
"Kalau boleh tahu, ayah kamu dimana, Njan?"
Nanta benar-benar menyesal menanyakan hal itu karena rust wajah Anjani mendadak murung. Secepat kilat, Nanta segera mengimbuhkan ucapannya.
"Maaf jika pertanyaanku menyinggung. Lupakan saja dan tidak perlu kamu jawab," ucap Nanta pada akhirnya.
Anjani tersenyum sendu. "Tidak apa-apa. Semua orang pasti bertanya dimana ayahku. Termasuk kamu kan?" Anjani berbesar hati untuk menceritakan keluarganya yang mungkin saja dianggap berantakan oekh kebanyakan orang.
Nanta semakin merasa bersalah. "Tidak perlu kamu jelaskan jika itu hanya akan menyakitimu," sergah Nanta tidak ingin membuat Anjani membuka tentang keluarganya.
Nanta tidak pernah tahu bagaimana kehidupan Anjani yang dulu. Pasti akan sangat berat ketika menceritakan kenangan pahitnya. Nanta jelas bisa menabk bahwa ayah Anjani mungkin sudah tiada atau pergi entah kemana selreh bercerai dengan ibunya.
Mata Anjani melirik ke arah dapur dimana ibunya belum menampakkan diri. "Lain kali aku akan ceritakan. Bukan sekarang. Aku takut hal ini akan membuat ibu terluka jika mendengarnya," ucap Anjani setengah berbisik.
Nanta tersenyum dan mengangguk. Tidak berapa lama, ibunya Anjani datang dengan membawa nampan di tangannya. "Ini, Silahkan di minum dulu," ucap ibunya Anjani yang bernama Ruri.
"Tidak perlu repot-repot, Tan. Aku hanya sebentar," jawab Nanta merasa tidak enak hati.
__ADS_1
"Kamu seperti dengan siapa saja." Bu Ruri berucap sambil geleng-geleng kepala.
"Tapi maaf ya, Nan. Tante mau pergi habis ini ke rumah tetangga. Ada arisan ibu-ibu kompleks," beritahu bu Ruri.
Nanta mengangguk saja. Merasa tidak masalah karena dirinya bukan tamu agung.
"Kenapa ibu tiba-tiba ada arisan? Perasaan, sekarang hari Senin loh. Bukannya ibu ada arisan mingguan setiap hari kamis ya?" Anjani tidak habis pikir dengan jalan pikiran sang Ibu. Anjani tahu, sang ibu sedang memberikan waktu dirinya dan Nanta.
"Ya ... Namanya juga pindah hari, Njan. Emak-emak kan memang suka begitu." Bu Ruri berucap sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Merasa bahwa rencananya sudah diketahui oleh sang putri.
Anjani menghela napas pelan dan memutar bola matanya jengah. Elasu demikian, Anjani tetap membiarkan sang Ibu pergi. Kini, hanya ada Nanta dan Anjani di ruang tamu tersebut.
Nanta terkekeh lalu dengan spontan mengacak rambut sang gadis cantik di sebelahnya. "Mandi gih," jawab Nanta yang hanya diangguki oleh Anjani.
Secepat kilat Anjani masuk ke kamarnya dan menutup pintu rapat-rapat. Punggungnya dia sandarkan di daun pintu dan tangannya menyentuh bagian dada. Ada debaran yang tak menentu ketika mendapat perlakukan manis dari Nanta.
Anjani juga bisa merasakan pipinya memanas. Jika tak kunjung pergi dari dekat Nanta, bisa-bisa pipinya sudah menjadi kepiting rebus.
__ADS_1
"Kenapa rasanya aneh sekali. Jantungku mulai memompa tidak karuan saat ada Nanta. Apakah ini yang namanya jatuh cinta?" gumam Anjani dengan perasaan yang sudah sekali dijabarkan.
Ada rasa bahagia saat melihat Nanta ada di dekatnya. Ada secuil rindu yang hinggap ketika sehari saja tak melihat. Walau belum pernah berpacaran, Anjani tidak bodoh untuk menyadari perasaanya sendiri.
Ini sudah tidak normal.
Untuk menghilangkan rasa gugup juga rasa malunya, Anjani bergegas masuk ke kamar mandi. Dia harus segera mengguyur tubuh agar pikirannya kembali jernih dan tidak terkontaminasi virus Nanta.
Sedangkan Nanta, dia menatap tangannya sendiri. Tangannya itu tidak bisa untuk tidak bergerak menyentuh Anjani. Setiap kali melihat wajah cantik Anjani, tangannya selalu gatal ingin mengacak rambut halus milik sang Gadis.
Damn it! Nanta mengumpati dirinya sendiri. Maksud hati ingin mencoba menjalin kedekatan yang natural demi kepura-puraan, Nanta merasa dirinya kena batunya sendiri.
Sosok Anjani seperti memiliki magnet yang kuat untuk menarik Nanta hingga selalu ingin berdekatan dengannya.
Sambil menggelengkan kepala, Nanta tersenyum sendiri. "Tidak mungkin aku jatuh cinta bukan? Bisa saja aku hanya sedang mencari pelarian setelah ditinggal Rose. Tidak mungkin aku bisa meluapkan dalam kurun waktu yang cukup singkat," gumam Nanta mencoba berpikir logis.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1