Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)

Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)
Bab 63. Zia dan Zio sakit


__ADS_3

Acara pesta di perusahaan milik Reigha akhirnya tiba. Nala sudah meminta tim-nya untuk mendesain sesuai dengan permintaan Reigha. Namun, Nala sedikit heran karena Reigha benar-benar tidak menampakkan diri setelah tragedi pengusiran kala itu.


Tetapi Nala mensyukuri hal itu. Setidaknya tidak ada yang akan mengganggu hari-hari Nala. Hingga acara selesai digelar, Nala sama sekali tidak melihat batang hidung Reigha.


Apakah Reigha benar-benar pergi sejauh mungkin dari jangkauan Nala? Oke. Seharusnya Nala tidak mengambil pusing semua itu. Dia akan memikirkan hal yang pantas untuk dipikirkan saja.


Nick yang sejak tadi memperhatikan Nala seperti mencari seseorang, memilih mendekati Nala yang kini sedang berdiri di samping meja prasmanan.


"Hai, Bu Nala," sapa Nick ramah dengan mengukir senyumnya.


Lamunan Nala tersentak dan menoleh kaget saat ada yang menyapa. "Hai. Kau asisten—" jawab Nala mengambang.


Nick mengangguk tanpa perlu Nala menyelesaikan kalimatnya. "Iya. Aku asisten Bos Reigha. Apa Anda mencarinya?" tanya Nick sambil mengangkat satu alisnya.


Alis Nala tampak bertaut. "Tidak. Aku tidak mencarinya," elak Nala.


Nick terkekeh pelan. "Beliau sudah pergi ke tempat yang jauh," ungkap Nick tanpa diminta.


Nala semakin mengernyit bingung. "Maaf. Tapi aku tidak mencarinya,"ucap Nala masih menyangkal.


"Lupakan. Oh ya, boleh saya meminta nomor rekening Anda? Bos memerintahkan saya agar mengirim uang bulanan untuk Zia dan Zio secara rutin. Sewaktu beliau pergi, mungkin Bos lupa memberi saya nomor rekening," ucap Nick panjang lebar.


"Tidak perlu. Saya masih bisa membiayai kebutuhan anak-anak kok. Anda tidak perlu khawatir," ketus Nala merasa tersinggung.


Nick menampakkan raut bersalahnya. "Maaf. Bukan saya bermaksud buruk. Ini hanya sebagai bentuk tanggung jawab Bos pada anak-anak. Bagaimanapun, Bos berkewajiban menafkahi anak-anaknya," jelas Nick meluruskan kesalahpahaman.


Nala terdiam sejenak. Dalam kepalanya muncul berbagai pertanyaan seputar kemana perginya Reigha. Terlalu gengsi untuk bertanya, Nala akhirnya kembali bersuara.


"Aku rasa itu tidak perlu. Saya masih mampu membiayai hidup Zia dan Zio. Kalau begitu saya permisi dulu, berhubung acara juga sudah selesai. Untuk sisanya biar orang-orang saya yang mengurus," ucap Nala kemudian tanpa menunggu jawaban dari Nick, Nala berlalu begitu saja.


Saat sudah berada di tempat parkir, Nala mendengsr ponselnya berdering. Saat benda pipih itu sudah berada genggaman, nama 'Ibu' terpampang disana sebagai orang yang menelepon.

__ADS_1


"Halo, Bu? Ada apa?" tanya Nala lembut sambil berjalan menuju mobilnya terparkir.


"Pulanglah, Nduk. Zia dan Zio mendadak demam sehabis mandi pagi tadi. Kamu harus segera pulang karena Zia selalu memanggil namamu, Nduk," beritahu bu Laras yang membuat Nala seketika menghentikan gerakan tangan yang akan membuka handel pintu.


"Aku pulang sekarang juga, Bu," ucap Nala panik kemudian segera melajukan mobilnya ke rumah.


Nala begitu khawatir karena apabila salah satu dari mereka ada yang sakit, maka satunya juga akan ikut sakit. Orang-orang mengatakan bahwa ikatan batin anak kembar sangat kuat.


Berulangkali Nala memukul gagang setir karena kemacetan seperti sedang menghalanginya agar sampai tepat waktu. Memang di jam makan siang seperti ini banyak para pegawai yang keluar mencari makanan.


Sekitar hampir satu jam, akhirnya mobil telah terparkir di pekarangan rumah. Nala bergegas turun dengan sedikit berlari agar cepat sampai pada anak-anaknya.


Nala menaiki tangga terburu-buru. Setelah berada di depan kamar Zia dan Zio, Nala membuka pintu kamar dengan kasar.


