Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)

Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)
Bab 42. Makan gaji buta?


__ADS_3

Setelah berpamitan dengan bu Laras, Nala, Dandy dan si kembar berangkat ke sebuah pusat perbelanjaan terbesar di ibukota. Ya, Dandy membawa mereka ke ibu kota karena disana lebih lengkap dan lebih besar.


Zia dan Zio yang belum pernah mengunjungi salah satu mall di ibukota pun bersorak gembira. Keduanya duduk di jok belakang sedangkan Nala duduk di samping kemudi menemani Dandy.


"Disana lebih gede ya, Om? Kalau sama di Singapura gede yang mana?" tanya Zia tidak henti-hentinya memberikan pertanyaan seputar mall di ibu kota.


Nala terkekeh pelan. "Sama kok. Tidak terlalu beda jauhlah," jawab Nala yang membuat Zia mengangguk paham.


Sekitar dua jam akhirnya mereka sampai. Zia dan Zio menunggu sang Mommy untuk menuntunnya saat akan berjalan masuk selrhe mobil berhenti di lobi. Dandy langsung menyerahkan kunci mobilnya pada petugas vallet.


Keempatnya berjalan memasuki mall dengan Zio yang digandeng oleh Nala Sedangkan Zia digandeng oleh Dandy. Mereka layaknya keluarga bahagia yang mengunjungi pusat perbelanjaan tersebut.


Banyak pasang mata yang iri melihat keserasian dan keharmonisan yang tercipta di antara keempatnya. Mereka tidak tahu saja jika mereka bukanlah sebuah keluarga.


"Mau coba beli disana tidak? Disana lebih lengkap loh," tawar Dandy menunjuk sebuah toko peralatan untuk rias.


"Bolehlah. Kalau disana masih ada yang kurang, kita bisa mencari di tempat lain," jawab Nala menyutujui usul Dandy.


Dan Nala tidak menyesal sama sekali saat masuk toko tersebut. Selain karyawannya yang ramah, barang-barang yang dijual juga sangat lengkap.


Hampir dua jam Nala menghabiskan waktunya untuk mencari semua kebutuhan usaha, akhirnya Nala sudah tiba di meja kasir. Dandy mengulurkan black card-nya pada Nala yang segera mendapat dorongan pelan dari Nala.


"Jangan seperti itu, Mas. Ini kan usaha aku, jadi aku yang harus bayar," tolak Nala halus.

__ADS_1


Walau kecewa, Dandy memasukkan kartunya lagi ke dalam dompet. Kemudian, Dandy mendekatkan wajahnya pada telinga Nala dan berbisik. "Kalau kamu sudah menjadi istriku, semua biaya hidupmu aku yang akan tanggung," bisiknya lembut yang membuat Nala mengulum senyumnya.


Zia dan Zio yang mengetahui bahwa Dandy berbisik-bisik dengan sang Mommy pun bertanya. "Uncle bicara apa dengan Mommy? Kenapa harus bisik-bisik?" tanya Zia dengan wajah menggerjap polos.


Nala bungkam Sedangkan Dandy, dia harus memutar otak untuk menjawab pertanyaan Zia. "Uncle mengatakan bahwa Mommy berbelanja terlalu lama hingga lupa bahwa sekarang sudah waktunya makan siang," jawab Dandy berbohong.


"Uncle benar. Zio juga sudah lapar," sahut Zio menyetujui.


Nala tergelak renyah dan itu terlihat begitu menawan di mata Dandy. Ada hangat yang menjalar di hati ketika melihat Nala selalu bahagia saat bersamanya.


"Baiklah. Setelah ini kita akan makan siang terlebih dahulu. Setelah itu, kalian akan Mommy ajak membeli mainan," jawab Nala pada akhirnya.


"Yeay!" "Hore!" Zia dan Zio memekik girang hampir bersamaan. Nala sampai harus menutup telinga karena suara anak-anaknya begitu memekakkan telinga. Sedangkan Dandy, dia tergelak renyah, merasa bahagia berada di dekat di kembar juga Nala yang selalu membawa energi positif untuknya.


Dengan berbahagia Setiap hari, Dandy berpikir bahwa itu akan memperpanjang umurnya.


Reigha sadar, dirinya memang pantas mendapatkannya. Apalagi melihat tawa Zia dan Zio yang terlihat begitu bahagia bersama Dandy, membuat Reigha merasa tidak rela. Zia dan Zio adalah darah dagingnya. Seharusnya hanya dirinya yang boleh lebih dekat dengan anak-anaknya itu.


Reigha menghembuskan napasnya kasar lalu menyandarkan punggung di bahu kursi kerjanya. Jika saja Nick tidak mengirimkan foto tersebut, mungkin Reigha sudah menyelesaikan beberapa berkas yang harus mendapatkan tandatangan darinya.


"Nick! Kamu sudah merusak moodku," kesal Reigha sambil menjambak rambutnya frustasi.


Akhirnya, Reigha memilih untuk menelepon asistennya itu. Setelah telepon tersambung, Reigha segera meluapkan kekesalannya pada Nick.

__ADS_1


"Halo, Bos."


"Kamu kerja yang benar! Kamu mau makan gaji buta! Tidak perlu mencuri foto siapapun lalu mengirimkannya padaku! Dasar tidak ada kerjaan!" Reigha meluapkan semua amarahnya pada Nick.


Dan Reigha semakin kesal ketika mendengar tawa Nick meledak di seberang sana. Sepertinya, asistennya itu sangat puas mengerjai dirinya.


"Berhenti tertawa, Nick! Ini bukan lelucon!" kesal Reigha kemudian menutup panggilan telepon tersebut secara sepihak, mengabaikan Nick yang berteiak diseberang sana dan suara yang terakhir Reigha tangkap adalah, nama Sandra di sebutkan disana.


Tidak berapa lama, pesan dari Nick kembali masuk. Saat Reigha melihatnya, ada pesan berusaha gambar di dalamnya. Ketika membukanya, wajah Sandra terpampang disana.


Di bawah foto itu dituliskan, 'Mantan selingkuhan Boss sudah lebih cantik'. Reigha berdecak sebal. Entah apa maksud Nick mengirim foto Sandra padanya.


"Apa Nick ingin menguji cintaku pada Nala? Sayangnya, itu sudah tidak mempan. Sandra sudah tidak membuatku tertarik lagi," gimana Reigha bertanya pada diri sendiri dan di jawab sendiri.


"Cantik saja percuma kalau hatinya busuk," imbuhnya lagi kemudian menghapus foto yang Sandra yang sudah masuk ke galerinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...jangan lupa dukungannya ya😘...


...aku sekalian mau kasih pengumuman kalau judul sama cover novel ini akan diganti agar sesuai dengan isinya ya. ini atas saran editor😍...


...terima kasih dukungan kalian selama ini ya😍😍...

__ADS_1


...mampi Juga kesini yuk 👇...



__ADS_2