
Anjani tidak akan pernah menyangka jika Nanta tidak pernah main-main dengan ucapannya. Sore hari setelah pulang bekerja, ada dua mobil yang terparkir di depan rumahnya.Anjani jelas tahu siapa pemiliknya.
Dengan gugup, Anjani memarkirkan motor matiknya lalu berjalan menuju ke dalam rumah. Ruang tamu tampak ramai dari biasanya.
"Assalamualaikum," sapa Anjani pada semua.
Saat tatapannya bertemu dengan mata Nanta, Anjani bisa melihat senyum bangga yang ditunjukkan laki-laki itu. "Sore, Tante," sapa Anjani pada bu Laras lalu menyalami tangannya.
"Sore. Kamu baru pulang ya?" jawab bu Laras dengan pertanyaan. Hal itu membuat Anjani tersenyum lalu mengangguk.
Anjani ingin beralih pada Reigha, namun urung karena dia tidak mungkin salim. Rasanya seperti aneh. Jadi, Anjani hanya menyalami Nala yang tidak lain adalah kakak dari Nanta.
"Duduk dulu, Njan," titah bu Ruri lembut dan Anjani mengambil posisi duduk di samping sang Ibu.
"Kamu pasti terkejut kan, Njan? Mengapa kita semua ada disini?" tanya Nala bermaksud menggoda.
Anjani tersenyum meringis. Sebenarnya, Anjani sudah tidak terlalu terkejut. Hanya saja, rasa gugup seperti sedang menguasai. Setelah ini Anjani akan memarahi Nanta yang tidak mengabarinya terlebih dahulu.
"Kami juga sama terkejutnya. Namun, hal itu tidak menutup rasa bahagia yang kami rasakan. Ibu sangat bahagia mendengar itikad baik yang Nanta inginkan," sambung bu Laras yang membuat perasaan Anjani menghangat.
Dia pikir, akan drama tidak direstui hanya karena status sosialnya yang berbeda. Namun dugaan Anjani salah. Keluarga Nanta seperti tidak mempersoalkan masalah harta.
"Kita langsung saja ke intinya ya?" ucap Reigha yang sejak tadi memberikan ruang pada para wanita untuk bersuara. Setelah semua mengangguk, Reigha mulai membuka pembicaraan lagi.
__ADS_1
"Jadi begini, Bu Ruri. Kedatangan kami kesini tidak lain untuk menemani Nanta mengatakan maksudnya. Kami hanya perantara sedangkan Nanta, dialah yang mempunyai acara ini. Silahkan Nanta, katakan maksud kamu," pinta Reigha pada Nanta setelah panjang lebar berbicara.
Merasa namanya di panggil, Nanta mendongak menatap Anjani yang kebetulan duduk di hadapannya. Namun, hanya berbatasan meja.
Ehem.
Nanta berdehem terlebih dahulu untuk membasahi tenggorokan yang mendadak kering. Jujur, Nanta merasa gugup saat meminta Anjani dengan cara baik-baik. Namun, Nanta terus meyakinkan dalam diri bahwa dia harus berani.
"Jadi begini, Tan, Njan. Maksud kedatanganku membawa keluarga ku tidak lain adalah untuk melamar Anjani. Mungkin Anjani maupun Tante Ruri menganggap semua ini terlalu cepat. Namun, aku sadar bila aku semakin lama, akan semakin banyak ujian juga laki-laki yang mendekati Anjani. Jadi bagaimana? Apakah Anjani bersedia menjadi teman seumur hidupku?" ucap Nanta panjang lebar yang diakhiri dengan pertanyaan.
Nala hampir saja memutar bola matanya ke atas jika tidak ingat dirinya sedang berada di rumah orang lain. Dia tidak menyangka jika Nanta begitu pandai merangkai kata-kata cinta.
"Wah. Kalau itu sih, Tante serahkan semuanya pada Anjani. Dia yang akan menjalani maka dia juga yang harus memutuskan. Kalau Tante sendiri, sudah sangat setuju bila kamu jadi mantuku," ucap bu Ruri terkekeh-kekeh sendiri.
"Jadi bagaimana, Njan? Apa kamu bersedia menjadi teman seumur hidupnya Nanta? Menerima semua kekurangan dan kelebihannya? Kamu tenang saja, Tante sudah sangat setuju bila kelak Nanta bersamamu. Tante sudah cukup mengenal kamu." Bu Laras mencoba meyakinkan Anjani agar gadis cantik itu tidak ragu lagi.
Bu Laras tentu tahu jika Anjani memikirkan banyak hal termasuk kondisi keluarganya. Namun, hal itu tidak pernah menjadi masalah bagi keluarga Bu Laras.
Entah memiliki nasab atau tidak, Bu Laras tidak memusingkan hal itu. Yang terpenting, Anjani memiliki perilaku dan adab yang baik, mencintai Nanta, setia, dan siap menerima bagaimanapun Nanta nantinya.
"Tapi, Tan. Kami dari keluarga tidak berada. Apakah pantas—"
"Kenapa harus tidak pantas? Bagi keluarga kami, cinta tidak memandang harta benda. Yang terpenting adalah, sikap dan perilaku seseorang," sergah Nala sebelum Anjani menyelesaikan kalimatnya.
__ADS_1
"Benar. Kami tidak pernah memandang harta. Asal mau berjuang bersama-sama, tidak mengeluh saat hidup susah, kami akan menerimanya dengan bahagia," imbuh bu Laras seakan mengamini ucapan sang Putri.
"Dan lagi. Aku tidak tahu apakah Nanta sudah menceritakannya atau belum," ucap Anjani lalu kepalanya menunduk dalam.
"Aku ... Bernasab pada ibu. Bagaimana jika saat pernikahan itu digelar, aku hanya akan mempermalukan keluarga kalian?" Anjani mengatakan keresahan terbesarnya yang mengganjal di hati.
Bu Laras tersenyum. "Bagi kami itu tidak masalah. Daripada berbohong masalah wali saat prosesi akad dengan berwalikan ayah biologis mu. Sampai kapanpun pernikahan kalian tidak akan sah jika walinya tidak sesuai. Tetapi jika kamu merasa keberatan, kalian bisa menikah secara pribadi. Kemudian, kita akan mengadakan resepsi." Bu Laras memberikan jalan keluar.
Anjani dan Bu Ruri tersenyum haru. Tidak menyangka akan mendapatkan penerimaan yang sangat baik.
"Baiklah. Aku bersedia." Anjani menjawab tanpa keraguan.
Semua langsung tersenyum bahagia. Tidak ingin menunda terlalu lama, mereka langsung membahas hari pernikahan. Dan dalam waktu dua Minggu, dua keluarga sepakat untuk menikahkan Nanta dan Anjani.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...sssttt......
...coming soon nih.........
...akan rilis besok insyaallah 🌹...
...jangan lupa besok mampir ya hehe...
__ADS_1