
"Jadi, apa yang terjadi? Apa ada yang melukai kamu?" tanya Nanta penuh perhatian. Tangannya bergerak untuk menyingkirkan anak rambut yang menghalangi pandangan Rose.
Rose membalas tatapan Nanta sama lekatnya. Dia tidak tahu harus memulai darimana. Semua terjadi sangat cepat dan Rose tidak bisa menolak.
"Aku mau hubungan kita berakhir," ucap Rose datar.
Hal itu membuat Nanta mematung di tempat. "Maksud kamu apa? Kamu sedang bercanda kan?" tanya Nanta lagi, enggan untuk percaya dengan keputusan Rose.
Namun, hal itu segera dibantah oleh gelengan kepala Rose. "Aku serius. Aku ingin hubungan kita selesai sampai disini," ucap Rose penuh penekanan.
Nanta terperangah. Tidak percaya dengan pendengaran sekaligus ucapan Rose yang tidak masuk akal. Bukankah kemarin hubungan keduanya baik-baik saja? Bahkan sampai hari ini.
"Tapi kenapa? Kenapa kamu tiba-tiba menginginkan hubungan kita berakhir? Apa aku membuatmu terluka secara tidak sengaja? Atau aku datang terlambat saat kamu memintaku untuk bertemu? Tolong maafkan aku. Tapi tolong, jangan akhiri hubungan ini. Aku sedang berjuang agar bisa memintamu pada kedua orangtuamu nanti," racau Nanta panjang lebar.
Hal itu justru membuat Rose kembali menangis. Rasa bersalah sekaligus sakit di hatinya semakin jelas adanya. Dia sama terlukanya dengan keputusan ini. Tetapi, Rose tidak punya pilihan lain. Ayahnya sedang membutuhkan pengorbanan dirinya.
"Rose. Jangan menangis. Katakan semuanya padaku. Apa ada masalah?" cecar Nanta lagi.
Rose tersadar lalu menghapus air matanya. Dia harus bersikap tenang di depan Nanta. "Aku sudah mempunyai calon suami," ucap Rose yang membuat Nanta bagai tersambar petir.
Ada yang retak tapi bukan benda. Nanta seperti merasakan hatinya patah. "Apa maksud kamu?" tanya Nanta penuh intimidasi. Dia marah. Mengapa Rose membohongi dirinya.
"Aku sudah mempunyai calon suami. Dua bulan lagi aku akan menikah. Papa menjodohkan aku dengan anak sahabatnya yang sudah berjasa dalam membesarkan perusahaan. Aku tidak bisa menolak. Papa begitu menaruh harapan padaku," ungkap Rose yang berhasil menghantam nyawa Nanta hingga terasa melayang.
Dijodohkan?
Dengan anak sahabat papanya?
Tapi kenapa?
Bukankah selama ini papanya Rose sudah mengetahui hubungannya dengan sang Anak?
"Siapa nama lelaki itu?" tanya Nanta yang wajahnya kini berubah dingin.
__ADS_1
Rose menatap Nanta yang kali ini membuang pandangan. Dia tahu, kekasihnya itu kecewa. "Rendra," jawab Rose pada akhirnya.
Nanta mengangguk-angguk kepala paham dan Rose menangkap aura yang kurang baik dari raut laki-laki di sebelahnya.
"Aku mohon, jangan lakukan apapun. Aku sudah menerima perjodohan ini. Rendra baik dan katanya, dia juga sudah mulai menyukaiku," jelas Rose berusaha menenangkan Nanta.
Dada Nanta sesak rasanya ketika mendengar kenyataan bahwa kekasihnya memuji laki-laki lain di hadapannya. "Kamu bahagia?" tanya Nanta dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Tatapannya memandang mata Rose dengan lekat.
Dengan pelan, Rose mengangguk. "Aku harus bahagia, Nan. Begitu juga kamu," jawab Rose lirih.
Nanta menghela napasnya kasar. "Tetapi, mengapa harus begini? Bukankah kamu bisa menolaknya? Bukankah Papamu sudah mengetahui hubungan di antara kita?" ucap Nanta mengungkapkan sebuah tanya yang kini hinggap di pikiran.
"Iya. Papa juga tidak bisa berbuat apa-apa ketika sahabatnya datang dan menawarkan hubungan besan. Papa tidak berdaya karena sahabatnya itu yang telah menolong di masa tersulit Papa," ungkap Rose lagi.
Nanta sekarang tahu, bahwa tujuan dari pernikahan itu adalah karena balas budi. Rose pasti akan berjuang untuk mencintai suaminya kelak.
Nanta mengusap wajahnya kasar. "Bolehkah aku meminta pada Papamu agar semua dibatalkan? Apapun itu akan aku lakukan, Rose," mohon Nanta sarat akan luka.
