Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)

Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)
Bab 126. Ingin pingsan


__ADS_3

Nanta:


Pakailah dress lengan panjang agar nanti kamu tidak kedinginan. Bawa juga jaket, blazer, atau apalah agar bisa menghangatkan tubuh. Setengah jam lagi aku datang.


Anjani mengernyit bingung saat barisan kalimat itu dikirimkan oleh Nanta. "Memangnya dia mau ajak kemana?" tanya Anjani heran.


Walau demikian, Anjani melakukan apa yang diinginkan Nanta. Daripada nanti dirinya salah kostum bukan? Beruntung, Anjani memiliki satu kriteria dress seperti itu. Dress selutut berwarna moka dengan lengan balon panjang.


Anjani menatap dress yang kini sudah berada di tangannya. Itu merupakan dress dari hasil gaji kedua Anjani. Tidak terlalu mahal. Namun, Anjani selalu terkenang setiap kali mengenakan dress tersebut.


Dress tersebut Anjani beli karena harus mengikuti pesta di kantor tempatnya bekerja. Sebagai sekertaris, tentu Anjani ingin tampil dengan baik dan tidak memalukan.


Beruntung, Anjani sudah merias diri. Ya, Walaupun tidak harus glamor. Anjani hanya mengaplikasikan bedak dan lipstik di wajahnya. Setelah itu, sudah. Anjani tidak terlalu suka berdandan heboh.


"Huh! Aku sangat merindukan dress ini," gumam Anjani merasa bangga saat dress tersebut telah melekat di tubuhnya. Anjani hanya perlu menata rambutnya agar rapi lagi.


Terutama bagian poni yang tampak berantakan. Setelah itu, Anjani mengambil salah satu blazer dan hanya membawanya di tangan.


Mengenai alas kaki, Anjani lebih memilih menggunakan sepatu selop yang elegan berwarna hitam mengkilat. Sepatu itu juga Anjani beli saat ada pesta kantornya.


Di tempat lain, Nanta juga sedang sedang bersiap. Dia mengenakan kemeja berwarna navy dipadukan dengan celana bahan berwarna hitam. Nanta ingin tampil dengan baik kali ini.


Setelah memastikan lengkap, Nanta keluar dari apartemennya lalu menuju basemant tempat mobilnya berada. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Nanta melajukan menuju rumah Anjani.


Beberapa waktu kemudian, mobilnya telah sampai. Nanta turun lalu untuk meminta izin terlebih dahulu pada bu Ruri. Bagaimanapun, Nanta tidak ingin bertindak sembrono dengan membawa anak gadis orang tanpa izin.


Tok. Tok. Tok.


Ceklek.


"Eh, ada Nanta. Mau kemana rapi sekali?" tanya bu Ruri langsung mencecarnya dengan pertanyaan.


Nanta tersenyum. Tangannya bergerak untuk menyalami tangan bu Ruri terlebih dahulu. Setelah itu, Dia baru menjawab. "Kalau diizinkan, aku ingin mengajak Anjani keluar sebentar, Tan."


Bu Ruri tampak mengangguk-angguk paham. "Ya sudah. Masuk dulu kalau begitu. Tunggu Anjani sebentar. Mungkin dia sedang bersiap," jawab bu Ruri mempersilahkan Nanta untuk masuk.


menurut. Nanta masuk dan memilih duduk di sofa yang tersedia di ruang tamu. Tidak berapa lama, Nanta mendengar bu Ruri memanggil nama Anjani yang mungkin masih berada dalam kamar.

__ADS_1


"Njan. Nanta datang tuh! Buruan, anak orang kelamaan nunggu!" Pekikan bu Ruri membuat Nanta mengulum senyumnya. Jiwa seorang ibu memang tidak bisa dipisahkan dari namanya berbicara keras atau berteriak memanggil nama anaknya.


Huh. mengingat hal itu Nanta jadi merindukan sosok ibunya. Sabtu depan Nanta akan pulang untuk melepas rindu.


"Sudah lama menunggu ya, Nan?" Suara lembut itu berhasil membuyarkan lamunan Nanta. Dia mendongak dan mendapati Anjani tampil begitu menawan.


Nanta sampai harus berkedip beberapa kali untuk mengembalikan kesadarannya. Anjani terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja. Dan jujur, Nanta terpana untuk kesekian kalinya.


"Sudah siap?" tanya Nanta mendadak gugup.


Anjani mengangguk. "Mau berangkat sekarang atau mau dibuatkan minum dulu?" tawar Anjani dan Nanta menggeleng pelan.


"Tidak perlu."


"Tante? Boleh tidak aku ajak Anjani keluar?" izin Nanta saat melihat keberadaan bu Ruri di ambang pintu. Entah sedang apa ibu-ibu itu.


