
Hari berganti dan malam nanti Dandy akan datang bersama bu Dian ke rumah Nala. Nanta yang mendengar kabar tentang hubungannya dengan Dandy pun, sengaja pulang ke Bogor untuk menyaksikan bagaimana kakaknya dilamar oleh seorang pria setelah sekian lama berkubang dengan masalalunya.
Mungkin sekitar satu atau dua jam lagi Nanta akan sampai rumah. Bu Laras dan Nala sedang begitu sibuk untuk mempersiapkan hidangan yang nantinya akan menjadi suguhan dalam acara lamaran Nala.
Bukan hanya bu Laras dan Nala. Ada salah satu chef yang Bu Laras sewa untuk memasak sehari di rumahnya.
Bu Laras tentu sangat bahagia mendengar keputusan Nala yang ingin menikah lagi. Yang membuat bu Laras semakin mendukung niat Nala adalah, karena pria yang akan menikahi Nala adalah Dandy, seorang pria yang sudah Bu Laras anggap seperti anaknya sendiri.
Bu Laras sedikit banyaknya tahu bagaimana sosok Dandy kepada Nala. Sejauh ini, Bu Laras melihat bahwa tatapan Dandy sarat akan cinta yang begitu besar ketika sedang berhadapan dengan Nala.
Dandy begitu memuja sosok putrinya hingga membuat bu Laras mengizinkan Nala untuk menikah lagi.
"Akhirnya selesai juga," ucap Nala sambil merenggangkan otot-ototnya yang kaku karena seharian berkutat dengan banyaknya bahan makanan.
Memang masih pertemuan keluarga yang membahas tentang tanggal pertunangan dan pernikahan. Namun, Bu Laras ingin semua orang yang berada di dekatnya ikut merasakan bahagia yang saat ini sedang dirinya dan Nala rasakan.
Beliau memasak untuk para pekerja juga.
"Kamu mandi dulu gih, La. Sudah jam tiga ini loh," titah bu Laras lembut.
Nala mengangguk menyetujui. "Baiklah. Aku akan memandikan Zia dan Zio terlebih dahulu, Bu," jawab Nala yang kini sudah beranjak dari duduk bersilanya.
Langkah kaki Nala terayun menuju teras belakang dimana Zia dan Zio sang bermain bersama Reni. Nala tersenyum bahagia ketika melihat tawa anak-anaknya begitu riang saat bermain air.
"Zia! Zio! Sudah sore, Sayang. Kalian mandi dulu ya? Main airnya sudah dulu karena kalian sudah terlalu lama," pinta Nala lembut yang segera dipatuhi oleh Zia dan Zio.
"Baiklah, Mom." "Siap, Mom!"
Tidak berapa lama, Zia dan Zio selesai mandi. Nala-lah yang akan memakaikan baju pada anak-anaknya.
"Zia? Zio?" panggil Nala lembut saat dua anaknya sudah mengenakan pakaian lengkap.
"Iya, Mom? Kenapa?" tanya Zia terlebih dahulu yang diangguki Zio, seakan ingin menanyakan hal yang sama juga.
Nala bergumam cukup panjang, seakan sedang menyusun kalimat agar bisa dengan mudah di mengerti oleh anak-anak. "Mmm
... Kalau uncle Dandy jadi Daddy kalian, mau tidak?" tanya Nala dengan penuh kehati-hatian.
Zia dan Zio tampak mengerjap bingung. Pertanyaan ibunya benar-benar membuat keduanya heran.
__ADS_1
"Jadi, kita akan mempunyai dua Daddy, begitu?" tanya Zio yang lebih cepat mencerna ucapan Nala.
"Iya, kira-kira seperti itu. Kalian akan mempunyai dua Daddy yaitu Daddy Reigha dan Daddy Dandy," jawab Nala merasa lega karena Zio mencerna dengan baik maksud perkataannya.
"Yeay! Aku bisa punya dua Daddy!" pekik Zia girang.
Nala menaruh jari telunjuk di depan mulutnya agar Zia tidak berisik. Semua masih dalam rencana karena Nala belum resmi menikah dengan Dandy.
Tetapi, Nala berhak memberitahukan dua anaknya tentang masalah ini. Keputusan Zia dan Zio adalah hal yang paling utama.
"Jadi bagaimana? Kalian mau kan, kalau seandainya uncle Dandy jadi Daddy kedua kalian?" tanya Nala sekali lagi memastikan.
Zia dan Zio kompak mengangguk setuju. "Aku mau sekali, Mom," jawab Zio yakin.
"Aku juga mau. Uncle Dandy kan sangat baik pada kita," sahut Zia tidak mau kalah.
Nala tersenyum lega. Akhirnya, Zia dan Zio sudah memberikan restunya.
.................
