Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)

Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)
Bab 36. Di luar kendaliku


__ADS_3

Nala menyalami bu Nilam dan pak Prabu setelah berada di ruang tamu. Nala mengulas senyum terbaiknya untuk menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja setelah berpisah dari Reigha.


"Nala? Kamu apa kabar? Sudah lama tidak bertemu membuatmu semakin cantik saja," ucap bu Nilam berkaca-kaca saat Nala menyalami dan mencium punggung tangannya.


Nala tersenyum lebar. "Kabar Nala baik, Tante. Aku harap, kabar Tante juga baik," ucap Nala tersenyum kemudian beralih menyalami tangan pak Prabu.


"Semakin bertambah umur semakin terpancar juga aura posiitifmu, La," ucap pak Prabu merasa bangga dengan mantan menantunya.


Nala tersenyum menanggapi kemudian mengulas senyum saat tatapannya bertemu dengan Reigha. Setelah duduk di samping sang ibunda, Nala kembali bersuara.


"Bagaimana kabar perusahaan selama empat tahun belakangan ini, Om?" tanya Nala mencoba menghilangkan kecanggungan yang sempat tercipta.


"Baik dan stabil. Bagaimanapun, Om akan menjaga usaha yang sudah Om rintis sejak masih muda dan belum ada Reigha," ucap pak Prabu yang sayangnya berhasil membuat Reigha tersindir.


Reigha menunduk lesu. Sejak kejadian empat tahun silam, papanya menjadi lebih ketus dan suka menyindir.


Nala mengangguk tanda mengerti. Tidak lupa, Nala juga mengulas senyumnya.


"Nala?" panggil bu Nilam lembut dengan pandangan yang menoleh pada pintu halaman belakang.


"Iya. Tante butuh sesuatu?" tanya Nala ramah.


Bu Nilam menghela napasnya pelan. Mengapa panggilan tante yang Nala sematkan begitu mengganggu perasaan? Harusnya Bu Nilam tidak boleh terbawa perasaan. Memang sudah seharusnya Nala memanggilnya dengan sebutan Tante dan bukan mama lagi.


"Dimana mereka? Cucu kami? Bolehkah kami melihatnya?" tanya bu Nilam dengan penuh pengharapan.


Nala tersenyum. "Tentu saja. Sebentar, akan aku panggilan dulu ya?" jawab Nala anggun kemudian segera berlalu dari hadapan semua.


Tidak berapa lama, Nala kembali bersama Zia dan Zio yang berjalan lebih dulu dengan sedikit berlari.


"Daddy!" pekik Zia dan Zio hampir bersamaan kemudian langsung berhambur memeluk Reigha. Sedangkan Reigha, dia tersenyum lebar lalu membalas pelukan itu dengan erat namun tetap lembut.


Nala tersenyum tipis saat melihat dua anaknya yang sudah begitu dekat dengan Reigha padahal mereka baru bertemu sekali dan itu tidak lama. Mungkin, karena ikatan batin ketiganya begitu kuat.


"Zia, Zio! Ini adalah Oma dan Opa kalian. Salim dulu, Sayang," pinta Nala lembut yang segera di laksanakan oleh keduanya.


Bu Nilam menangis bahagia saat Zia dan Zio mendekatnya. Dan air matanya semakin deras ketika Zia dan Zio bergantian mencium punggung tangannya.


Bu Nilam memeluk keduanya lembut. "Nama kalian Zia dan Zio ya? Nama yang bagus untuk cucu-cucu, Oma," ucap bu Nilam menangis haru.

__ADS_1


"Oma kenapa menangis? Zio juga sering melihat Mommy menangis," ucap Zio polos.


Nala hanya meringis karena Zio sudah membongkar rahasianya selama ini.


"Benarkah? Kenapa Mommy menangis?" tanya bu Nilam pura-pura terkejut.


"Kata Mommy ada yang meminta mainan Mommy dan itu membuat Mommy bersedih," sahut Zia tidak mau kalah berebut perhatian dari Omanya.


Semua mata langsung tertuju pada Nala yang kini masih berdiri. Nala membuang pandangan agar tatapnya tidak bertemu dengan salah satu pasang mata yang kini sedang memandangnya penuh selidik.


Nala menghembuskan napasnya pelan. "Zia dan Zio, salim juga dengan Opa ya?" ucap Nala mencoba mengalihkan perhatian semuanya.


Menurut. Dua anak itu mendekat pada pak Prabu. "Hai Opa? Kenapa mata Opa memerah? Apakah Opa juga kehilangan mainan seperti Mommy?" tanya Zia dengan polosnya.


Pak Prabu tersenyum lalu menggeleng. "Tidak. Opa hanya sedang menangis bahagia," jawab pak Prabu kemudian menyeka air mata yang tiba-tiba lolos begitu saja.


