Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)

Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)
Bab 110. Kegelisahan Bu Laras


__ADS_3

Hari Minggu pagi di rumah Nala dan Reigha kedatangan bu Laras. Beliau datang dengan wajah yang tertekuk masam. Menyadari tersebut, Nala memilih bertanya.


"Ibu kenapa? Wajah ibu tampak tidak bersemangat hari ini," tanya Nala sambil menaruh minuman teh hangat di hadapan sang Ibunda.


Terdengar helaan napas berat dari bu Laras. "Ibu sedang heran saja pada Nanta. Dulu waktu di Bandung, hari sabtu dia pasti pulang ke Bogor. Entah mengapa sejak berada di Jakarta, dia tak kunjung pulang dan hanya mengatakan bahwa pekerjaan disana belum selesai." Bu Laras mulai menceritakan kegelisahan yang mengganggu pikirannya.


Nala tersenyum maklum. "Mungkin memang masalah disana cukup pelik, Bu. Nanta pasti pulang kok," jawab Nala mencoba menenangkan.


Bu Laras justru menggeleng. "Ibu sudah menelepon Jedi. Dia mengatakan bahwa masalah sudah ditangani dengan baik. Ibu heran dengan anak satu itu," ucap bu Laras lagi dengan tatapan menerawang jauh.


Nala menganggukkan kepala paham. "Apa aku telepon saja, Bu? Mungkin ada sesuatu yang membuat Nanta tertahan disana," ucap Nala lagi mencoba berpikir logis.


"Seperti seorang perempuan misalnya?" celetuk suara tiba-tiba yang tidak lain adalah milik Reigha. Nala dan bu Laras sontak menoleh ke arah sumber suara. Reigha sedang berjalan ke arah mereka lalu berhenti di samping sofa yang diduduki Nala.


"Maksud kamu, Nanta sudah mempunyai kekasih begitu?" tanya Nala memastikan dan Reigha mengangguk.


"Bisa jadi seperti itu atau ... Dia sedang dekat dengan seorang perempuan." Reigha mengucapkannya dengan begitu yakin. Seakan dirinya adalah seorang peramal.


Wajah Bu Laras mendadak gusar dan Nala bisa menangkap perubahan mimik wajah sang Ibu. "Nanta kan sudah dewasa, Bu. Sudah dua puluh lima tahun juga," ucap Nala mencoba menenangkan.


Memang bagi seorang ibu, anaknya tetaplah seperti bocah kecil yang butuh di perhatikan. Ibu akan tetap memperhatikan anaknya walau usianya sudah tua sekalipun.


Bu Laras menghela napas kasar. "Ibu bisa mengerti. Namun, apakah sekarang ibu sedang dilupakan?" tanya Bu Laras masih tidak ingin mengerti keadaan.

__ADS_1


Reigha mendekat pada ibu mertua dan memegang pundaknya. "Bu? Ibu jangan pernah berpikir seperti itu. Aku yakin, Nanta juga pasti merindukan ibu." Reigha turut menenangkan.


"Tetapi, tidak bisakah pagi ini Nanta menerima telepon dariku? Ibu rindu dengannya." Akhirnya bu Laras mengeluarkan kalimat yang sejak tadi berusaha disembunyikan.


Nala dan Reigha saling pandang, tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya. "Nala akan coba bantu hubungi, Bu," ucap Nala kemudian segera meraih ponsel yang tegeletak di atas meja.


Setelah nama Nanta terpampang disana, Nala segera menekan tombol hijau dan nada tersambung pun berbunyi. Namun, belum ada tanda-tanda Nanta akan menerima telepon darinya.


Nala menatap ibunya yang tampak menunggu dengan penuh harap. Hingga panggilan itu berakhir tidak terjawab. Nala mengembuskan napasnya kasar. "Kita coba lagi nanti ya, Bu? Mungkin Nanta belum bangun," ucap Nala pada akhirnya juga merasa kecewa.


"Oma!" pekik suara dua bocah kembar yang membuat wajah muram bu Laras berubah cerah. Reigha dan Nala sontak saling lempar pandang.


"Zia! Zio! Kalian baru bangun ya?" jawab bu Laras saat Zia dan Zio sudah berada dalam pelukan.


Nala berdecak sebal mendengar proklamasi dari Zia yang begitu senang saat hari Sabtu dan Minggu tiba. Memang, tidak semua anak-anak suka dengan sekolah. Namun, jika tidak bersekolah, bagaimana masa depan mereka?


"Duh, cucu Oma sepertinya suka sekali dengan hari libur," jawab bu Laras sambil mencubit pelan pipi Zia dan Zio bergantian.


"Oma?" panggil Zio lembut dan Bu Laras menoleh dengan senyum hangatnya.


"Iya Sayang. Ada apa?"


"Aku mau mandi dengan Oma, boleh?" pinta Zio dengan puppy eyes-nya. Hal itu sontak membuat para orang dewasa tergelak renyah.

__ADS_1


"Tentu saja boleh. Ayo, kalian akan mandi dengan Oma," jawab bu Laras begitu antusias, lupa sejenak dengan masalah Nanta.


Ketiganya pun pergi menuju lantai atas. Kini, tinggallah Nala dan Reigha yang berada di ruangan tersebut. Reigha menatap Nala dengan penuh cinta. Tangannya bergerak untuk mengelus perut sang istri yang masih rata.


"Bagaimana pagi ini? Apakah merasa pegal-pegal?" tanya Reigha penuh perhatian.


Nala sontak menggeleng. "Setelah mendapat pijatan dari Daddy semalam, tubuhku lebih enakan. Daddy sendiri? Masih mual?" tanya Nala dengan raut wajah cemas.


Reigha hanya tersenyum lalu menghidu aroma tubuh sang Istri. Wajahnya disembunyikan pada ceruk leher Nala. "Posisi seperti ini membuat mualku membaik. Makanya semalaman aku butuh memeluk Mommy," gumam Reigha masih berada di ceruk leher Nala.


Nala terkekeh geli. "Ini benar-benar mujarab atau hanya modus Daddy saja?" Tidak habis pikir dengan sikap manja sang Suami.


Kehamilan yang kedua ini sangat indah bagi Nala. Dia tidak merasa mual dan muntah. Semua sudah diambil alih oleh Reigha. Badan yang pegal-pegal juga tidak Nala rasakan karena hal itu Reigha yang merasakan.


Justru, Nala pegal-pegal karena setiap malam suaminya itu tidur dengan memeluk erat tubuhnya. Hal itu tentu membuat Nala tidak bisa bergerak dengan leluasa.


"Untuk apa aku modus dengan istri sendiri? Tetapi, biarlah semuanya aku yang merasakan. Agar aku tahu bagaimana perjuangan Mommy dulu saat hamil Zia dan Zio. Maafkan aku yaz Mom," ucap Reigha merasa bersalah.


Nala menggeleng. "Tidak apa-apa." Lalu tangannya bergerak membalas pelukan sang Suami.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_1


__ADS_2