
Reigha sedang makan siang bersama Sandra di kantin kantor. Tetapi entah mengapa, rasanya Reigha tidak berselera. "Ga? Kamu kenapa sih akhir-akhir sering sekali melamun? Jangan katakan kalau kamu sedang memikirkan Nala?" ucap Sandra dengan tatapan menyelidik.
Nick yang juga ikut makan siang, hanya melirik jengah pada keduanya. Dua orang yang sudah menghancurkan hati lain untuk meraih kebahagiaannya sendiri.
"Makan saja makanan kamu. Aku hanya sedang memikirkan reaksi mama," bohong Reigha kemudian segera melanjutkan makan siangnya.
Setelah makan siang selesai, mereka akhirnya memutuskan untuk kembali ke ruang kerja. Baru saja Reigha masuk ke ruangan, ponselnya berdering panjang menandakan ada telepon yang masuk.
Saat sudah melihat layar ponsel, nama Mama tertera disana. Reigha menghembuskan napasnya pelan sebelum menerima panggilan itu. Reigha yakin, Nala sudah menceritakan semuanya.
"Halo, Ma?" sapa Reigha berusaha bersikap biasa saja.
"Ga? Setelah pulang kerja ke rumah ya? Ada yang ingin mama dan papa bicarakan," ucap bu Nilam di seberang sana terdengar lembut. Hal itu berhasil membuat tubuh Reigha menegang seketika.
Apakah Nala sudah menceritakan semua? Lalu, mengapa mamanya terlihat biasa saja?
"Baiklah, Ma. Aku akan datang ke rumah sepulang kerja," jawab Reigha masih mempertahankan nada santainya. Dia tidak ingin terlihat gugup oleh sang Mama.
Setelah telepon terputus, Reigha menggeram kesal dengan kedua telapak tangan yang mengepal. "Aku pikir Nala pergi dengan meninggalkan kebaikan. Ternyata aku salah. Pasti ada sesuatu yang sedang ingin dia rencanakan," tuduh Reigha kesal.
Tidak terasa, sore kembali tiba. Bersama Nick, Reigha mengunjugi rumah orangtuanya. Setelah mobil terparkir di depan rumah orangtuanya, Reigha tidak langsung turun melainkan menyiapkan mentalnya terlebih dahulu.
"Bagaimana ini, Nick? Sebelumnya aku tidak pernah secemas ini. Nala pasti sudah merencanakan sesuatu, " ucap Reigha masih saja menyalahkan Nala.
Nick menghembuskan napasnya pelan. "Sebaiknya Bapak jangan sembarangan menuduh. Belum tentu Bu Nala seperti apa yang ada dipikiran Bapak," jawab Nick mencoba menyiramkan air di tempat yang sedang terbakar.
"Kamu tidak tahu saja bagaimana sikap Nala selama tujuh hari kemarin," kesal Reigha karena Nick terkesan membela Nala. Dia bergegas keluar untuk masuk lebih dalam lagi ke kediaman Cakrawala. Sedangkan Nick, dia memilih untuk menunggu di teras bersama pak satpam yang bekerja.
Sesampainya di ruang tamu, Reigha bisa melihat ada seorang pria paruh baya dengan pakaikan rapi yang duduk berhadapan dengan orangtuanya. Reigha mengernyit heran. Untuk mengetahui lebih lanjut, Reigha segera menyapa semua.
__ADS_1
"Selamat sore, Pa, Ma," sapa Reigha pada orangtuanya. Kemudian, Reigha beralih menyalami pria paruh baya di hadapannya. Tidak lupa, Reigha juga mengulas senyum tipisnya.
"Papa sudah tahu semua yang terjadi dalam rumah tanggamu," ucap pak Prabu berwajah sendu.
Reigha mengernyit heran ketika melihat raut sang Papa justru seperti kasihan, bukan lagi marah.
"Silahkan jelaskan tujuan Anda berkunjung kesini, Pak. Anak saya sudah datang dan siap mendengarkan," ucap pak Prabu lagi sambil menunjuk Reigha.
"Baiklah. Sebelumnya perkenalkan nama saya Andi Wicaksono. Saya adalah pengacara keluarga bu Larasati. Maksud kedatangan saya adalah untuk menyampaikan amanat dari Nona Asmaranala Hanindya. Dia sudah menandatangani surat dimana di dalamnya berisi penyerahan seluruh saham Cakrawala tanpa syarat apapun," ucap pak Andi menjelaskan kemudian memberikan jeda agar dipahami terlebih dahulu oleh tiga orang di depannya.
"Nona Nala hanya meminta agar perceraian diurus tanpa bertele-tele. Beliau ingin agar perceraian cepat selesai tanpa perlu membuat drama. Beliau tidak meminta apapun termasuk harta gono-gini. Dia sudah mengikhlaskan semua yang seharusnya menjadi haknya," jelas pak Andi lagi yang membuat Reigha seketika menyesal sudah menuduh Nala yang tidak-tidak.