Malam akhirnya tiba. Dandy dan bu Dian baru saja datang dan duduk di sofa ruang tamu kediaman Bu Larasati. Sambutan ramah pun mengiringi langkah keduanya.
Bukannya apa. Bu Dian hanya ingin yang terbaik untuk putranya. Ternyata, keluarga Nala tidak seburuk yang ada di pikiran bu Dian. Sungguh, Bu Dian menyesal karena pernah menentang hubungan Nala dan Dandy hingga kebahagiaan putranya itu harus tertunda.
"Ayo, silahkan di minum teh-nya," ucap bu Laras mempersilahkan.
Nala dan Nanta tersenyum. Keduanya juga ikut mempersilahkan tante Dian untuk menikmati hidangan.
Setelah dirasa cukup dalam berbincang masalah ringan, bu Dian kembali bersuara dan kini terdengar lebih serius. Namun, nada suara lugasnya tidak mengurangi nada lembut yang sejak tadi ditunjukkan.
"Jadi begini, Jeng. Niat kedatangan kami kesini adalah untuk melamar Nala. Aku yakin, Nala pasti sudah bercerita padamu tentang masalah ini. Bagaimana? Apakah kamu setuju jika anak-anak kita menikah? Apakah kamu setuju menjadi besanku?" tanya bu Dian disertai kekehan yang membuat suasana mencair.
Semua ikut terkekeh. Bu Dian memang pandai dalam membawa diri saat bertemu dengan orang baru. Kecuali jika sudah tidak suka di awal perjumpaan, Bu Dian tidak segan-segan untuk menolaknya secara terang-terangan.
Bu Laras tersenyum. "Semuanya akan aku serahkan pada anak-anak, Jeng," jawab Bu Laras dengan pandangan menatap profil samping Nala.
"Jadi bagaimana, La? Apakah kamu bersedia menjadi istriku?" tanya Dandy yang kini ikut bersuara.
Nala menunduk lalu mengulum senyumnya. Dandy malam ini terlihat sangat tampan ketika mengenakan kemeja batik.
__ADS_1
"Aku bersedia, Mas," jawab Nala yang membuat semua orang yang berada di ruangan mengucap syukur.
Kini, tinggallah membahas hari pertunangan. Sebenarnya, Nala tidak ingin ada acara pertunangan lagi. Namun, mendengar bahwa ini adalah hal yang pertama untuk Dandy, Nala hanya menurut. Mungkin, Dandy dan ibunya ingin membuat pernikahan ini lebih berkesan dan membekas.
Dengan senang hati, Nala tentu menyetujui usul tersebut. Yang terpenting, semua tidak menyalahi aturan.
Tanggal pertunangan sudah ditentukan lima belas hari setelah acara lamaran diadakan. Sedangkan tanggal pernikahan, akan dilaksanakan seminggu setelah pertunangan.
Singkat memang. Namun, lebih cepat lebih baik.
"Aku sudah tidak sabar untuk menjadi suamimu. Bisa melihat kamu saat terbangun dari tidurku. Hal seperti itu yang begitu aku nantikan," ucap Dandy saat keduanya sudah duduk di teras belakang rumah.
Nala memiringkan kepalanya untuk bertemu tatap dengan Dandy yang duduk di sebelahnya.
"Hanya itu? Hanya sekedar menemani saat tidur?" tanya Nala heran.
Dandy menggeleng dan terkekeh pelan. "Tidak seperti itu. Aku ingin di setiap hari-hariku selalu melihat wajah cantikmu, mendengar keberisikan Zia dan Zio, bisa berbagi cerita apapun denganmu. Aku sudah tidak sabar lagi. Apalagi soal itu," ucap Dandy panjang lebar dengan menunjuk bibir Nala.
Nala sontak memegang bibirnya sendiri. "Apa maksudnya?" tanya Nala bingung.
Dandy tidak menjawab namun matanya menatap wajah Nala lekat-lekat. Karena tidak ada jarak di antara keduanya, Dandy bisa dengan mudah mendekatkan wajah.
Cup.
Dandy mencuri ciuman singkat di bibir Nala hingga membuat bulu halus di tubuh Nala meremang. Nala membeku di tempat ketika wajah Dandy begitu dekat dengan wajahnya. Apalagi, Nala bisa merasakan deru napas Dandy yang menerpa wajahnya.
"Aku mencintaimu, Asmaranala Hanindya," bisik Dandy lembut kemudian mencuri kecupan sekali lagi di rahang Nala.
Nala sampai menahan napas ketika merasakan gelenyar aneh yang berusaha ditekannya kuat-kuat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...huuh......
...jangan lupa kasih like, komen, vote, dan kasih hadiah semampu kalian ya 😘...
...mampir juga kesini yuk 👇...
__ADS_1