Rose menggeleng. "Tolong jangan lakukan apapun. Aku sudah menerima perjodohan ini. Apapun itu akan aku jalani. Walau aku tahu, aku harus belajar mencintai Rendra yang sebentar lagi akan menjadi suamiku," ucap Rose panjang lebar dan Nanta mencoba meresapi setiap kata-kata yang keluar dari mulut sang Kekasih.
"Jadi, kamu datang kesini bersama dia?" tanya Nanta lagi-lagi terdengar terluka.
Rose mengangguk. "Maafkan aku, Nan," jawab Rose kemudian ingin keluar dari dalam mobil. Namun, Nanta segera mencegahnya dengan menarik pergelangan tangan sang Gadis.
"Bolehkah aku memelukmu? Untuk yang terakhir kalinya?" izin Nanta penuh permohonan.
Rose menangis namun dengan bibir yang mengukir senyum. Tanpa menunggu waktu lebih lama, Rose segera berhambur ke pelukan laki-laki yang sampai saat ini masih menghuni relung kalbunya.
"Carilah kebahagiaanmu, Nan. Aku juga akan melakukan hal yang sama meski bukan lagi denganmu," ucap Rose menangis dalam pelukan Nanta.
Tanpa terasa, setitik air mata jatuh dari sudut mata Nanta. Dia terluka atas perpisahannya dengan Rose yang terbilang tiba-tiba. Kemarin, hubungannya masih baik-baik saja. Nanta ingin memberontak atas keputusan sepihak yang Rose lakukan.
Namun, Nanta tidak berdaya dan hanya bisa menuruti permintaan Rose. "Jangan pikirkan aku. Pikirkanlah dirimu sendiri. Setelah ini, kamu harus berjuang untuk mencintai orang baru. Kamu harus tahu konsekuensinya, Rose," nasehat Nanta yang mendapatkan anggukan dari Rose.
__ADS_1
"Pasti, Nan. Aku tahu setelah ini perjuangan hidupku tidak akan mudah. Tapi aku percaya, semua akan baik-baik," jawab Rose menenangkan.
Setelah itu, Rose benar-benar pergi bukan hanya meninggalkan Nanta. Namun, Rose juga membawa separuh hatinya. Ada yang mendadak kosong ketika melihat punggung Rose yang menjauh. Nanta hanya bisa menatap dari kejauhan pada kepergian Rose bersama pria bernama Rendra.
Pria yang akan menggantikan posisinya di hati Rose. Semoga. Hanya kata itu yang terucap di hati Nanta. Dia akan berdoa untuk kebahagiaan Rose bersama calon suaminya.
Semoga Rose bisa menemukan kebahagiaannya sendiri. Walau pada kenyataannya, Nanta juga harus tertatih merakit utuh hatinya.
Nanta mulai menjalankan mobilnya tak tentu arah. Entah sudah putaran ke berapa, rasa-rasanya sudah lebih dari dua puluh kali Nanta memutari taman kota.
Merasa buang-buang waktu, Nanta menepikan mobilnya di pinggir taman untuk sekedar menikmati pemandangan kota di malam hari. Dia sudah tidak peduli pada ponselnya yang sudah menampakan jendela pop up ratusan pesan dari ibunya. Belum lagi ada puluhan panggilan tak terjawab dari beberapa orang terdekatnya.
Nanta ingin tenang malam ini.
Namun, belum sempat Nanta memarkirkan mobil, dari arah belakang terdengar bunyi gedebrak, seperti benda yang menabrak mobilnya.
Nanta keluar. Dia tidak marah atas kejadian barusan. Dia hanya terkejut dan takut terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan.
"Maaf, Pak. Maaf. Nanti akan saya ganti rugi. Saya tidak sengaja karena Bapak sejak tadi menyetir sangat lambat dan tidak menghidupkan lampu sein," ucap seorang gadis sambil menunduk.
Nanta mengabaikan lolongan gadis tesebut dan melihat kondisi mobilnya yang rangsek namun tidak terlalu parah. Mungkin, motor yang dikendarai gadis tersebut tidak menggunakan kecepatan tinggi.
"Tidak apa-apa. Maaf karena ini juga kesalahan saya," jawab Nanta mengakui kesalahan. Dia melamun sepanjang mengemudikan mobil.
Sang gadis mendongak saat mendengar suara yang sudah tidak asing lagi di telinga. Ketika gadis itu mendongak, Nanta bisa melihat dengan jelas wajah pelaku penabrakan mobilnya.
"Anjani?"
"Nanta?"
Keduanya sama-sama terkejut hingga tanpa sadar mengucapkan nama satu sama lain secara bersamaan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1