"Mommy kenapa tidak bilang kalau Zia masih mempunyai Oma dan Opa yang lain?" tanya Zia dengan raut wajah cemberut.


"Iya. Mommy cuma menunjukan foto Daddy saja waktu di Singapura. Kenapa tidak menunjukkan foto Opa dan Oma?" Kini giliran Zio yang bersuara.


Nala gelagapan. Nala yakin, ucapan Zia dan Zio akan semakin membuat Reigha besar kepala. Nala mengambil duduk di samping ibunya. "Kan Mommy tidak punya foto Oma dan Opa," jawab Nala masuk akal. Zia dan Zio mengangguk tanda mengerti.


Nala menyenggol lengan Ibunda saat tidak ada tanda-tanda bu Laras akan menjawabnya. Nala bisa mendengar hembusan napas kasar setelah dirinya berhasil menyenggol.


"Boleh. Kita ke kamarku saja," jawab Bu Laras berdiri lebih dulu yang kemudian segera diikuti oleh bu Nilam.


Nala menatap sendu kepergian dua ibu yang dulu pernah begitu dekat. Kini, Nala melihat ada jarak tak kasat mata yang membuat keduanya kini terlihat canggung.


"Zia, Zio? Ikut Opa main di luar yuk?" ajak pak Prabu lembut.


Zia dan Zio sontak menoleh pada Nala untuk meminta persetujuan. Setelah Nala memberi isyarat anggukan, keduanya bersorak gembira.


"Yeay! Boleh jalan-jalan sama Oma ke Indoapril tidak, Mom?" tanya Zia antusias.


Nala menghela napas pelan. "Opa kan belum minum. Jadi, main saja di depan rumah ya," jawab Nala lembut. Si kembar mengangguk patuh. Namun, pak Prabu merasa tidak tega ketika menangkap raut kecewa di wajah cucu-cucunya.


"Om bisa minum nanti. Lagian, Om juga baru saja sarapan. Bolehkah jika Om mengajak mereka jalan-jalan?" tanya pak Prabu meminta izin.


"Bagaimana jika Om kerepotan? Mereka begitu aktif," jawab Nala mengungkapkan kekhawatirannya.

__ADS_1


Pak Prabu tersenyum. "Tidak akan. Ayo Zia dan Zio, kita jalan-jalan dan beli sesuatu ke IndoApril," ajak pak Prabu dan si kembar langsung memekik girang.


Nala geleng-geleng kepala kemudian kembali duduk di kursinya. Kini tinggallah Nala dan Reigha yang berada di ruangan tersebut.


Nala balas menatap Reigha yang sejak tadi tidak pernah lepas menatapnya. Ya, Nala tentu tahu jika sejak tadi Reigha memperhatikan dirinya.


"Mau minum apa? Aku akan suruh Bibi untuk mengambilkan minum," ucap Nala kemudian segera beranjak.


"Nala?" panggil Reigha yang membuat Nala menghentikan langkah.


"Kenapa?"


"Bisakah aku membawamu bersama anak-anak untuk kembali?" tanya Reigha dengan tak tahu malunya.


Nala tersenyum sinis. "Kenapa harus kembali?" jawab Nala yang justru balik bertanya.


"Apakah kamu percaya jika aku mengatakan bahwa aku sangat menyesal. Aku merasa kehilangan setelah kamu pergi," tanya Reigha terdengar perih.


Nala menggeleng kencang. "Kenapa aku harus percaya pada pengkhianat? Aku rasa, itu hanya akan membuang-buang waktuku," jawab Nala tersenyum lebar kemudian segera berlalu dari sana. Reigha menatap kecewa pada punggung Nala yang mulai menjauh.


Jadi, beginilah rasanya diabaikan oleh seseorang yang dicintai?


Tidak berapa lama, Nala kembali dengan kedua tangannya yang sibuk membawa nampan berisi teh hangat dan beberapa camilan.


"Silahkan di minum, Mas. Aku akan suruh Nanta untuk menemanimu duduk disini. Aku masih ada urusan yang belum selesai," pamit Nala yang tidak mau berlama-lama ada di dekat mantan suaminya itu.


Walau kecewa, Reigha tetap mengangguk dan mempersilahkan Nala berlalu. Dia tidak ingin memaksa Nala untuk mau kembali padanya dengan cepat.


"Bolehkah aku berusaha untuk membuatmu jatuh cinta lagi padaku?" tanya Reigha penuh harap saat Nala sudah berjalan memunggunginya.


Nala menghentikan langkah. "Itu di luar kendaliku, Mas," jawab Nala kemudian kembali melanjutkan langkah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...jangan lupa kasih dukungannya ya😘...


...mampir juga kesini yuk 👇...


__ADS_1


__ADS_2