
Reigha merasa tubuhnya sudah lebih bugar. Dia keluar dari kamar mandi untuk menghampiri sang istri yang mungkin saja masih menunggu.
Setelah pintu kamar mandi terbuka, Reigha bisa melihat sang Istri yang duduk di sisi ranjang dengan wajah yang begitu datar.
Reigha mengernyit heran. Bukankah tadi Nala sudah tidak marah lagi? Lalu, kenapa wajahnya tampak tak bersahabat?
Untuk menjawab semua teka-teki yang ada, Reigha mendekat dalam keadaan yang hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya. Masih ada buliran bening yang menetes di ujung-ujung helaian rambut.
"Nala? Kamu kenapa? Masih marah?" tanya Reigha lembut.
Deg.
Jantung Reigha seperti mau copot dari tempatnya saat Nala melihat ke arahnya dengan tatapan tajam dan sangat mengintimidasi.
"Kenapa? Apa aku berbuat salah lagi?" tanya Reigha lagi.
Dengan napas yang memburu, Nala melempar ponsel Reigha yang masih ada dalam genggamannya. "Lihat saja sendiri. Aku kira kamu tuh sudah benar-benar berubah. Ternyata, masih sama saja seperti dulu," ucap Nala berusaha setenang mungkin.
Kemudian, Nala memilih untuk pergi dari hadapan sang Suami. Reigha yang bingung mulai melihat isi dari layar ponselnya. Seketika, Reigha menemukan pesan dari Sandra yang mengirimkan alamat tempat tinggalnya.
Shi*t! Reigha mengumpat karena pada akhirnya, semua akan ketahuan secepat ini. Dengan cepat, Reigha menyusul Nala yang masih sibuk mencari kunci kamar.
"Dimana kuncinya?" tanya Nala menggeram kesal.
Huh. Untuk pertama kalinya Reigha merasa bersyukur telah lupa menaruh kunci kamarnya.
"Aku bisa menjelaskan semuanya. Tolong jangan salah paham dulu," ucap Reigha lembut kemudian menarik lengan Nala lembut untuk menghadapnya.
Nala membuang pandangan. Dadanya masih terasa sesak.
"Kalau kamu tidak benar-benar mencintaiku, kenapa kamu harus bersikap seolah-olah mencintaiku? Aku seperti sedang berada di masalalu. Aku pernah ada di posisi ini dulu," ucap Nala merasa Dejavu.
Reigha menggeleng cemas lalu menangkup dua sisi wajah istrinya.
"Aku mohon jangan asumsikan semuanya sendiri. Izinkan aku menjelaskan. Ini tidak seperti yang kamu kira," ucap Reigha berusaha menenangkan.
"Tidak seperti yang kamu kira? Kamu pikir aku masih bisa berpikir waras saat seseorang di masalalu yang sudah menghancurkan hidupku kembali menghubungi suamiku? Aku tidak tahu mengapa kamu suka sekali menyakiti perasaanku," ucap Nala panjang lebar mengeluarkan semua unek-uneknya.
"Iya, Sandra memang menghubungi karena dia butuh bantuan," ucap Reigha memulai penjelasan. Dia mulai bercerita dari kejadian kemarin malam saat Sandra tiba-tiba meneleponnya.
"Hallo? Siapapun disana, tolong aku. Aku ketakutan dan dianiaya suamiku. Tolong aku. Aku disekap dan tidak mendapatkan kebebasanku," lirih suara dari sambungan telepon layaknya berbisik.
__ADS_1
Reigha sempat terkejut. Pemilik suara memang sudah tidak asing lagi. Namun, mengapa kali ini dia meminta tolong? Apakah ini benar-benar terjadi? Atau hanya sandiwara Sandra saja?
Kepala Reigha rasanya penuh sekali. Tanpa banyak berkata, Reigha menjawabnya. "Kirim alamat tempat tinggalmu atau bisa kirim lokasi," jawab Reigha sambil memijit pelipisnya.
Dia bingung mengapa masih peduli dengan Sandra yang jelas-jelas sudah menjadi masalalunya. Namun, ada sudut di hatinya yang mengatakan ini adalah tentang peri kemanusiaan.
Hampir lima belas menit lamanya, tidak ada pesan yang masuk ke ponselnya. Reigha memilih untuk kembali ke kamar menyusul Nala.
Dan alamat yang Reigha minta ternyata baru saja di kirim. Reigha bisa menyimpulkan barangkali Sandra di seberang sana dalam keadaan tertekan.
"Jadi begitu," ucap Reigha setelah bercerita panjang lebar.
Namun, Nala tak langsung percaya dan masih menatap suaminya dengan pandangan menyelidik.
"Lalu, mengapa dia mengatakan jika kamu harus segera ke apartemennya? Kamu mau jadi pahlawan kesiangan untuk sang Mantan pacar?" tanya Nala bernada sarkas.
