Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)

Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)
Bab 108. Gara-gara cangkang cabe


__ADS_3

Suasana restoran yang Nanta datangi cukup ramai pengunjung. Kebanyakan dari mereka adalah para anak muda yang akan menghabiskan waktu malam minggunya bersama kekasih.


Nanta melirik Anjani ketika ekor matanya melihat kegusaran dari sang Gadis di hadapannya. "Kamu kenapa? Sebentar lagi makanannya akan siap." Nanta menenangkan, mengira bahwa Anjani gelisah akibat lapar.


Dengkusan berhasil Nanta dengar dari Anjani. "Bukan itu. Aku hanya khawatir motorku dicuri. Bagaimana ini? Aku masih belum bisa tenang," ucap Anjani mengatakan kegelisahannya.


Hal itu sontak membuat Nanta tertawa. "Tenang. Motornya sudah terparkir di depan rumah. Ibumu juga sudah menerima motormu," ucap Nanta lalu menunjukkan layar ponselnya.


Anjani terkejut bukan main. "Bagaimana bisa? Kuncinya ada di aku, Nan." Tidak langsung percaya dengan ucapan Nanta.


Nanta kembali tertawa. "Ini mudah untukku. Motormu adalah motor sejuta umat. Banyak duplikatnya," jawab Nanta jumawa.


Anjani mencebikkan bibirnya kesal. Merasa lega karena sudah ada yang mengantar motornya. Kemudian hanya diam yang mengisi suasana di antara mereka. Hingga suara Anjani kembali terdengar memecahkan keheningan.


"Hari pernikahannya tanggal berapa? Aku tidak memiliki gaun pesta. Tidak mungkin aku datang ke acara pernikahan menggunakan pakaian kerja kan?" tanya Anjani beruntun.


Nanta berdecak sebal. "Mana dulu yang harus aku jawab ini?" Balik bertanya adalah solusi bagi Nanta. Pertanyaan Anjani begitu panjang hingga Nanta bingung mau mendahulukan yang mana terlebih dahulu.


Anjani terkekeh pelan. "Tanggal berapa pernikahan mantan kekasihmu itu?" tanyanya kemudian.


"Pokoknya hari sabtu depan. Kebetulan juga, besoknya kamu libur kerja kan? Jadi tidak takut bangun kesiangan," jawab Nanta sambil menaik-turunkan alisnya.


Anjani hanya mengangguk sebagai jawaban. Tibalah seorang pelayan yang membawakan pesanan keduanya. "Silahkan." Terdengar sang Waiters mempersilahkan Nanta dan Anjani untuk menyantap makanan.


Nanta dan anjani serentak mengangguk lalu berkata. "Terima kasih."


"Ini enak. Kamu belum pernah coba kan? Eh, kamu suka makan pedas kan?" tanya Nanta panik. Pasalnya dia belum tahu apakah Anjani bisa makan pedas atau tidak. Melihat Anjani yang tersenyum dan mengangguk, Nanta akhirnya bernapas lega.


"Aku sangat menyukai pedas, its okay," jawab Anjani santai lalu mulai menyendokkan nasi ke mulutnya.


Hal itu juga dilakukan oleh Nanta. "Aku lupa menanyakannya pada tadi. Syukurlah. Bagaimana? Enak kan?" tanya Nanta dengan mata menatap Anjani sepenuhnya.


"Enak. Ini mungkin adalah varian nasi goreng yang belum pernah aku makan. Nasi goreng sambal hijau. Aku biasa makan nasi goreng di pinggir jalan dan rasanya tidak kalah enak," jawab Anjani dengan mulut penuh.

__ADS_1


"Makanlah. Kalau mau nambah, katakan saja padaku. Akan aku pesankan lagi." Nanta berucap lembut dan anehnya, Anjani selalu suka diperlukan dengan baik seperti ini.


Mata Anjani melirik Nanta sekilas yang tampak lahap dengan makanannya. Bibirnya mengulum senyum dan membatin. 'Tampan dan sangat menghargai wanita.'


Nanta selesai lebih dulu lalu menyedot es teh leci miliknya. Sambil menyesap minuman, matanya beralih menatap Anjani yang belum selesai makan.


Pandangan matanya harus terganggu ketika melihat ada cangkang cabai berwarna hijau di sudut bibir Anjani. Tangannya sudah gatal ingin mengelap bibir itu.


Karena masih belum beralih, Nanta justru gagal fokus pada bibir Anjani yang bergerak mengunyah nasi. Nanta menelan saliva. Bibir berpoles lipstik nude itu terlihat sangat menggoda.


Nanta menggelengkan kepala untuk menyingkirkan pikiran buruknya. Itu tidak akan baik jika sampai Nanta kehilangan kendali. Setelah menghembuskan napas, Nanta meraih satu lembar tisu dan mengulurkannya pada Anjani.


