
Kepala Nanta seperti berdenyut ketika mendengar penjelasan seorang manager cabang. Dia menjelaskan tentang masalah yang terjadi di cabang Jakarta.
"Apa dia juga membawa uang?" tanya Nanta pada Jedi, sang Manager cabang.
Jedi mengangguk. "Iya. Dia membawa uang sebanyak seratus dua puluh juta. Namun, itu tidak dibawa dalam waktu sekali. Dia mengambil sedikit demi sedikit perharinya," jelas Jedi lagi.
"Hanya dia kan, yang melakukannya?" tanya Nanta lagi yang segera mendapat gelengan dari Jedi.
"Sepertinya ada orang lain di belakang pelaku. Dan dugaan kami sementara adalah, rival bisnis loundry kita yang dulu pernah bermasalah juga," jelas Jedi misterius.
Nanta berdecak sebal. "Siapa? Apakah yang dulu pernah bekerja disini dan membuka cabang sendiri?" tanya Nanta kesal.
"Iya. Dia juga membuka jasa loundry dengan nama yang sama persis dengan nama milik Bapak," ungkap Jedi yang membuat isi kepalanya semakin penuh.
"Baiklah. Kita harus segera menyelesaikan masalah ini. Yang harus kita cari terlebih dahulu adalah pengkhianat yang sudah menerobos masuk dan menyamar menjadi karyawan. Kumpulkan semua bukti dan serahkan ke email saya," titah Nanta tegas dan tak terbantahkan.
Jedi mengangguk patuh. "Baik, Pak," jawab Jedi kemudian segera berlalu untuk mencari semua barang bukti yang bisa digunakan untuk menjerat pelaku penggelapan uang.
Setelah Jedi keluar, Nanta menghela napas kasar lalu menyandarkan bahunya di sandaran kursi. Nanta hanya berharap semoga saja barang bukti yang tersisa bisa menuntut balik pelaku.
Usia Nanta sudah menginjak angka dua puluh empat. Masih tergolong muda untuk seorang pengusaha. Namun, hal itu tidak membuat Nanta bermalas-malasan.
Dia harus menggantikan sang ibu yang sudah lelah mengurus usaha perloundry-annya. Nanta harus menjadi pria yang bisa diandalkan.
Nanta melirik jam di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Itu berarti, loundry akan segera ditutup. Nanta memilih membereskan semua barang-barangnya dan akan pulang ke apartemen tempat dirinya tinggal. Hanya sebuah apartemen sewaan selama Nanta berada di Jakarta.
"Jedi! Saya pulang dulu. Jangan lupa tutup toko setelah ini ya," titah Nanta lembut.
"Tentu, Pak," jawab Jedi mengangguk hormat saat Nanta melewati meja kerjanya.
"Oh iya. Jangan lupa kirimkan semua bukti yang masih tersisa ke email saya agar semua bisa lekas di proses," ucap Nanta lagi berpesan.
__ADS_1
Setelah Jedi mengatakan iya, Nanta bergegas menuju mobilnya terparkir. Mobil yang Nanta beli dari hasil keringatnya sendiri. Mobil SUV dengan harga yang standar menurut Nanta.
Tidak terlalu mahal juga tidak terlalu murah.
Baru saja Nanta menjalankan mobilnya, ponselnya sudah berdering menandakan ada panggilan masuk. Nama Rose terpampang disana. Nanta menghela napas lelah. Dia mengabaikan panggilan itu dan hanya mengubah dering ponselnya menjadi mode diam. Itu akan baik untuk kesehatan mentalnya.
Setelah berada di apartemen, Nanta bergegas membersihkan diri terlebih dahulu. Mungkin setelah itu dia akan menghubungi kembali sang kekasih, Rose.
Nanta segera mengenakan pakaian lengkap saat sudah selesai dalam urusan membersihkan diri. Dia kembali mencari keberadaan ponselnya untuk menghubungi Rose.
Tut. Tut. Tut.
"Halo, Ro—"
"Kamu kemana saja! Kenapa baru telepon! Kamu tidak tahu apa? Kalau aku itu sejak tadi menunggumu!"
Suara teriakan itu membuat Nanta menjauhkan ponselnya dari daun telinga. Rose suka sekali mengomel dan berteriak ketika sedang marah.
