiri pun berbalik ketika mendengar deheman dari arah belakang.


Ehem.


Nala menatap jengah pada laki-laki di hadapannya. "Kamu tidak pulang? Bukankah tugasnya sudah selesai?" tanya Nala tak suka.


"Belum. Tugasku belum selesai. Masih ada hati yang harus aku yakinkan dan sentuh kembali," jawab laki-laki yang tidak lain adalah Reigha.


Nala mendengkus dan memutar bola matanya jengah. "Jangan harap aku mengizinkan ya, Mas. Aku tidak akan pernah membiarkan semua itu terjadi setelah apa yang kamu lakukan padaku dulu," geram Nala menatap Reigha kesal.


Wajah yang semula tersenyum tengil kini berganti menatap Nala sendu dan itu membuat Nala puas karena sudah mematahkan semangat Reigha.


Tanpa mengucapkan sebuah kata, Nala berlalu meninggalkan Reigha yang masih terpaku di samping mobilnya.

__ADS_1


Reigha memegangi dadanya yang mendadak nyeri. Seperti ada sesuatu yang menghimpit rongga dadanya ketika mendengar penolakan Nala secara gamblang.


Namun, Reigha akan terus maju dan jalan terus. Dia yakin bisa mendobrak hati Nala. Jika Nala berhasil direngkuh, Reigha berjanji pada diri tidak akan melepasnya. Reigha sangat mencintai Nala walau Nala seperti enggan untuk membuka hatinya.


Tanpa menunggu persetujuan, Reigha ikut masuk begitu saja. Nala yang sudah duduk kembali di kursinya, menatap kesal pada kedatangan pria tengil tersebut.


"Mau apa kamu, Mas? Siapa yang mengizinkan kamu masuk?" ketus Nala tak suka.


"Woah! Jangan salah paham dulu, Bu. Aku hanya ingin membicarakan tentang acara yang akan dilaksanakan di kantorku. Bukankah asisten Ibu sudah memberitahunya?" tanya Reigha santai dan langsung menududukan diri di kursi yang berhadapan dengan Nala namun berbatasan dengan meja.


Nala menghela napasnya kasar. "Yuna! Rani!" panggil Nala kencang.


Yuna dan Rani yang sedang berada di pantry berlari terbirit-birit menghadap Nala. Tidak biasanya sang Ibu Boss berteriak seperti itu.


"Ada apa Bu? Apa ada yang bisa kamu bantu?" tanya Rani yang sudah menunjukkan batang hidungnya.


Nala menghela napas. "Maaf karena sudah berteriak. Tolong kamu perlihatkan konsep kita pada Bapak ini," ucap Nala sambil menunjuk Reigha dengan suara yang sudah lebih tenang.


Nala kesal sekali melihat Reigha yang dengan seenak jidat mengatur dirinya. "Maaf, saya tidak bisa. Jika Anda ingin memakai jasa disini, silahkan ikuti Peraturan yang ada," jawab Nala teguh pada pendiriannya.


Reigha menatap Nala memicing. Tangannya sudah terlipat di depan dada. "Ya sudah. Kalau begitu aku akan membatalkan kerjasamanya," ancam Reigha yang sayangnya tidak mempengaruhi Nala sama sekali.


Nala tersenyum miring lalu tatapnya tertuju pada Rani dan Yuna. "Rani, Yuna, batalkan kerjasamanya. Kita tidak boleh memaksa bukan?" ucap Nala santai.


Kini Reigha yang gelagapan. Dia mengacak rambutnya kasar lalu berdiri dari duduknya. "Baiklah. Aku akan membahasnya bersama karyawan Anda, Bu," ucap Reigha pada akhirnya.


Yuna dan Rani yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Selalu begitu bila Reigha dan Nala bertemu. Keduanya tentu tahu masalalu dari keduanya. Walau Nala tidak bercerita, ada orang lain yang mengatakannya.


Nala tersenyum puas. "Yuna dan Rani, tolong urus satu orang ini ya? Kalau dia menyusahkan, putus saja kerjasamanya," ancam Nala dengan penuh penekanan.

__ADS_1


Reigha melirik Nala sekilas lalu menghela napas pasrah.


Sore harinya saat Nala pulang bersama anak-anak, mobilnya tidak bisa masuk karena ada mobil yang menghalangi di depan pintu gerbang.


Sebenarnya, pelataran rumah Nala bisa muat dua mobil. Hanya saja, mobil tersebut tidak terparkir dengan benar. Terpaksa Nala dan anak-anak turun di depan rumah.


Saya keduanya berjalan masuk, ternyata Reigha pelakunya. Entahlah mengapa pria itu suka sekali menganggu ketenangan hidupnya. Seingat Nala, mobil Reigha bukanlah yang terparkir di depan sana. Mungkinkah riegsh meminjam milik seseorang?


"Daddy!" pekik Zia dan Zio bersamaan.


"Daddy kapan datang?" tanya Zia heran.


Reigha tersenyum bahagia dan mengacak gemas rambut kedua anaknya. "Baru saja. Daddy tidak berani masuk karena Oma Laras pasti akan memarahi Daddy," jawab Reigha memelas.


Nala memutar bola matanya malas lalu melenggang begitu saja meninggalkan Reigha yang melongo kesal.


Setelah Nala masuk, bu Laras keluar untuk menyambut cucu-cucunya. Namun, alangkah kesalnya beliau ketika mendapati Reigha datang di sore hari. Bukankah dia hanya mengizinkan Reigha datang di pagi hari dan tidak boleh masuk sampai batas pintu masuk rumah?


Ya, selama hampir dua minggu ini Reigha seperti kembali gencar mendekati Nala. Reigha juga tidak sungkan-sungkan untuk mencoba dekat lagi. Walau Bu Laras menolak mentah-mentah niat baik Reigha dengan alasan masih sakit hati pada perlakuan Reigha dulu.


Hal itu nyatanya tidak menyurutkan semangat Reigha.


"Zia dan Zio! Masuk, Sayang. Ini sudah sore, kalian harus segera mandi," ucap bu Laras lembut. Zia dan Zio patuh dan bergegas masuk ke rumah setelah tadi sempat berpamitan dulu pada ayahnya.


Kini, tinggallah Reigha dan bu Laras di pelataran rumah. Entahlah kemana perginya pak satpam yang berjaga.


"Saya kan sudah bilang kalau kamu tidak boleh datang di sore hari. Kamu memang tidak punya muka," ketus bu Laras berucap pedas.


Reigha menanggapi dengan senyum. "Aku tidak bisa, Tante. Tolong izinkan aku untuk mendekati Nala dan anak-anakku kembali," ucap Reigha memohon.

__ADS_1


Bu Laras mendecih lalu tertawa sinis. "Memangnya Nala mau kamu dekati lagi? Tolonglah, harusnya kamu sadar diri. Jangan berharap lebih dalam hubungan ini. Beruntung kami masih mengizinkan kamu untuk menemui Zia dan Zio. Kalau tidak, bisa gila kamu," cibir bu Laras tak sungkan mengatakan kalimat pedas.


Reigha tersenyum kecut. Dalam hati membenarkan ucapan mantan mertuanya itu.


__ADS_2