Brak.


Nala memejamkan mata, merasa menyesal karena sudah terburu-buru membuka pintu hingga bunyi gebrakan itu cukup keras.


"Pelan-pelan. Mereka baru saja tidur," ucap bu Laras berbisik.


Nala mengangguk kemudian menutup pintu dengan pelan. Setelah meletakan tas kerjanya, Nala mengambil posisi duduk di sisi ranjang milik Zio. Sedangkan bu Laras kini sedang duduk di sisi ranjang milik Zia.


Nala menempelkan punggung tangan di kening Zio dan seketika merasakan hawa panas di kulitnya. Nala membelalak tak percaya. "Ini panas sekali, Bu. Berapa suhu badannya?" tanya Nala setengah berbisik takut mengganggu tidur sang Buah Hati.


"Tiga puluh delapan koma lima. Panas sekali. Ibu sudah kasih parasetamol agar demamnya turun. Kalau nanti tidak turun juga, sebaiknya kita bawa ke dokter," jawab Bu Laras setelah berjalan mendekati ranjang Zio.


Nala mengangguk mengiyakan. Matanya menatap sendu pada dua anaknya. Nala bahkan sudah lupa kapan terakhir kali Zia dan Zio sakit. Karena keduanya anak sehat dan jarang sakit.


Dulu, Zia dan Zio akan demam jika sehabis di imunisasi. Entah sekarang demam yang disebabkan oleh apa. Mungkin juga karena pengaruh perubahan cuaca.


Tiba-tiba Nala merasakn tepukan lembut di bahunya. Nala menoleh dan mendapati ibunya sedang menatap Nala sendu.

__ADS_1


"Mereka akan baik-baik saja, ibu sangat yakin itu. Kita keluar dulu ya? Biarkan mereka beristirahat terlebih dahulu," ucap bu Laras menenangkan.


Nala mengangguk lalu beranjak dari kursi dan menggandeng lengan sang Ibu untuk keluar dari kamar Zia dan Zio.


.............


"Kenapa Mama malah tidak setuju dengan sikap Reigha yang sekarang ya, Pa?" ucap bu Nilam pada sang suamiz Yaitu pak Prabu.


Mereka sedang duduk dengan menonton televisi di siang hari. Seminggu yang lalu, Reigha tiba-tiba pulang ke Jakarta dan mengatakan ingin mengabdi pada perusahaan miliknya.


Entah dapat hidayah darimana? Yang pasti pak Prabu bisa menduga bahwa di Bogor pasti sedang tidak baik-baik saja. Namun, pak Prabu yakin jika semua itu karena Nala.


Mungkin saja usaha untuk kembali bersama Nala tidak mendapatkan timbal balik. "Papa juga kurang setuju. seminggu ini Reigha berubah menjadi seseorang yang workholic. Dia seperti mayat hidup yang sudah tidak mempunyai semangat," tebak pak Prabu yang dibenarkan oleh bu Nilam.


"Makanya, Papa tuh sama anak jangan tegaan. Anak sedang patah hati malah diledek dan dicibir. Dia kan jadi murung. Mama tidak suka sikap Reigha yang seperti sekarang, Pa," kesal bu Nilam sambil melayangkan pukulan di paha pak Prabu.


"Aw! Mama kenapa jadi memukul Papa sih? Kan Papa waktu itu membicarakan sebuah kenyataan. Buktinya, Nala benar-benar tidak ingin kembali bersama anak kita yang bodoh itu kan?" ucap pak Prabu yang lagi-lagi mendapat pukulan dari bu Nilam.


"Gitu-gitu juga anak kita, Pa. Tugas kita sebagai orangtua adalah mengarahkan ke jalan yang benar," kesal bu Nilam tidak hentinya membela sang putra.


Pak Prabu menghela napas kasar. "Iya, Iya. Maafkan Papa yang waktu itu kesal. Tetapi, menurut Papa Nala dan Reigha lebih baik seperti ini dulu," terang pak Prabu mulai berpikir melankolis.


"Papa gimana sih? Masa membiarkan Reigha seperti itu terus?" rengek bu Nilam merasa tidak terima.


"Bukan begitu maksud Papa. Nala dan Reigha memang harus diberi jarak dan waktu agar keduanya bisa saling meresapi keadaan. Pasti ada jalan keluar untuk mereka yang tersesat," jelas pak Prabu yang membuat bu Nilam terdiam dan tidak lagi protes.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...terima kasih atas dukungan yang selalu kalian berikan ya😍...


...sangat membantu sekali 🙏😘...

__ADS_1


__ADS_2