Bu Ruri tersenyum. "Boleh kok. Cuma, Tante harap jam sepuluh malam Anjani harus sudah di rumah ya," pinta bu Ruri mengajukan syarat.


Nanta mengangguk patuh. "Baik, Tante. Anjani akan pulang sebelum jam sepuluh malam," jawab Nanta setuju.


Nanta tersenyum. "Ke suatu tempat yang indah," jawabnya hanya berupa clue.


Anjani berdecak. "Kenapa jalanan terlihat menyeramkan ya? Belum lagi pohon-pohon yang tumbuh membuatku merinding," racau Anjani yang membuat Nanta terbahak.


"Tenang. Aku tidak akan membawamu ke tempat yang berbahaya. Sebentar lagi akan sampai dan kamu pasti akan terpesona," ucap Nanta misterius.


Anjani menggelengkan kepalanya. Tidak habis pikir karena Nanta membuatnya penasaran setengah mati. Tidak berapa lama, Nanta memutar setir ke kiri dan masuk ke sebuah gedung menara BCA.


Anjani mengernyit heran. Kenapa juga Nanta mengajaknya ke sini?


Kebingungannya terjawab kala Nanta mengajaknya turun dan memasuki gedung. Lalu, Membawanya menaiki lift dan Nanta menekan angka 56. Gedung ini memang sangat tinggi hingga jumlah lantainya sampai berpuluh-puluh.


"Oh, kamu mau ajak aku untuk melihat cityscape Jakarta ya?" tebak Anjani yang membuat Nanta menggeleng tidak habis pikir.


"Apa kamu pernah datang ke kafe itu?" tanya Nanta memastikan.


Anjani menggeleng. "Belum. Sayang sekali uangku digunakan hanya untuk makan di tempat mahal. Walau begitu, aku cukup tahu jika di sana sangat indah. Mengapa kamu tidak bilang sejak tadi sih?" ujar Anjani antusias dengan mata yang berbinar bahagia.

__ADS_1


"Kalau aku kasih tahu, namanya bukan kejutan dong," jawab Nanta sambil tersenyum. Tangannya bergerak mencubit hidung Anjani pelan.


Ting.


Pintu lift berdenting pertanda keduanya telah sampai di lantai yang tingginya luar biasa ini. Setelah melakukan reservasi, Nanta menggandeng tangan Anjani untuk masuk ke dalam.


Mata Anjani terbuka lebar. Merasa bahagia bisa menikmati malam dengan melihat pemandangan kota Jakarta dari ketinggian.


"Nan. Sumpah deh, ini indah sekali. Kamu pasti banyak uang makanya ajak aku kesini," racau Anjani dan Nanta tersenyum lebar.


"Jangan bersikap seperti itu. Bersikaplah elegan. Orang-orang akan memperhatikanmu jika tingkah seseorang mencuri perhatian." Setelah mengucapkan itu, Nanta menarik pinggang Anjani posesif.


Keduanya masih berjalan untuk sampai di meja paling ujung, dimana mereka bisa melihat pemandangan di bawah sana tanpa terganggu. Nanta sengaja memesan meja yang mahal namun pemandangan yang disuguhkan tidak main-main.


Setelah sampai, Nanta menarik kursi untuk Anjani. "Duduklah," titah Nanta lembut dan Anjani menurut.


Nanta juga ikut duduk dan memperhatikan wajah Anjani yang tampak sumringah. "Kamu suka, Njan?" tanya Nanta yang tatapannya berubah sendu.


Cahaya lampu yang temaram membuat suasana malam di kafe tersebut semakin syahdu. Menenangkan dan indah di pandang.


"Anjani mengangguk. "Suka sekali, Nan. Lain kali ajak aku lagi kesini ya," jawab Anjani terkekeh pelan.


"Coba lihat kesana deh," ucap Nanta menunjuk pada pemandangan kota di bawah sana. Sangat indah. Lampu kelap-kelip menghiasi kota Jakarta malam hari.


"Ya ampun, Nan. Ini indah sekali sumpah. Aku akan sangat berterimakasih padamu karena telah mengajakku kesini." Anjani berucap dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Jangan berlebihan. Kamu pantas mendapatkan semua ini."


"Coba lihat kesana, Njan," pinta Nanta lagi sambil menunjuk ke dalam kafe.


Anjani mengangguk dan matanya membelalak lebar. Dia masih mencerna hal apa yang saat ini di alaminya.


Apakah Nanta sedang menembaknya?


Aargh!! Rasanya Anjani ingin pingsan saking bahagianya. Di sana ada beberapa pramusaji yang memegang satu huruf dan merangkainya menjadi kata 'I LOVE U ANJANI'.


Nanta tersenyum menikmati raut wajah Anjani yang begitu terkejut. Nanta berharap, dengan menembak Anjani di tempat umum, resiko ditolak akan kecil.

__ADS_1


__ADS_2