
Lima bulan kemudian.
Suasana rumah sakit tampak riuh karena adanya bu Laras dan bu Nilam yang panik. Nala mengalami kontraksi sehingga langsung dilarikan ke rumah sakit.
Sedangkan Reigha, keringat sudah mengucur deras dari dua pelipisnya. Dia begitu sulit menggambarkan perasaannya saat ini. Bahagia, takut, khawatir, dan gelisah menjadi satu. Saat sudah berada di ruang persalinan, Bu Laras dan bu Nilam dilarang masuk. Hanya sang Suami yang boleh menemani proses melahirkan.
Kontraksi yang Nala rasakan semakin lama saja dirasa. Nala yakin, sebentar lagi anaknya akan keluar.
"Mas. Aku akan segera melahirkan," ucap Nala dengan raut wajah meringis. Hal itu semakin membuat Reigha kepanikan lalu memanggil dokter yang akan menangani proses persalinan sang Istri.
"Dokter! Dokter! Istri saya sudah akan melahirkan! Tolong!" pekik Reigha di depan pintu ruangan. Bu Laras dan bu Nilam yang mendengar itu, langsung ikut berteriak untuk memanggil dokter.
"Dokter! Tolong!"
"Ssstt!!" ucap Dokter yang sudah muncul dari persembunyiannya.
Beliau geleng-geleng kepala lalu berkata. "Tenang ya. Tolong jangan buat kegaduhan. Kami akan segera menangani," ucap dokter lagi lalu masuk ke ruangan.
Setelah segala peralatan disiapkan, ada dua suster juga yang membantu, Nala baru diinterupsi untuk mengejan.
"Ayo, Bu. Tarik napas ... Dorong!"
"Tarik napas dulu! satu, dua, tiga!"
Oek ... Oek ... Oek.
Nala memejamkan mata lalu dengan cepat, air matanya tumpah ruah saat mendengar tangis bayinya. Nala juga merasakan kecupan di keningnya berulangkali yang pelakunya tidak lain adalah suaminya sendiri.
"Terima kasih, Sayang. Terima kasih karena telah melahirkan anak-anak yang banyak untukku. Aku sangat bahagia," ucap Reigha penuh rasa syukur.
__ADS_1
"Selamat ya, Pak, Bu. Anaknya perempuan," ucap sang dokter dengan senyum bahagianya.
Nala mengangguk dengan senyum harunya. Tangannya terulur untuk menggendong sang Anak. Dokter yang paham, langsung memberikannya pada sang ibu untuk melakukan Inisiasi Menyusui Dini.
"Kamu mau kasih nama dia siapa, Mas? Sudah siapkan nama kan? Kali ini kamu yang harus kasih nama anak kita. Karena saat Zia dan Zio, aku yang kasih nama." Nala berucap panjang lebar.
Reigha tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. "Dia aku beri nama Zaylin Cakrawala," jawab Reigha sambil tangannya bergerak mengelus pipi sang bayi mungil.
"Di azanin dulu, Dad," titah Nala yang segera dilakukan oleh Reigha. Setelah itu, hanya ada suara azan uang mengisi ruangan tersebut. Jujur. Nala terpana dengan suara sang Suami yang ternyata begitu merdu. Reigha adalah suami dan ayah yang baik untuk anak-anaknya.
Dari sekian banyak ujian yang menimpa, ada hikmah manis di dalamnya.
Sedangkan di tempat lain, Nanta dan Anjani saling tatap dengan raut wajah yang berbicara. Mereka baru saja menidurkan Zia dan Zio karena sudah jamnya tidur siang.
Mereka harus menjaga Zia dan Zio karena mbak Nalanya akan melahirkan. Karena Anjani sedang hamil dan harus banyak beristirahat, akhirnya bu Laras meminta Nanta dan Anjani untuk tetap di rumah.
"Iya. Aku tidak bisa bergerak bebas karena ada Zia dan Zio. Aku juga tidak ingin menganggu tidur siang mereka," jawab Anjani dengan suara yang rendah, takut membangunkan Zia dan Zio.
Akhirnya, mereka sepakat ke kamar tamu yang berada di rumah Nala dan Reigha. Bi Ati selalu membersihkannya setiap hari. "Mas Nanta?" panggil Anjani manja. Biasa, bawaan ibu hamil inginnya selalu disayang.
"Iya, Sayang? Tidurnya mau dipeluk?" tanya Nanta yang seketika membuat Anjani mengangguk antusias.
Nanta tersenyum lalu ikut berbaring di sebelah Anjani dengan lengannya yang dijadikan tumpuan untuk kepala sang Istri.
"Terima kasih karena telah bersedia mengandung anakku. Semoga, seberat apapun masa hamil kamu nanti, Tuhan akan meringankan. Dan aku akan siap sedia kapanpun kamu butuh. Terima kasih karena telah sudi menjadi istriku juga," ucap Nanta penuh rasa syukur.
Anjani tersipu malu lalu semakin menelusupkan wajah di dada milik sang Suami. "Aku juga berterima kasih karena kamu sudah sudi menjadi suamiku. Kamu juga yang telah membuat perutku melendung," jawab Anjani tergelak renyah.
Ya. keduanya telah menikah lima bulan yang lalu. Saat ini, Anjani tengah berbadan dua yang memasuki Minggu ke-12. Masih sangat rentan sehingga tidak boleh terlalu lelah.
__ADS_1
"Tidurlah, Sayang. Kamu harus tidur dengan cukup agar anak kita sehat," pinta Nanta lalu mengecupi seluruh bagian wajah Anjani. Mengabsennya satu-satu tanpa ada yang terlewat.
Hingga ciuman itu berakhir di bibir. Nanta menekannya cukup lama hingga membuat Anjani tersenyum dibuatnya.
"Tahan dulu ya, Mas. seenggaknya dua bulan lagi kamu harus puasa," ucapnya terdengar mengejek.
Nanta tersenyum jumawa. "Sampai kapanpun aku akan selalu menunggu. Aku tidak ingin membuat kamu maupun anakku tersakiti. Aku mencintaimu, Anjani Sayang."
Setelah mengucapkan itu, Anjani langsung tertidur pulas dalam pelukan Nanta.
Nanta ingin seperti terus hingga tua, hingga maut memisahkan cinta mereka. Tidak peduli seberapa besar ujian rumah tangga yang telah menantinya di depan sana. Nanta akan selalu menumbuhkan rasa cinta di hatinya dan hati Anjani.
.
.
...TAMAT...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Terima kasih banyak untuk kalian yang sudah setia menemani perjalananku menulis novel ini. Dukungan kalian begitu menyemangati perjalanan ini🌹
LOPE SEKEBON UNTUK KALIAN SEMUA😘😘
JANGAN LUPA MAMPIR DI KARYAKU YANG BARU YA. JUDULNYA 'SALAHKAH BILA AKU MENDUA'.
SAMPAI JUMPA DISANA😘😘
__ADS_1