Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)

Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)
Bab 87. Cemburu


__ADS_3

Nala memarkirkan mobilnya di depan kantor dan pemandangan yang pertama kali Nala lihat adalah, mobil Reigha yang sudah terparkir rapi di depan kantornya.


"Tumben datang pagi," gumam Nala lalu membukakan pintu belakang dimana Zia dan Zio duduk.


"Sudah sampai, Sayang. Turun dulu ya," pinta Nala lembut yang segera dilakukan oleh Zia dan Zio. Setelah dua anaknya turun, Nala menutup pintu dan mengunci mobil dengan remot kontrol.


"Mom! Itu Daddy kan?" Kok sudah datang?" tanya Zia penasaran.


Nala mengangguk membenarkan. "Samperin gih," titah Nala lembut.


Zia dan Zio sontak berlarian menuju mobil Reigha terparkir. Setelah sampai, keduanya langsung mengetuk pintu agar segera dibuka.


"Daddy!" pekik Zia kencang.


Tidak berapa lama, pintu mobil akhirnya terbuka. "Hai, Sayang!" sapa Reigha lalu segera membawa anak-anak ke dalam gendongan.


Zia dan Zio tampak tertawa bahagia saya berada di gendongan Reigha hingga tawa itu menular ke bibir Nala. Nala bahagia ketika melihat anak-anaknya bahagia.


Namun, senyum Nala tidak bertahan lama ketika melihat sosok wanita yang keluar dari dalam mobil. Seorang gadis yang bernama Anjani telah ikut bersama Reigha di satu mobil yang sama.


Kecewa.


Mungkin satu kata yang bisa mewakili perasaan Nala saat ini. Apalagi, kini gadis tersebut mendekati Zia dan Zio dan menyapanya dengan senyum ramah. Dan yang membuat Nala tidak senang adalah, Zia dan Zio balik menyapa Anjani. Entah mengapa, Nala seperti sedang melihat satu keluarga bahagia.


Baru kemarin Reigha mengatakan cinta padanya. Kini, dia sudah bersama wanita lain. Bahkan, Reigha tidak segan-segan menunjukkan di hadapan Nala.


Nala melewati Reigha dan Anjani begitu saja tanpa perlu repot-repot menyapa. Hatinya kembali merasakan sakit yang teramat dalam. Mungkinkah ini yang dimaksud ibunya? Tentang bagaimana sang ibu begitu menentang Reigha untuk kembali padanya.


"Mommy!" panggil Zio memekik.


Nala yang hampir mencapai pintu masuk, menoleh menatap anaknya. "Kami akan pergi jalan-jalan dengan Daddy. Boleh ya, Mom?" pinta Zia dengan wajah memelasnya.


Nala berpikir sejenak apakah dia harus mengizinkan anak-anak untuk keluar bersama Reigha dan ... Anjani?


"Seharusnya tidak perlu. Bukankah kalian ingin ikut Mommy ke Jakarta?" jawab Nala yang secara tidak langsung tak memberikan izin.

__ADS_1


"Tetapi, Daddy ingin mengajak kita ke mall," rengek Zia masih ingin ikut ayahnya.


"Ya sudah. Pergilah. Biar Mommy pergi sendiri," ucap Nala pasrah kemudian berbalik untuk masuk ke kantor.


Kesal sekali rasanya. Nala seperti ingin menangis ketika anak-anak lebih memilih ayahnya daripada dirinya. Apalagi, Reigha juga tidak berbicara sepatah katapun padanya. Memang, mulut lelaki tidak bisa dipercaya.


Setelah masuk, Nala berlari menaiki tangga menuju ruangan atas. Dia ingin menangis tetapi tidak ingin ada yang melihatnya. Setelah masuk, Nala duduk di sofa dengan posisi menengadah.


Perlahan, air matanya mulai luruh membasahi pipi putihnya. Rasanya sangat menyakitkan. Mengapa Nala merasa dejavu saat mengalami ini lagi? Reigha kembali menorehkan luka di hatinya.


Percuma Nala membela Reigha di hadapan ibunya. Percuma Nala memberikan Reigha kesempatan jika lagi-lagi pria itu ingkar.


Nala menegakkan tubuh kemudian menangkup wajahnya dengan dua telapak tangan. Dia mulai menangis sesenggukan.


"Dasar tidak tahu diri! Tidak tahu di untung! Sekali pengkhianat akan tetap jadi pengkhianat!" umpat Nala meluapkan semua amarahnya.


