Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)

Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)
Bab 98. Bermain api


__ADS_3

Acara syukuran rumah baru Nala dan Reigha akhirnya berjalan lancar. Hampir semua keluarga yang di undang menghadiri acara tersebut.


Saat ini, semua sedang makan-makan setelah baru saja selesai dalam sesi berdoa. Nala tersenyum bahagia dan mencari keberadaan suaminya yang entah pergi kemana.


"Ma? Lihat mas Reigha tidak?" tanya Nala pada bu Nilam.


"Keluar tadi, La. Paling di teras belakang sama dua temannya," jawab bu Nilam sambil dagunya mengendik ke arah taman belakang.


Nala mengangguk dan menggumamkan terima kasih pada sang Mama. Setelah itu, Nala pamit untuk menyusul Reigha.


Saat sudah sampai di teras belakang rumahnya, Nala bisa melihat sang suami yang sedang menghisap batang rokok dengan asapnya yang mengepul di udara.


"Mas Reigha!" pekik Nala kesal.


Reigha menoleh saat mendengar suara istrinya yang berteriak. Dia mengeluarkan cengiran kudanya karena sudah tertangkap basah sedang merokok.


"Aku tinggal dulu ya? Mau menghadapi singa betina," gumam Reigha menginterupsi dua temannya.


"Santai, Bro. Aku maklum karena kamu sudah ada pawangnya," goda salah satu teman Reigha yang tidak terlalu Nala tahu.


Setelah berdiri dan membuang putung rokoknya di tempat sampah, Reigha menghampiri sang istri yang wajahnya tampak bersungut kesal. "Aku hanya coba sedikit," ucap Reigha tersenyum geli.


"Tidak lucu, Mas," jawab Nala kemudian segera berlalu meninggalkan Reigha begitu saja. Reigha yang merasa tidak ingin ditinggal, bergegas mengejar sang istri yang sepertinya dalam mode merajuk.

__ADS_1


Nala sedikit berlari menaiki anak tangga disusul Reigha yang mengikuti dari belakang. Orang-orang yang dilewati keduanya tampak kebingungan menyaksikan tingkah sepasang suami istri tersebut.


Hingga Nala sampai di kamar dan akan menutup pintu. Namun, dengan secepat kilat Reigha menahannya. "Jangan marah, Sayang. Maafkan aku," mohon Reigha dengan wajah memelasnya.


Saat melihat Nala lengah, Reigha bergegas mendorong pintu sedikit kencang hingga terbuka lebar. Nala mundur beberapa langkah agar tidak tertabrak tubuh sang Suami.


Setelah keduanya benar-benar masuk, Reigha menutup pintu dan menguncinya dua kali hingga terdengar bunyi 'klik'.


Reigha menatap Nala lekat. "Maafkan aku," mohon Reigha dengan wajah nelangsanya.


Nala mencebikkan bibirnya kesal. "Akua akan memaafkan Mas Reigha jika Mas bersedia mandi kembali. Tubuh dan baju Mas tuh bau rokok. Bagaimana jika Zia dan Zio mencium bau rokok tersebut?" kesal Nala menggebu-gebu.


Reigha ingin memeluk sang istri namun segera ditolak dengan telapak tangan Nala yang terangkat. "Aku sudah mengatakannya kalau Mas Reigha harus mandi terlebih dahulu. Baru setelah itu, kamu bisa peluk aku lagi," ucap Nala tak terbantahkan.


"Kenapa lagi sih, Mas?" tanya Nala kesal.


Reigha mengangkat ponselnya. "Mau taruh benda ini dulu," jawab Reigha santai. Setelah ponselnya diletakkan di atas nakas, Reigha kembali masuk kamar mandi.


Nala menghela napas lelah melihat tingkah laku Reigha. Nala tidak bisa membayangkan bagaimana jika anak-anak mengetahui ayahnya merokok? Nala takut hal itu akan menjadi contoh yang tidak baik.


Selain itu, Nala juga mengkhawatirkan kesehatan sang Suami jika sampai kecanduan.


Kepala penuh Nala buyar ketika mendengar dering ponsel milik suaminya. Ada sebuah panggilan dari nomor tidak dikenal. Nala ingin menerima panggilan itu. Namun, salah satu sudut hatinya mengatakan jika Nala terlalu lancang.

__ADS_1


Tetapi, sudut lain di hatinya mengatakan hal yang berlawanan. Hingga terlalu sibuk berpikir, dering itu mati dengan sendirinya.


Nala menggenggam ponsel Reigha untuk dibawanya duduk di sisi ranjang. Lagi. Ponsel Reigha berdering panjang dan Nala sudah tidak tahan untuk menerima panggilan dari nomor yang sama.


"Hal—"


"Reigha? Aku sudah kirim alamat apartemenku. Cepatlah datang!" ucap suara wanita di seberang sana yang membuat jantung Nala seperti mencelos dari tempatnya.


Tubuh Nala menegang dengan kedua tangan yang terkepal di samping tubuh. Tanpa perlu menjawab, Nala memutus panggilan secara sepihak.


Jemari Nala menggulir layar ponsel untuk mencari aplikasi perpesan. Benar saja. Di barisan teratas atas, nomor yang baru saja menelepon sudah mengirimkan alamat apartemennya.


Jantung Nala seperti dihantam ribuan baru besar. Rasanya begitu sakit saat mengetahui ternyata sang suami masih saja berhubungan dengan seseorang di masa lalunya.


Nala terduduk lemah di sisi ranjang dengan napas yang sudang tersengal-sengal. "Ternyata diam-diam kamu mencoba bermain api lagi," gumam Nala tersenyum kecut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...hai. aku mau minta saran ke kalian semua nih.....


...kalau misal aku lanjut ceritanya tentang Nanta dan anjani, kalian masih mau baca tidak?🙃...


...kalau iya, komen di bawah ya😘...

__ADS_1


__ADS_2