
Setelah melihat gedung yang akan menjadi tempat membuat usahanya, Nala mengajak Dandy untuk mampir ke rumah terlebih dahulu sebelum pulang ke ibu kota. Ya, Dandy harus bolak-balik dari Jakarta ke Bogor hanya untuk menemani dan menemui Nala.
Sedangkan Reigha, selama empat tahun ini dia merintis usaha di Bogor, tidak lagi di ibukota seperti Cakrawala Group. Sengaja Reigha memilih kota Bogor sebagai tempat usahanya yang baru karena, di kota tersebut Reigha tidak perlu teringat terus menerus dengan Nala.
Sedangkan pak Prabu dan bu Nilam setiap minggunya akan mengunjungi Reigha ke rumahnya yang berada di Bogor.
Mobil yang ditumpangi Nala akhirnya berhenti di depan pekarangan rumahnya. Nala menoleh pada Dandy. "Turun dulu kan? Masa langsung pulang? Kita makan sore dulu," ajak Nala yang seketika membuat Dandy terkekeh geli.
"Kan kita habis makan siang. Ini saja baru jam empat. Baru tiga jam kita makan loh," jawab Dandy tidak habis pikir dengan tingkah wanita di hadapannya.
Nala mengangguk membenarkan. "Kan aku sudah bilang, makan sore dulu, bukan makan siang," ucap Nala lagi belum menyerah.
Dandy mendengkus pelan kemudian mengulas senyumnya. Dia tidak akan pernah menang jiks berdebat dengan Nala. "Baiklah. Aku akan makan sore terlebih dahulu," putus Dandy pada akhirnya.
Nala memberikan acungan jempolnya untuk menanggapi ucapan Dandy. Keduanya akhirnya turun dari mobil dan disaat yang bersamaan, mobil Reigha tampak memasuki pekarangan rumah dan memarkirkannya di belakang mobil Dandy.
Nala mengulas senyum saat melihat Zia dan Zio keluar dari mobil dengan wajah yang sumringah. "Habis darimana tadi?" tanya Nala saat kedua anaknya mencium punggung tangannya secara bergantian.
"Habis dari kantor Daddy dan jalan-jalan ke mall," jawab Zio antusias.
"Sambil beli mainan juga loh, Mom," sahut Zia Taka kalah antusias.
Nala terkekeh kemudian mengacak rambut si kembar dengan gemas. "Kalian senang sekali sepertinya," tebak Nala yang segera disetujui oleh Zia dan Zio.
"Hai Zia dan Zio! Apa kabar?" sapa Dandy yang kini berjalan mendekati dua bocah kembar.
"Uncle Dandy!" pekik Zia dan Zio hampir bersamaan, merasa bahagia bertemu dengan seseorang yang mereka panggil dengan sebutan uncle itu.
Zia dan Zio langsung berlari menghampiri Dandy dan saling berebut untuk dibawa ke gendongan unclenya. Nala terkekeh sambil geleng-geleng kepala. Zia dan Zio memang sangat dekat dengan Dandy.
__ADS_1
Pemandangan itu tidak luput dari pandangan Reigha yang masih setia duduk di jok kemudi dengan mata yang menatap lurus pada keempat pernah yang bagaikan keluarga bahagia.
"Dandy? Apakah kamu sudah mengkhianatiku? Bukankah kamu berjanji untuk tidak merebut Nala dariku?" gumam Reigha kecewa.
"Bahkan, Zia dan Zio terlihat sangat akrab. Apa selama ini Dandy bermain di belakangku?" gumam Reigha lagi dengan rahang mengeras dan dua tangan yang mengepal erat.
Reigha memutuskan untuk turun menemui semua. Senyum yang sempat tercipta seketika hilang saat Reigha mendekat. Apalagi, wajah Dandy kini sudah terlihat begitu terkejut.
"Reigha ...." gumam Dandy kemudian menurunkan Zia dan Zio yang saat ini sudah berada di gendongan.
Setelah turun dari gendongan, Zia dan Zio sudah berlarian memasuki rumah untuk menemui sang Oma.
Nala terdiam karena merasa canggung dengan suasana yang tercipta. Namun, melihat ketegangan di antara dua kali di hadapannya, membuat Nala memaksakan mulutnya untuk bersuara.
