
Setelah Nala dan Dandy duduk, tidak berapa asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Dandy pun muncul dengan membawa nampan di tangannya. Ada dua es teh dan beberapa camilan ringan yang diletakkan di dalam wadah berukuran sedang.
"Terima kasih, Bi," ucap Nala saat asisten rumah tangga itu menaruh salah satu gelas di hadapannya.
"Sama-sama," jawab asisten rumah tangga tersebut kemudian segera berlalu saat tugasnya sudah selesai.
Kini, tatapan Dandy tertuju pada Nala yang sedang mengedarkan pandangannya pada deretan pot yang terdapat beberapa jenis bunga.
"Itu, Tante Dian yang tanam ya, Mas?" tanya Nala penasaran.
"Iya. Mama sangat menyukai bunga sejak dulu," jawab Dandy tersenyum mengingat bagaimana sang Mama terlihat begitu bahagia bila sedang menyirami bunga-bunganya.
"Nala?" panggil Dandy lembut yang berhasil membuat Nala menoleh dengan alis yang bertaut.
"Kenapa, Mas? Ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan?" tanya Nala ketika melihat raut wajah Dandy yang nampak serius.
Dandy tersenyum hangat kemudian menggapai jemari Nala yang bertumpu di atas meja. Walau terkejut, Nala tidak menarik tangannya kembali agar tidak menyakiti perasaan Dandy.
"Menikahlah denganku. Bukankah satu penghalang dari penolakanmu adalah Mamaku? Kini, mama sudah menerima kamu dengan baik. Apakah kamu bersedia?" ucap Dandy tenang dan begitu yakin.
Matanya tidak pernah berpaling dari mata indah milik Nala.
Nala mengerjapkan matanya beberapa kali untuk mencerna maksud dari ucapan Dandy. "Maksudnya, Mas? Kamu melamarku?" tanya Nala dengan wajah cengonya.
Dandy terkekeh pelan. "Iya. Tapi kecil-kecilan. Lamaran yang sesungguhnya adalah ketika kamu setuju maka aku dan Mama akan ke Bogor untuk menemui ibumu," jawab Dandy dengan telapak tangan yang sudah meremas jemari Nala lembut.
Nala terdiam kemudian mengalihkan pandangan. Hatinya masih saja ragu untuk menjalin hubungan yang baru. Nala akui, Dandy adalah satu-satunya pria yang bisa Nala percaya. Tetapi, apakah selamanya akan seperti itu?
"Kamu ragu padaku?" tanya Dandy dengan raut kecewanya saat melihat wajah Nala berubah gusar.
Nala menggeleng. "Aku hanya ingin meyakinkan diri sendiri bahwa menjalin hubungan dengan orang yang baru bukanlah kesalahan. Beri aku waktu, Mas. Aku butuh berpikir dengan matang untuk masalah ini. Bagaimanapun, cukup sekali aku gagal dan untuk selanjutnya, aku hanya ingin berhasil menjalani sebuah hubungan," jelas Nala yang membuat Dandy bisa bernapas lega.
Tidak masalah jika Nala meminta waktu padanya. Itu lebih baik daripada Nala langsung menolaknya tanpa mau memikirkan matang-matang.
"Jangan lama-lama berpikirnya aku mohon. Lebih cepat lebih baik," ucap Dandy dengan wajah memelas dan suara yang mengayun.
__ADS_1
Nala terkekeh geli, seakan hari ini melihat sisi lain dari Dandy. "Iya. Aku akan meminta waktu dua hari. Aku berjanji akan memberikan jawabannya," jawab Nala yang kini membalas pegangan tangan Dandy di jemarinya.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Reigha sudah datang ke rumah untuk menemui Zia dan Zio. Seperti biasa, Nala akan bersikap cuek dengan kedatangan mantan suaminya itu.
"Selamat pagi, Nala," sapa Reigha saat melihat Nala yang baru saja keluar dari rumah untuk memanaskan motor. Dia akan pergi ke gedung dimana kemarin barang-barang belanjaannya di kirim.
Ada salah satu pegawai bu Laras yang membantu Nala mengurus segala perabotan hasil belanja kemarin.
"Pagi. Sebentar, aku panggilan anak-anak dulu," ucap Nala mengurungkan niat untuk memanaskan motor dan memilih masuk kembali.
"Nala?" panggil Reigha lembut saat Nala sudah berjalan beberapa langkah.
Nala berhenti dan menoleh pada Reigha. "Kenapa?" jawab Nala singkat.
Reigha menghela napas kasar saat Nala masih saja berbicara singkat, padat, dan akurat saat dengannya. "Boleh kita berbicara sebentar?" tanya Reigha meminta izin.
Nala memutar bola matanya jengah. "Mau bicara apa?" tanya Nala lagi cuek.