Reigha tergelak renyah. "Kamu cemburu," ucap Reigha menyimpulkan.
Dan itu semakin membuat Nala geram. "Kamu pikir, aku masih bisa berpikir waras ketika suara yang aku dengar begitu aku kenali. Aku tidak bodoh, Mas," kesal Nala lalu salah satu tangannya bergerak meninju perut Reigha kencang.
Bugh!
"Aw! Mengapa tenagamu begitu kuat!" Reigha memekik kesakitan saat mendapat serangan tinju di perutnya. Tangannya sudah bergerak memegangi perutnya yang mendadak nyeri.
"Baiklah. Pukul aku jika itu bisa membuat marahmu reda. Aku tidak masalah asalkan tidak diabaikan olehmu, Sayang," ucap Reigha pasrah.
Menurut. Nala mulai memberikan pukulan bertubi-tubi di dada Reigha untuk meluapkan kekesalannya. Nala sangat kesal dan ingin membanting apa saja yang ada di hadapannya.
Namun, saat sadar bahwa itu hanya akan merugikan, Nala memilih memukul sang Suami saja.
Bugh.
Bugh.
Bugh.
Reigha hanya meringis. Rasanya sakit sekali dihantam oleh tangan Nala yang kecil itu. Tenaganya begitu kuat sampai Reigha terhuyung ke belakang dan hampir jatuh.
Namun, Nala segera menahannya. Ada raut bersalah yang ditunjukkan Nala melihat wajah sang suami yang sudah pucat.
"Sakit ya?" tanya Nala mengiba.
__ADS_1
Reigha mengangguk pelan. "Rasakan!" ketus Nala tanpa rasa bersalah.
Entah mengapa, perasaannya sudah lega setelah meluapkan semua kekesalannya. Nala menuntun Reigha untuk duduk di sisi ranjang dan melepas satu-satunya kain yang menutupi tubuh Reigha, yang itu handuk.
Nala segera mengambilkan pakaian untuk sang suami dan kembali lagi setelah apa yang dicari berhasil ditemukan.
"Pakai baju dulu, Mas," titah Nala layaknya seorang ibu yang meminta pada anaknya.
Reigha tersenyum kemudian menurut saat satu-persatu kain mulai melekat di tubuhnya. Setelah lengkap, Nala menatap suaminya itu dengan tangan berkacak pinggang.
Merasa sedang ditatap, Reigha mendongak karena posisi Nala saat ini berdiri di hadapannya. Tanpa menunggu lama, Reigha menarik pinggang Nala untuk di peluknya.
"Maafkan aku karena kembali menyakitimu. Tetapi, apa yang aku katakan tidaklah mengada-ada. Tidak ada satupun cerita yang aku tutupi," mohon Reigha dengan wajah pucat yang masih tersisa.
Reigha mendudukkan Nala dalam pangkuannya agar bisa berbicara dari hati ke hati dengan sang Istri.
"Aku mengakui jika aku salah karena tidak mengatakan hal ini. Aku takut kamu akan marah dan benar itu terjadi. Aku berniat untuk tidak memberitahumu—"
"Dan datang ke apartemen Sandra sebagai pahlawan penyelamatnya? Begitu?" sela Nala ketus sebelum Reigha menyelesaikan kalimatnya.
Reigha menggeleng dan menarik dagu sang istri agar wajah Nala menghadap dirinya.
Cup.
Reigha mengecup bibir Nala sekilas lalu kembali mengambil ponselnya. Dengan posisi Nala yang masih duduk di pangkuan, Reigha mulai menekan angka untuk menghubungi seorang polisi.
Setelah telepon terhubung dan dari seberangsana menjawab, Reigha mulai mengutarakan keinginannya.
"Pak. Datanglah ke apartemen Menara di lantai sepuluh dengan nomor kamar 004. Terjadi penyekapan yang dilakukan seorang suami pada istrinya," ucap Reigha dan setelah polisi di seberang sana mengiyakan dengan sigap, Reigha menutup panggilan terlebih dahulu.
Nala yang mendengar semua percakapan sang suami dengan seseorang di seberangsana yang begitu formal, mulai percaya bahwa suaminya tidak berbohong.
"Lihat? Aku tidak mungkin berpaling lagi. Karena istriku sudah sempurna," ucap Reigha tersenyum menatap wajah Nala yang terlihat mengerjap lucu.
Tangan Reigha bergerak menyingkirkan anak rambut yang menghalangi pandangan Nala. "Maafkan aku jika aku sudah membuatmu kecewa. Aku mengakui aku salah," ucap Reigha manja kemudian menelusupkan wajahnya di ceruk leher milik Nala.
Nala menghela napas kasar. "Kamu tidak sedang berbohong kan, Awh!" tanya Nala diakhiri pekikan karena Reigha kini sudah menghisap bagian lehernya.
Nala berdecak. Suaminya itu begitu pandai memanfaatkan situasi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...mampir juga kesini yuk 👇...