Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)

Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)
Bab 86. Sangat manis


__ADS_3

Reigha sudah menghentikan mobilnya sekitar seratus meter dari rumah Nala. Wanita itu mengatakan bahwa Reigha tidak perlu mengantar sampai depan rumah. Nala tidak ingin Reigha lagi-lagi terkena sindiran pedas dari ibunya.


"Nala?" panggil Reigha pelan dan Nala hanya menggeliat, seperti enggan membuka mata. Reigha tersenyum melihat Nala yang begitu pulas tertidur. Reigha tahu jika Nala pasti sangat lelah.


Kemudian, terlintas di pikiran Reigha untuk kembali melakukan pencurian terhadap bibir Nala. Jujur, Reigha merasa tertagih ingin lagi dan lagi.


'Tidak apa-apa sepertinya,' batin Reigha menyakinkan diri sendiri.


Reigha bergerak memupus jarak dan tanpa menunggu lama, Reigha segera mencuri ciuman itu. Setelah percobaannya barusan, entah mengapa Reigha ingin mencobanya lagi.


Akhirnya, Reigha melakukannya lagi dan sedikit menyesap bibir bawahnya. Saat itu juga, mata Nala terbuka. Reigha terkejut bukan main ingin matanya membulat sempurna.


Nala membuka matanya lebar-lebar. Dia sadar dengan apa yang Reigha lakukan barusan. "Berapa kali?" tanya Nala datar.


Reigha segera menjauhkan diri dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Rasanya masih sangat manis," gumam Reigha yang masih didengar dengan baik oleh Nala.


"Sekarang, kamu mulai berani ya, Mas?" ucap Nala penuh intimidasi.


Reigha terkekeh. "Aku hanya mencicipinya sedikit," jawabnya tanpa beban.


Nala mendengkus kencang dan membenarkan posisi duduknya. Reigha yang melihat itu, mengernyit heran. Apakah wanita tersebut tidak ingin turun?


"La? Kamu tidak mau pulang? Atau ingin bersamaku disini terus?" tanya Reigha dengan senyum tengilnya.


Nala memicingkan matanya. "Sepertinya, hari ini aku harus membuatmu di omeli ibu. Antarkan aku sampai depan rumah," titah Nala tegas.


Reigha menelan saliva. Namun, tak urung Reigha menjalankan perintah Nala. Dia harus berani menghadapi rintangan sebentar lagi. Ya, rintangan paling berat adalah restu dari bu Laras.


Mobil kembali berhenti. Kali ini Reigha menatap Nala lekat yang wajahnya tersorot lampu jala. Cahayanya temaram namun tidak mampu mengurangi kecantikan seorang Asmaranala Hanindya. Wanita yang sudah bertahun-tahun mengisi jantung hatinya.

__ADS_1


"La?" panggil Reigha lembut.


Nala menoleh. Satu alisnya terangkat seakan mengira bahwa Reigha tidak berani masuk. "Kenapa? Kamu takut? Katanya cinta," cibir Nala yang membuat Reigha geleng-geleng kepala dengan senyum manisnya.


"Bukan itu. Aku hanya ingin menagih janji," jawab Reigha yang kini sudah mengalihkan perhatian sepenuhnya pada Nala.


"Janji apa? Aku tidak pernah membuat janji," elak Nala kemudian mengalihkan pandangan keluar jendela.


"Kamu mau aku cium lagi?" ancam Reigha yang membuat Nala mendelik kesal.


"Jangan sekarang. Aku belum siap," jawab Nala masih mempertahankan wajah datarnya.


Reigha menghela napas kecewa. "Kapan kamu siap?" tanya Reigha mencoba meyakinkan diri untuk bersabar sedikit lagi.


"A-aku harus masuk dulu. Ibu pasti sudah menungguku," jawab Nala menghindar. Kemudian, Nala keluar dari mobil dan berlalu begitu saja tanpa menoleh lagi. Reigha kecewa. Namun, dia hanya bisa menunggu kepastian dari Nala.


Setelah punggung Nala tak terlihat lagi, Reigha menjalankan mobilnya menuju apartemen. Mungkin benar kata Nick kemarin yang mengatakan jika dirinya harus memberi jarak terlebih dahulu. Dengan begitu, mungkin Nala akan menyadari ketidakhadiran Reigha.


Hal itu Reigha lakukan untuk melihat apakah Nala memiliki rasa yang sama. Dan Reigha melihat itu dalam seriap tindak-tanduk Nala. Hanya saja, Nala terlalu gengsi untuk mengakuinya.