Kemudian, Nala kembali menangis sesenggukan. Hatinya begitu sakit. Seperti sakit yang tak terobati. Belum sempat kering, kini harus tertikam lagi.


"Mommy!" pekik suara anak kecil yang membuat Nala menghentikan tangis seketika. Nala melepas telapak tangan yang menutup wajahnya dan melihat Zia dan Zio datang menghampiri.


"Mommy kenapa menangis?" tanya Zia prihatin kemudian memeluk tubuh ibunya. Zio juga melakukan hal yang sama.


"Nala?" panggil suara berat yang terdengar lembut di telinga. Nala menoleh dan mendapati Reigha sensgs berjalan mendekat.


"Kamu marah? Kenapa kamu menangis?" tanya Reigha heran.


Nala menggeleng. "Bukan urusan kamu!" ketus Nala kesal.


Hal itu sontak membuat yang berada di ruangan, tertawa terbahak-bahak termasuk Reigha. "Mommy pasti sedang cemburu dengan onty Anjani kan?" goda Zia dengan senyuman jahil.


"Dapat kata-kata cemburu darimana kamu?" tanya Nala dengan sorot mata tajam.


"Yah, salah lagi," jawab Zia dengan tampang memelasnya.


Semua kembali tertawa. Reigha yang masih berdiri di hadapan Nala dengan tangan yang dimasukkan ke saku celana, menoleh ke belakang.

__ADS_1


"Masuk Anjani," titah Reigha kemudian sosok yang dipanggil menampakkan diri. Anjani sedang bersembunyi di balik pintu.


Nala yang melihat itu, bibirnya semakin memberenggut kesal.


"Jangan salah paham dulu. Aku yakin, kamu pasti sedang berasumsi sendiri," tebak Reigha yang membuat Nala mendengkus kencang.


"Ih! Percaya diri sekali Anda," kesal Nala namun dalam hati membenarkan dugaan Reigha.


"Saya tidak ada hubungan apa-apa dengan Pak Reigha, Bu. Beliau membawa saya kesini karena saya akan kembali ke Jakarta bersama assiten Nick. Berhubung jarak rumah asisten Nick lebih dekat dari sini, pak Reigha membawa saya kesini. Saya datang ke kantor pak Reigha untuk membawa berkas yang harus beliau tanda tangani."


"Karena saya hanya sendiri di kantor, beliau mengajak saya untuk menunggu di kantor calon isterinya, yaitu ibu Nala," jelas Anjani panjang lebar.


Nala terdiam dengan mata menatap Reigha lekat. 'Calon istri?' gumam Nala dalam hati.


"Sudah mengerti sekarang?" tanya Reigha dengan alis terangkat.


Walau ragu, Nala tetap mengangguk. Zia dan Zio tiba-tiba saja bertepuk tangan meriah. "Akhirnya, Mommy dan Daddy kita berbaikan!" pekik Zia girang.


"Hore!" pekik Zio tak mau kalah.


"Baiklah. Sepertinya, Mommy dan Daddy harus berbicara heart to heart," ucap Zia lagi puitis.


"Dih. Belajar dari mana kamu bahasa heart to heart?" tanya Nala heran.


"Yutublah, Mom," sahut Zio santai yang hanya ditanggapi Nala dengan geleng-geleng kepala.


"Ayo! Zia dan Zio ikut Onty dulu. Kita akan main," ajak Anjani ramah.


Zia dan Zio sontak berlari menuju pintu keluar bersama Anjani. Kini, tinggallah Nala dan Reigha yang berada di ruangan tersebut.


Reigha tersenyum melihat wajah cemberut Nala kemudian duduk di samping Nala dan memupus jarak. Ibarat kata, kakinya dan kaki Nala sudah saling menempel.


"Mau apa?" tanya Nala garang.


Reigha sudah tak tahan untuk meledakkan tawa. Nala sangat lucu ketika sedang cemburu. Reigha segera mengambil telapak tangan Nala untuk digenggamnya. Reigha mengecupnya berkali-kali hingga membuat Nala melotot tajam ke arahnya.

__ADS_1


"Jadi bagaimana? Apakah kamu bersedia untuk kembali hidup bersamaku? Mari kita bangun rumah tangga yang penuh cinta dan kasih sayang. Mari kita buatkan adik-adik yang lucu untuk Zia dan Zio," ucap Reigha manis yang seketika mendapat pukulan di lengannya.


Pipi Nala sudah merah merona.


__ADS_2