"Lupakan! Aku sejak tadi sudah berada di Jakarta untuk menemuimu! Aku sudah menunggu terlalu lama disini! Jadi, cepat datang atau kita putus!"
Tut. Tut. Tut.
Baru saja mulut Nanta akan terbuka untuk menjawab ucapan Rose, sambungan telepon diputus begitu saja oleh gadis itu.
Tidak berapa lama, ada pesan masuk yang mengirimkan sebuah lokasi dimana Rose berada saat ini. Tanpa menunggu lebih lama, Nanta bergegas mencari jaket dan menuju mobilnya terparkir.
Saat sudah sampai di tempat tujuan, tepatnya di sebuah kafe yang lumayan mewah, Nanta memarkirkan mobil dan bergegas masuk. Kepalanya celingukan mencari keberadaan Rose.
Indera penglihatannya menangkap sosok Rose yang kini sedang menatapnya dengan pandangan bersungut. Nanta geleng-geleng kepala dan berjalan mendekat.
"Kenapa sih? Kok mukanya ditekuk seperti itu?" tanya Nanta lalu mengacak rambut Rose gemas.
__ADS_1
"Kamu tuh kemana saja sih? Sudah dua jam aku menunggumu," kesal Rose saat Nanta sudah duduk di kursi yang berhadapan dengannya.
"Maaf. Ada masalah serius di kantor. Oh iya, kamu kapan datang kesini?" tanya Nanta sambil meraih tangan Rose yang saat ini ada di atas meja. Namun, Rose segera menarik tangannya kembali hingga membuat Nanta menghela napas kasar.
"Maafkan aku. Aku salah karena tidak membaca pesanmu. Kamu akan menginap kan?" tanya Nanta lagi lembut.
"Tidak. Aku akan langsung pulang ke Bogor. Susah ya, punya pacar yang selalu sibuk bekerja," ketus Rose lalu melipat tangannya di depan dada. Wajahnya sudah sangat kesal.
Nanta yang melihat itu, terkekeh pelan. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Nanta segera membawa Rose dalam gendongannya seperti karung beras.
"Akh! Apa yang kamu lakukan!" pekik Rose terkejut dan Nanta hanya tergelak menanggapi. Nanta mengabaikan tatapan semua orang yang melihat ke arahnya dengan tatapan penasaran.
Setelah berada di parkiran, Nanta mendudukkan Rose di jok samping kemudi mobilnya. Setelah menutup pintu, kini giliran Nanta yang masuk dan mengunci mobil dari dalam.
Tidak kemana-mana. Hanya ingin berbicara dengan kekasihnya dalam mobil. "Kamu kenapa sih, marah-marah terus? Lagi datang bulan ya?" tebak Nanta sambil memangku dagu menghadap Rose yang saat ini sudah membuang muka.
Nanta menarik tangan Rose agar gadis itu mau melihat ke arahnya. "Bukannya kita baru ketemu kemarin? Kan aku baru pulang ke Bogor. Apa ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan?" tanya Nanta lembut dan meremas lembut tangan Rose.
Rose menghela napas lalu menatap wajah tampan Nanta. Rose menggeleng dengan raut wajah lesunya. Tidak seperti tadi yang tampak marah dan meluap-luap.
Nanta jelas semakin heran dengan perubahan sikap Rose yang tiba-tiba. "Apa terjadi sesuatu?" tanya Nanta lembut dan hal itu justru membuat Rose menangis dan berhambur ke pelukan Nanta.
Nanta jelas bingung mengapa sikap Rose kali ini berubah-ubah. Walau demikian, Nanta tetap membiarkan Rose untuk menangis terlebih dahulu dalam pelukannya.
Setelah tangis Rose mereda, Nanta merenggangkan jarak dan menangkup dua sisi wajah Rose. "Apa yang terjadi? Apa aku menyakitimu? Maafkan aku jika tanpa sengaja aku menyakiti atau melukaimu," ucap Nanta tulus.
Mendengar itu, mata Rose kembali berkaca-kaca dan bibirnya melengkung ke bawah, bersiap akan menangis lagi.
Melihat itu, Nanta kembali menyapukan mendekap sang kekasih cukup erat. Nanta tidak tahu mengapa sikap Rose begitu aneh. Nanta akan memikirkannya nanti dan memilih untuk menenangkan sang Kekasih.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1