Bersamaan dengan itu, Anjani baru saja selesai menghabiskan isi dari piringnya. "Kenapa?" tanya Anjani heran karena Nanta tiba-tiba memberikannya tisu.


"Itu, ada sesuatu di sudut bibirmu."


Setelah Nanta memberitahukan itu, Anjani jadi salah tingkah dan mengusap area bibirnya agar tidak ada yang tertinggal disana. Dia malah menggunakan tangan, bukan tisu yang Nanta sodorkan.


"Itu masih ada," beritahu Nanta gemas karena Anjani malah mengusap bibir sebelahnya yang tidak terdapat cangkang cabe.


Nanta berdecak dan gemas sendiri. Entah mendapatkan keberanian dari mana, Nanta meraih dua sisi wajah Anjani dan mengelapkan tisu di sudut bibir milik gadis tersebut.


Sangat lembut.


Anjani membeku di tempat. Aroma musk dan woody menyeruak ke indera penciumannya. Mata Anjani terbuka lebar saat melihat wajah Nanta yang begitu dekat.


Nanta pun menyadari tindakannya yang spontan itu dan membeku sendiri ketika melihat wajah mungil Anjani dengan jarak yang begitu dekat.


Sangat cantik.


Hidung sedang khas perempuan Asia, wajah putih langsat dan terlihat begitu mulus. Sejenak Nanta terpesona. Nanta baru menyadari jika Anjani adalah perempuan yang cantik.


Belum lagi, mata bulat dengan iris coklat yang begitu jernih itu mampu membuat Nanta betah untuk melihatnya.

__ADS_1


'Sadar Nanta!' ucap mata batin Nanta dan seketika itu juga, Nanta tersadar lalu menjauhkan diri.


"Ma-maaf. Ada cabai di sudut bibirmu," ucap Nanta sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Anjani berdehem untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak kering. "Ti-tidak apa-apa. Terima kasih," jawab Anjani salah tingkah. Wajahnya tampak tersipu dan itu membuat Nanta merasa bahagia melihat rona merah di pipi Anjani.


Damn it! Setelah ini Nanta harus mandi air es agar otaknya bisa berpikir dengan baik. "Sama-sama," jawab Nanta berusaha bersikap sebiasa mungkin.


Setelah selesai makan, Nanta mengantarkan Anjani pulang. Hanya hening yang mengisi suasana di antara mereka. Keadaan terasa canggung gara-gara cangkang cabe hijau.


Anjani menghela napas pelan dan berusaha mencari topik pembicaraan. Dia tidak tahan ada di situasi seperti itu.


"Eh. Ngomong-ngomong, kamu dan mantan pacar kamu sudah menjalin hubungan berapa lama?" tanya Anjani memecahkan kecanggungan.


Sambil menyetir, Nanta menoleh sekilas dan tersenyum. "Empat tahun." Senyum Nanta berubah masam setelah mengucapkannya.


Anjani mengangguk paham. "Kita tidak akan pernah tahu takdir akan membawa hidup kita kemana. Kadang memang harus seperti itu. menjalin hubungan bertahun-tahun eh, giliran nikah justru dengan orang lain." Tidak ada maksud mengejek keadaan Nanta. Anjani hanya mengucapkan banyak kejadian yang sudah ditemuinya di kehidupan nyata.


Nanta menyetujui ungkapan Anjani barusan. Sadar bahwa dirinya bukanlah Tuhan. "Begitulah takdir. Sebaik-baiknya manusia menyusun rencana, tetap Tuhan yang menentukan," jawab Nanta membenarkan.


"Benar. Tugas kita sebagai manusia adalah mengikuti semua yang sudah Tuhan skenario. Mungkin, kita marah dan kecewa karena takdir tidak sesuai harapan. Tetapi, Tuhan tahu jika itu yang terbaik bagi hamba-Nya," sambung Anjani yang membuat Nanta menoleh cepat.


"Ini kamu kan?" tanya Nanta heran.


Anjani mengerucutkan bibirnya kesal. "Ya akulah. Ini adalah sisi lain dariku. Baru tahu kamu?" Dengan jumawa Anjani mengucapkannya.


"Kaya pernah pacaran saja," cibir Nanta memutar bola matanya jengah. Dia tentu tahu jika Anjani belum pernah memiliki kekasih.


"Jadi bagaimana?" tanya Anjani mengabaikan cibiran yang baru saja Nanta layangkan.


Dahi Nanta berkerut dalam. "Bagaimana apanya?"


"Capek? Sudah menjaga jodoh orang selama bertahun-tahun?"

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...



__ADS_2