Sedangkan Nala, saat baru memasuki rumah, dia langsung dikejutkan dengan keberadaan ibunya yang sedang berdiri di depan pintu. Matanya menatap Nala memicing dan kedua tangannya terlipat di depan dada.


"Pulang dengan siapa kamu?" tanya bu Laras penuh intimidasi.


Nala menunduk dan memainkan jari-jarinya. "Dengan mas Reigha, Bu," jawab Nala pelan.


"Ooh. Jadi, kamu sudah mulai menerima dia lagi? Kenapa? Kamu lupa dengan apa yang sudah dia perbuat di masa lalu?" tanya bu Laras lembut namun mampu menikam hati Nala.


Nala mendongak untuk menatap ibunya. "Itu hanya masa lalu, Bu," jawab Nala bukan bermaksud membela.

__ADS_1


"Terus, kamu lupa begitu saja karena itu merupakan masa lalu?" tanya bu Laras yang nadanya mulai meninggi.


Nala menggeleng dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Tidak. Aku tidak pernah lupa dengan kejadian di masa lalu. Namun, aku mencoba untuk berdamai dengan hal tersebut," jawab Nala lembut, tidak ingin membuat ibunya sakit hati karena ucapannya.


"Dengan menjalin hubungan bersama pria itu lagi? Jangan kamu pikir ibu bodoh, La. Ibu tahu semuanya tanpa perlu kamu bercerita. Kamu tidak bisa berbohong dengan ibu," ucap bu Laras yang kesabarannya mulai habis.


"Maaf, Bu." Hanya itu yang keluar dari mulut Nala. Dia tidak ingin dikatakan sebagai anak pembangkang dan menjawab semua omelan ibunya.


Bu Laras menghela napas kasar. "Ibu tidak habis pikir dengan jalan pemikiran kamu, La," ucap bu Laras lagi sambil memijit keningnya yang mendadak pening.


"Bukan jalan pikiran Mbak Nala yang rumit, Bu. Tetapi pikirkan ibu sendiri yang yang membuat semua rumit," sahut suara dari arah tangga. Nanta kini sedang menuruni anak tangga dan mendengar semua percakapan antara ibu dan kakaknya.


"Kamu mau membela laki-laki itu lagi?" tanya bu Laras tidak terima.


"Itu kenyataan, Bu. Kalau ibu tahu jika Mbak Nala sebenarnya masih cinta dengan mas Reigha, mengapa ibu mencoba untuk memisahkannya? Ibu yang membuat rumit semuanya," jelas Nanta berharap sang Ibu mau melunakkan hatinya sedikit.


"Kok kamu jadi menyalahkan ibu? Ini ibu sedang menasehati Mbak-mu loh," kesal bu Laras.


Nanta terkekeh. "Lah ibu kenapa memperumit keadaan dan membuat isi kepala ibu penuh? Bukannya ibu sudah melihat ketulusan hati mas Reigha? Bahkan, dia selalu datang ke rumah. Walau yang didapat hanyalah makian dan ujaran kebencian," jelas Nanta lagi mencoba menyadarkan sang Ibunda.


Nala hanya memperhatikan interaksi antara dan ibunya. Keduanya memang tidak akan pernah selesai jika sudah berdebat. Ada saja perbedaan pendapat.


"Ibu tahu kan, kalau Mbak Nala masih cinta dengan mas Reigha? Bahkan sejak dulu loh, Bu. Sedangkan mas Reigha, dia juga mecintai Mbak Nala. Sudah. Selesai kan, Bu? Kenapa harus dibuat susah," jelas Nanta jumawa.


Bu Laras terdiam untuk mencerna ucapan anak laki-lakinya. Memang benar apa yang dikatakan Nanta. Namun, bu Laras sudah berjanji untuk tidak memberikan restu secepat itu. Reigha harus mengerti apa itu arti berjuang.


"Pokoknya, Ibu tidak setuju jika Nala harus kembali dengan Reigha. Titik!" putus bu Laras tegas. Kemudian, Beliau berjalan meninggalkan Nanta dan Nala begitu saja.


Sepeninggalan ibunya, Nanta menatap kakaknya. "Mbak?"

__ADS_1


"Hm?"


"Mbak masih cinta kan dengan mas Reigha? Kalau iya, kenapa tidak di perjuangkan?" tanya Nanta yang membuat Nala seketika tersedak ludahnya sendiri.


__ADS_2