
Setelah pertemuan semalam di pasar malam, Reigha meminta izin untuk mengajak mama dan papanya mengunjungi cucunya. Beruntung, Nala tidak menutupi identitas kedua anaknya. Bisa saja, Nala tidak mengizinkan Reigha maupun keluarganya untuk menemui Zia dan Zio. Tetapi syukurnya, hal itu tidak terjadi.
Reigha begitu bersemangat hari ini. Hatinya bagai bunga layu yang sudah mendapatkan air kehidupan hingga membuat perasaanya berbunga-bunga layaknya anak remaja yang sedang di mabuk asmara.
Tidak lagi Reigha menunjukkan seberantakan apa dirinya ketika berpisah dengan Nala. Kini, Reigha akan kembali berpenampilan rapi agar Nala kembali sudi bersama dirinya.
Ya, Reigha sudah berjanji untuk merebut hati Nala lagi. Walau Reigha tahu rintangan terbesarnya adalah Bu Larasati. Apapun itu, Reigha akan berusaha menaklukkan hati Nala dan ibunya. Belum lagi, Reigha harus menghadapi adik Nala yaitu Nanta, yang juga menentang kehadirannya.
"Baiklah. Aku akan selesaikan semuanya satu-satu," gumam Reigha sambil menatap pantulan diri di cermin. Penampilannya sudah sangat rapi dengan jenggot dan kumis yang sudah lebih pendek karena baru saja dicukur.
"Aku harus memakai parfum agar Nala tergila-gila dengan bau badanku," monolog Reigha seperti orang gila.
Bu Nilam yang baru saja masuk dan tidak mengetuk pintu terlebih dahulu, mendengar semua ucapan Reigha yang berbicara sendiri. Bu Nilam tersenyum sendu menatap putra satu-satunya yang sudah kembali.
"Akhirnya kamu kembali menjadi Reigha yang dulu," ucap bu Nilam sambil berjalan melenggang masuk ke kamar Reigha.
Reigha menoleh kaget. Sedetik kemudian, Reigha mengulas senyum ketika tahu bahwa yang masuk ke kamarnya adalah sang Mama.
"Mama bisa saja. Hari ini kan, aku mau bertemu Nala. Mama dan papa sudah siap?" tanya Reigha panjang lebar.
Bu Nilam kembali tersenyum. "Mama rindu kamu yang seperti ini, Ga. Kamu yang banyak bertanya dan cerewet saat bersama Mama," ucap bu Nilam lagi kemudian merapikan rambut putranya yang belum disisir.
"Memangnya selama ini Reigha kemana?" tanya Reigha terkekeh pelan.
Decakan sebal terdengar begitu saja dari mulut Bu Nilam. "Ck. Raga kamu memang disini, tetapi jiwa kamu tuh seakan ikut pergi bersama kepergian Nala,"ucap bu Nilam mengingatkan kondisi Reigha selepas kepergian Nala.
Reigha mencebikkan bibirnya. "Aku baru menyadari bahwa Nala adalah yang terbaik," ucap Reigha menyesali.
Bu Nilam menghela napas kasar. "Kan Mama dan Papa sudah mengatakan kalau jodoh pilihan kami adalah yang terbaik. Kamu saja yang terlalu bodoh dan tidak mau membuka mata lebar-lebar. Lihat sekarang, kamu menyesal bukan?" cibir bu Nilam.
__ADS_1
"Tidak ada orangtua yang mempunyai maksud buruk untuk anaknya. Semua orangtua inginyanv terbaik untuk sang Anak," sahut suara yang diduga milik pak Prabu.
Entah sejak kapan pak Prabu berdiri di ambang pintu. "Papa sudah lama berdiri disana?" tanya bu Nilam geleng-geleng kepala.
"Wajar saja Nala meninggalkan kamu. Kamu orangnya tidak bisa dipercaya. Sekarang, giliran Nala kembali dan membawa anak-anak, kamu mau minta rujuk lagi," cibir pak Prabu lagi.
"Papa kok gitu sih? Papa tidak setuju kalau Reigha kembali pada Nala?" tanya bu Nilam membela putranya.
Pak Prabu berdecak pelan. "Memang, mama sudah yakin kalau Nala mau kembali bersama Reigha? Siapa tahu selama di Singapura, Nala sudah mempunyai pengganti," ucap pak Prabu yang bermaksud mengetes seberapa serius Reigha. Jangan sampai setelah diberi kesempatan kedua, Reigha mengulangi hal yang sama.