"Apakah aku tidak punya sedikitpun kesempatan untuk memilikimu lagi? Aku rela melakukan apapun asalkan kamu mau kembali denganku," ucap Reigha bersungguh-sungguh dengan mata yang tak lepas menatap Nala lekat.
Nala menghela napasnya lelah. "Jangan pernah menanyakan hal yang kamu sudah tahu jawabannya. Aku tidak akan memberikanmu kesempatan kedua," jawab Nala dengan wajah yang mendadak murung.
"Kenapa? Apa karena sudah ada Dandy?" tanya Reigha dengan sorot mata yang tak terbaca. Dia kini berjalan mendekati Nala. Nala mundur beberapa langkah ketika dada bidang Reigha menyentuh keningnya.
Nala mendadak takut ketika Reigha menatapnya dengan sorot mata tajam dan penuh amarah. "Memangnya, apa yang salah dengan Dandy?" tanya Nala balik dengan memberanikan diri menatap mata Reigha.
"Dandy adalah sahabatku. Ayolah, La. Kenapa harus dia? Kamu boleh menikah lagi asalkan jangan Dandy orangnya," kesal Reigha frustasi. Bahkan, kini tangannya sudah bergerak untuk menjambak rambutnya frustasi.
Nala menaikkan satu alisnya lalu mengeluarkan smirk tipis. "Tidak ada yang salah dari Dandy. Dia laki-laki mapan dan sayang dengan Zia juga Zio. Bahkan, kedekatan mereka sudah di bangun sejak Zia dan Zio masih bayi. Jadi, aku rasa Dandy adalah ayah sambung yang cocok untuk Zia danmmph—"
Bibir Nala langsung dibungkam ciuman oleh Reigha. Merasa tidak terima, Nala mendorong dada Reigha sekuat tenaga agar menjauh. Sungguh, laki-laki di hadapannya sangat kurangajar.
"Hmmmph!!"
Nala memberontak dengan memukul dada Reigha kencang.
__ADS_1
Reigha merasa marah dan tidak terima saat Nala menyebut Dandy adalah ayah yang tepat untuk kedua anaknya. Reigha tidak rela.
Hingga dia terpaksa membukam bibir Nala agar tidak lagi membicarakan tentang Dandy. Reigha akui, dirinya sudah kalah dalam hal memperebutkan Nala dari segi masalalunya yang pernah menyakiti Nala. Tetapi, Reigha ingin Nala memberikannya waktu untuk memperbaiki semua.
Namun, dirinya masih saja di acuhkan dan Nala semakin memberi jarak di antara dirinya.
"Daddy! Apa yang Daddy lakukan pada Mommy!" pekik suara yang diduga adalah milik Zia.
Sontak hal itu membuat Reigha melepaskan ciumannya pada Nala. Setelah ciuman terlepas, Nala tanpa ragu melayangkan tangannya untuk menampar pipi pria kurangajar di hadapannya.
PLAK!
"Mommy!" Kini giliran Zio yang berteriak ketika menyaksikan ibunya menampar sang Ayah.
Bu Laras yang berniat membawa si kembar untuk keluar pun melihat apa yang dilakukan Nala.
Nala menatap nyalang pada Reigha karena sudah melecehkannya. Dengan dada yang naik turun, Nala kembali berucap. "Jangan kurangajar kamu! Memangnya siapa kamu berhak mengatur hidupku! Dasar laki-laki tidak tahu diri!" ucap Nala meneriaki wajah Reigha untuk meluapkan amarah yang menyerang di rongga dada.
Tanpa terasa, air mata Nala luruh begitu saja hingga tidak terbendung. Nala kecewa dan begitu sakit hati dengan perlakuan Reigha. Nala menutup mulutnya kemudian segera berlari memasuki rumah, mengabaikan keberadaan anak-anak dan ibunya.
Reigha hanya bisa menatap nanar kepergian Nala tanpa bisa mencegah. Dia masih terlalu terkejut dengan tamparan yang Nala berikan. Ini kali pertamanya dalam hidup Reigha di tampar oleh seorang wanita.
Dan itu semakin menyakitkan ketika pelakunya adalah orang yang Reigha cinta.
'Apakah dulu Nala merasa sesakit ini ketika aku tampar hanya demi Sandra?' batin Reigha bertanya.
Ini bukan tentang bekas kemerahan di pipi. Melainkan tentang luka di hati yang sakitnya lebih parah daripada sekedar luka fisik berupa bekas kemerahan.
Luka fisik mungkin akan lebih cepat disembuhkan. Sedangkan luka hati, butuh proses dan itu memakan waktu yang kita tidak tahu kapan sembuh itu tiba. Tergantung bagaimana diri kita menghadapinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
jangan lupa kasih dukungannya ya😍
mampir juga ke karya aku yang baru yuk🙈🙈👇
__ADS_1