"Mas Dandy masuk dulu. Ibu sudah menunggu sejak tadi loh," ucap Nala sambil menarik tangan Dandy agar mengikutinya.
Reigha yang melihat Nala lebih memilih Dandy dibanding dirinya hanya bisa menahan napas karena rongga dadanya kini sudah terasa sesak.
Nala yang sudah berjalan tiga langkah akhirnya menoleh. "Kenapa? Kamu mau langsung pulang? Ya sudah," tanya Nala yang di jawab sendiri, seakan acuh dengan perasaan Reigha.
Reigha menelan kecewanya bulat-bulat. "Baiklah. Aku pulang dulu," ucap Reigha kemudian sere berbalik dan masuk ke mobil. Tanpa menoleh lagi, Reigha melajukan mobilnya membelah jalanan kota.
Ada rasa sesak yang hinggap di hatinya. Reigha sangat kecewa karena harapannya seperti telah pupus.
Sedangkan Nala, dia hanya bisa menatap mobil Reigha yang melaju menjauh dari pekarangan rumah dengan perasaan yang ... Entahlah.
"Nala?" panggil Dandy lembut. Saat Nala menoleh, wajah Dandy kini sudah sangat dekat dengan wajahnya. Nala sampai harus mundur beberapa langkah untuk memberi jarak.
"Iya, Mas? Kenapa?" jawab Nala dengan sisa raut terkejutnya.
__ADS_1
Dandy menatap Nala lekat. "Kamu masih mencintainya," ungkap Dandy yang memang melihat sorot mata Nala sarat akan cinta saat menatap Reigha.
Nala menggeleng. "Tidak seperti itu," jawab Nala terdengar mencicit.
Dandy tersenyum masam. "Apa itu yang membuatmu selalu menolakku? Sungguh aku tidak masalah jika kamu menolakku. Hanya saja, aku tidak akan rela jika pria yang akan menjadi ayah dari anak-anakmu adalah pria itu lagi. Dia sudah menyakitimu," ucap Dandy mengemukakan pendapatnya.
Nala menghembuskan napasnya kasar untuk menghilangkan sesak yang tiba-tiba menghimpit.
"Seseorang mungkin akan lebih mudah untuk jatuh cinta. Tetapi, terkadang mereka lupa jika melupakan itu sulit. Entah apa yang saat ini aku rasakan, aku hanya ingin berdamai dengan rasa benci yang sempat hadir. Aku belum benar-benar sembuh, Mas," jawab Nala sendu.
"Aku tahu. Kamu pasti sedang mempertimbangkan banyak hal seperti Zia dan Zio. Aku siap jika harus menjadi ayah sambung mereka. Tidak akan ada kata anak kandung maupun anak sambung. Semua aku sama ratakan," ucap Dandy dengan tatapan tertuju pada Nala, lekat.
Nala membalas tatapan itu. "Jika aku denganmu, aku juga harus mempertimbangkannya matang-matang," timpal Nala yang membuat alis Dandy bertaut.
"Mempertimbangkan apa? Setelah kita menikah, kita akan hidup bersama Zia dan Zio di rumah yang terpisah dengan mamaku," jawab Dandy setengah kesal.
"Lalu bagaimana dengan restu yang belum kamu dapat, Mas?" tanya Nala lagi yang membuat Dandy seketika menunduk lesu.
"Jangan pikirkan mama. Dia terlalu egois karena selalu mementingkan nama besarnya," jawab Dandy lirih.
Nala menggeleng. "Restu mamamu itu adalah hal yang paling utama. Bagaimana hubungan akan berjalan lancar jika restu ibu saja belum diraihnya? aku pasti akan mengulang masa yang telah lalu lagi dan aku tidak ingin itu semua terjadi," jelas Nala panjang lebar.
Nala menarik napasnya dalam. "Lupakan, Mas. Kita masuk dulu ya?" Nala menghembuskan napasnya lelah. Selalu seperti itu jika sedang berdebat dengan Dandy tentang masalah restu ibunya Dandy. Nala selalu menghabiskan energi yang terlalu banyak.
Dandy menghela napasnya kasar kemudian mengusap wajahnya. "Baiklah. Kita masuk terlebih dahulu," jawab Dandy akhirnya pasrah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...jangan lupa like, komen, vote dan kasih dukungan semampu kalian ya 😘...
__ADS_1
...mampir juga kesini yuk 👇...