Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)

Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)
Bab 55. Aku mencintaimu


__ADS_3

Hari pernikahan Nala dan Dandy akhirnya tiba. Di pekarangan rumah bu Larasati, dekorasi dan sebagainya telah tersusun indah. Pesta pernikahan dengan teman outdoor itu di dukung dengan cuaca pagi itu yang begitu cerah, seakan ikut menyambut hari bahagia antara Nala dan Dandy.


Semua sudah rapi dengan pakaian yang ditentukan sesuai tema. Zia dan Zio juga sudah rapi dengan pakaian yang hampir sama dengan Nanta, yaitu mirip seperti Bridesmaids. Namun, Nala tidak menggunakan tema seperti itu.


Hari ini Nanta menjadi wali nikah dari Nala. Semua sudah siap dan duduk mengelilingi Nala dan Dandy yang sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan, termasuk Nala. Dia tampil begitu cantik dengan kebaya berwarna putih tulang dan rok jarik yang membuatnya susah berjalan.


Sangat cantik dan menawan di mata Dandy. Hingga Nala sadar bahwa Dandy seperti sedang memerhatikan dirinya. Nala pun menoleh dengan menunjukkan raut herannya.


"Kamu kenapa pucat sekali? Apa aku terlihat seperti hantu dan membuatku ketakutan?" tanya Nala menelisik wajah Dandy.


Dandy tersenyum sendu. "Tidak. Kamu salah besar. Aku hanya kelelahan karena dua hari ini lembur agar bisa pergi berbulan madu denganmu. Aku sedang takjub dengan kecantikanmu yang bagai sang Dewi," ucap Dandy menggombal.


Nala menunduk dan mengulum senyumnya. Dia malu hingga pipinya terasa panas akibat pujian dari Dandy.


Tidak berapa lama, penghulu datang dan mengatakan bahwa akad nikah akan segera di gelar. Nanta sudah duduk di samping pak penghulu sebagai wali nikah Nala. Perasaannya campur aduk antara bahagia dan perasaan yang entahlah.


Sejak tadi Nanta tidak merasa tenang sedikitpun. Harusnya, dia merasa bahagia karena sebentar lagi ada yang akan menjaga kakaknya dengan baik, laki-laki yang begitu mencintai kakaknya.


"Sudah siap, walinya? Bagaimana para mempelai?" tanya pak penghulu menatap Nanta, Nala, dan Dandy bergantian.


Ketiganya sontak mengangguk yakin. Pak penghulu meminta


"Sudah hapal kalimat ijabnya kan, Mas?" tanya pak penghulu lagi yang segera di angguki oleh Nanta.


Kini, pak penghulu beralih menatap Dandy dan menanyakan apakah Dandy sudah hapal akan kalimat qobul. Setelah aman, baru acara akad di mulai dengan Nanta yang menikahkan kakaknya dengan lelaki pilihannya.


Setelah Nanta dan Dandy saling berjabat tangan, Nanta mulau bersuara dengan lantang menikahkan sang Kakak.


"Saudara Dandy Atmajaya bin almarhum bapak Musthofa Atmajaya. Saya nikahkan dan saya kawinkan Anda dengan saudara perempuan saya, Asmaranala Hanindya binti bapak Ramli dengan seperangkat alat sholat di bayar tunai," ucap Nanta lantang hingga membuat semua tamu undangan khidmat menyaksikan janji sakral antara dua manusia yang ingin menjalin ikatan halal.

__ADS_1


Nanta menyentak tangan Dandy yang masih menjabat tangannya agar Dandy segera mengucapkan kalimat qobul.


Nala melirik bingung karena Dandy belum juga bersuara. Saat Nala menoleh, betapa terkejutnya Nala saat melihat hidung Dandy mengeluarkan darah. Mata Dandy nampak terpejam erat.


"Mas?" panggil Nala parau.


Dandy tersenyum dengan mata yang masih terpejam. Semua tamu undangan sudah histeris menyaksikan sang mempelai pria mengeluarkan darah.


"Saya ... terima ... nikahnya ... Asmaranal—"


"Mas Dandy!"


"Dandy!"


Nala menjerit histeris saat tiba-tiba Dandy ambruk ke pangkuannya dengan darah yang segar keluar dari hidungnya. Nala menangis dan sudah tak lagi mendengar teriak histeris yang lain.