Padahal, Nala sudah begitu baik menyerahkan saham yang harusnya sudah menjadi miliknya, justru memberikannya secara cuma-cuma.
"Apa ada yang ini ditanyakan, Pak, Bu?" tanya pak Andi lagi memastikan. Semua menggeleng serentak. Bu Nilam sejak tadi hanya diam, hatinya terlalu kecewa menerima semuanya. Bu Nilam tidak rela jika Nala menyerah begitu saja. Apalagi, Nala menyerahkan semua saham yang sudah diserahkan untuknya.
Bu Nilam takut Reigha akan salah jalan ketika menjalani kehidupan bersama seseorang yang tidak tepat.
Sepeninggalan pak Andi, tatapan pak Prabu tertuju pada Reigha. "Papa sudah tahu semuanya dari Nala. Maafkan Papa dan Mama yang sudah membuat kalian berdua tidak bahagia. Ini semua salah kami para orangtua yang sudah menjodohkan kalian berdua," sesal pak Prabu yang berhasil membuat Reigha terpaku.
"Iya, Mama juga ingin meminta maaf padamu terutama pada Nala. Karena kami, kalian tidak bisa hidup bahagia. Sekarang, Mama dan Papa akan menyerahkan semua keputusan pada kalian berdua. Asal itu yang terbaik, kami akan mendukungnya," imbuh bu Nilam sama menyesalnya.
Reigha tergugu di tempat. Mengapa kedua orangtuanya tidak menyalahkan Reigha sama sekali? Mengapa mereka justru meminta maaf? Apa kali ini Reigha juga sudah salah menduga?
Nala tidak seburuk itu. Batin Reigha terpaku.
Langkah kaki Reigha gontai saat keluar dari rumah orangtuanya. Setelah Reigha bertanya pada sang Mama, tidak ada satupun kata yang Nala ucapkan yang ditujukan untuk menjelekkan namanya. Justru, Nala mengatakan bahwa dia ingin melihat dirinya bahagia. Sebaik dan setulus itukah hati Nala?
................
__ADS_1
Sedangkan di tempat lain, Nala sudah bersiap untuk meninggalkan kota bersama Nanta. Ya, rencananya mereka akan pergi ke Singapura untuk menetap disana beberapa tahun.
Nanta yang ingin melanjutkan pendidikannya disana, sedangkan Nala, dia ingin menyembuhkan luka hatinya.
Masalah perceraiannya dengan Reigha, pak Andi yang akan mengurus semua.
"Jaga kesehatan kalian. Sering-seringlah pulang untuk menengok Ibu. Jangan menjadi anak yang tega karena sudah menelantarkan Ibu," ucap bu Laras memarahi namun dengan mata yang berkaca-kaca.
Nala tersenyum sendu kemudian memeluk sang Ibu. "Doakan Nala agar kembali dalam keadaan hati yang sudah direparasi ya, Bu," ucap Nala bercanda.
"Tenang, Bu. Nanta akan sering pulang. Lagian, Singapura-Indonesia tidak sejauh itu," jawab Nanta jumawa.
Bu Laras mengelus pipi anak laki-lakinya. "Jaga Mbak-mu ya? Jangan biarkan dia bersedih dan melamun sepanjang hari. Percuma jauh-jauh ke Singapura kalau hanya untuk melamun," ucap bu Laras disertai kekehan.
Nanta mengangkat jari jempolnya yanda setuju. "Ibu tenang saja. Mbak Nala akan aman bersama panglimanya," jawab Nanta jumawa.
Nala hanya bisa menatap sendu pada dua orang yang sangat berharga di hidupnya. Ibu dengan kasih sayang dan cintanya, sedangkan Nanta, dengan sikap melindunginya.
"Terima kasih ya, Bu, Nan," ucap Nala kemudian memeluk kedua orang itu.
Tidak berapa lama, terdengar suara pramuniaga yang mengatakan bahwa pesawat yang akan di tumpangi Nala dan Nanta akan segera berangkat.
"Kami pergi dulu ya, Bu. Jaga kesehatan ibu dan Nala akan sering-sering telepon," ucap Nala sebelum benar-benar pergi.
Nala dan Nanta melambai pada bu Laras yang kini sudah menangis karena akan ditinggal oleh kedua anaknya. "Kembalilah dalam keadaan yang sudah lebih baik, La. Kamu terlalu berharga untuk disia-siakan," gumam Bu Laras menatap sendu kepergian anak-anaknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...jangan lupa kasih dukungannya ya.....
__ADS_1
...mampir juga kesini yuk👇...