Wajah Reigha mendadak murung mendengar ucapan sang Papa yang memang ada benarnya. Selama empat tahun ke belakang, Reigha tidak tahu apa saja yang sudah dilewati Nala disana.
Bu Nilam yang sadar dengan perubahan raut wajah anaknya, akhirnya kembali bersuara. "Jangan dengarkan ucapan Papamu. Kamu yakin saja pada hatimu dan buktikan bahwa kamu sudah berubah menjadi lebih baik lagi. Kamu sudah menyesal dan berniat untuk meminta maaf," ucap bu Nilam memberikan semangat.
"Tetap semangat dan jangan menyerah." Bu Nilam kembali menyambung perkataanya.
"Tetap menyerah dan jangan semangat!" Kimi giliran suara pak Prabu yang terdengar mengucapkan hal yang bersebrangan dengan pemikiran istrinya.
Pak Prabu yang mendapat pertanyaan semacam itu pun tertawa lebar. "Papa ada di pihak Nala. Dia pasti melewati empat tahun ini tidak mudah. Jadi, jangan pernah menganggap mudah untuk bisa kembali dengan Nala. Papa yakin, Kalaupun Nala bersedia kembali, kamu akan diminta berjuang terlebih dahulu."
Reigha hanya mendengarkan pertengkaran orangtuanya yang berbeda pendapat. Reigha akui, dirinya memang salah dan pantas mendapatkan semua itu.
..............
Nala dan Rika sedang berbincang di teras belakang rumah sambil mengawasi si kembar yang sedang bermain bola bersama Nanta di halaman.
"Eh, katanya semalam bertemu dengan mantan suami kamu ya? Bagaimana perasaan kamu?" tanya Rika bermaksud menggoda.
Nala memutar bola matanya malas. "Biasa saja," jawab Nala cuek.
__ADS_1
Rika berdecak sebal. "Ck. Sayangnya aku tidak percaya kalau kamu biasa saja. Pasti denyut jantungmu berdebar bukan?" tanya Rika lagi penuh selidik.
Nala menoleh kesal pada tantenya itu. "Tante sepertinya sudah sangat berpengalaman," jawab Nala bercanda dengan sindiran.
Bukannya marah, Rika justru terbahak-bahak mendengar jawaban Nala yang terdengar seperti sindiran balasan untuknya.
"Jangan tertawa deh, Tan. Nikah gih, cari pengganti. Mumpung belum genap kepala tiga," ucap Nala lagi menyemangati.
Rika menggeleng. "Tidak. Tante tuh sudah tua. Mana ada yang mau dengan Tante yang perawan tua," ucap Rika merasa rendah diri.
Nala menghela napas pelan. "Pasti ada dong ,Tan. Aku yakin, ada seorang pria yang akan datang ke hidup Tante entah kapanpun itu. Yang terpenting, Tante mau buka hati," nasehat Nala yang segera mendapat anggukan dari Rika.
"Kamu benar. Eh! Kenapa jadi bahas masalah pribadiku sih? Tadi kan mau bahas tentang kamu," ucap Rika lalu mencebikkan bibirnya.
Nala tertawa puas karena berhasil mengelabuhi tantenya. Namun, tawa itu tidak berlangsung lama ketika bu Laras datang dan bersuara dingin.
"Nala! Ada Reigha dan orangtuanya di depan. Ayo, ibu temani kamu," ajak bu Laras lembut.
Nala menoleh dan langsung mengangguk. "Mereka sudah datang ya? Baiklah, Nala ke depan dulu bersama ibu ya, Tan," pamit Nala pada Rika kemudian beranjak dari kursinya.
Saat posisi Nala sudah sejajar dengan ibunya, bu Laras kembali bersuara. "Kamu harus ingat bahwa laki-laki di depan sana adalah orang yang sama yang telah menyakitimu, La. Jangan sampai jatuh ke lubang yang sama berkali-kali," peringat bu Laras agar Nala berpikir beribu kali sebelum memulai hubungan yang baru.
"Nala tidak akan pernah lupa," jawab Nala tersenyum tipis kemudian menggandeng lengan ibunya untuk ke depan dimana Reigha dan keluarganya sudah menunggu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
jangan lupa kasih dukungannya ya😘
mampir juga kesini yuk 👇
__ADS_1