Semua kacau dan menyaksikan betapa menyedihkannya nasib Nala saat ini. Sedangkan bu Dian, beliau sudah pingsan saat menyaksikan Dandy tak sadarkan diri. Nala memaksa kesadarannya kembali. Dia mencoba berpikir Wasa dns


"Nanta! Tolong bawa Dandy ke rumah sakit!" teriak Nala karena melihat Nanta yang raganya seperti melayang. Dia terlalu syok dan jiwanya terguncang.


Akhirnya, para tamu undangan membantu mengangkat Dandy sedangkan Nala setia mengikuti kemana Dandy dibawa.


Saat Nala sudah berada di dalam mobil, dia melihat Zia dan Zio dsie balik kaca mobil. Dua anaknya itu tampak kebingungan dengan situasi yang sedang terjadi dengan bu Laras yang setia memeluk dua anaknya.


Saat mobil melaju, Nala bisa melihat bu Dian yang juga dibopong ke dalam mobil di belakang mobil yang membawanya, untuk dibawa ke rumah sakit juga.


Nala menatap pilu pada diri sendiri lalu menatap wajah Dandy yang kepalanya berada di pangkuan dirinya. "Cepatlah, Nan! Kita harus sampai di rumah sakit dengan segera!" titah Nala panik dengan air mata yang tidak berhenti menetes.


Nanta hanya diam dan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia masih terlalu syok dengan situasi yang sedang menimpa dirinya.

__ADS_1


Hingga tidak berapa lama, mobil akhirnya tiba di pelataran rumah sakit. Nala membuka pintu mobil dns berteriak kencang agar ada petugas rumah sakit yang segera membawanya brankar untuknya.


"Suster! Dokter! Tolong!" teriak Nala pilu dengan suaranya yang parau. Riasan di wajahnya sudah tak lagi berbentuk karena terbawa arus air mata yang masih saja mengaliri pipi.


Nanta membantu petugas dan suster rumah sakit untuk membopong tubuh Dandy. Hingga tubuh itu sudah terbaring di atas brankar, Nala ikut mendorong memasuki lorong ruang sakit menuju ruang UGD.


Hanya doa dalam hati yang senantiasa Nala panjatkan untuk keselamatan calon suami. Bahkan, karena terlalu lebar dan terburu-buru melangkah, kain jarik yang digunakan Nala sedikit robek hingga Nala bisa dengan leluasa melangkah.


"Mas? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa semuanya tiba-tiba?" racau Nala tidak terarah.


Mereka berpisah di depan ruangan dan tidak mengizinkan Nala maupun Nanta masuk. Nala ingin memaksa, namun tubuhnya tertahan oleh tangan kokoh milik Nanta.


"Istighfar, Mbak. Kita berdoa saja semoga mas Dandy tidak kenapa-napa," ucap Nanta menenangkan.


Setelah pintu ruangan tertutup, Nala terduduk lemah di lantai rumah sakit yang dinginnya menusuk kulit. Nala menekuk dua lulutnya dan menumpuk dua lengannya disana.


Nala menenggelamkan wajah di tumpukan lengan dan menangis tersedu-sedu. Nanta menatap pilu dengan kondisi fisik kakaknya yang sudah berantakan. Lalu, bagaimana dengan hatinya?


Tanpa terasa, air mata Nanta jatuh. Dia ikut duduk di samping Nala dan memeluk tubuh ringkih sang kakak dan menggumamkan sebuah kalimat, "Semua akan baik-baik saja, semua akan baik-baik saja."


Namun pada kenyataannya, hal itu tidak mampu mengikis rasa takut yang mendera hati Nala, tidak mampu memadamkan gemuruh di dada, dan tidak mampu membuat Nala tenang sedikit saja.


Nala takut.


Takut sesuatu yang ada di pikirannya akan terjadi sebelum dia benar-benar mengutarakan isi hati pada sang calon suami.


Aku mencintaimu, mas Dandy. Ku mohon bertahanlah. Gumam Nala dalam hati.


Begitu juga dengan Nanta, hatinya sedang berkecamuk. Apakah ini yang aku takutkan sejak tadi? Apakah ini alasan yang membuatku ketakutan sejak tadi? batin Nanta terus saja bertanya.

__ADS_1


__ADS_2