Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)

Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)
Bab 70. Gelisah


__ADS_3

"Akhirnya Reigha telah kembali ya, Pa. Zia dan Zio memang obat yang sangat mujarab untuk penyembuhan luka hati Reigha," ucap bu Nilam merasa bersyukur.


"Semoga setelah ini tidak ada lagi drama kesedihan. Papa ingin semua keluarga kita hidup bahagia," jawab pak Prabu dengan pandangan menatap Zia yang saat ini sedang menonton film kartun.


Zia tampak tenang dengan duduk bersandar di dada Reigha. Terlihat sangat nyaman.


"Kalian sedang membicarakanku tetapi, saat ada aku. Apa maksudnya?" tanya Reigha menatap kesal pada pak Prabu dan bu Nilam.


Dua orang paruh baya itu mengabaikan pertanyaan sang Putra dan memilih untuk bertanya pada cucunya. "Zia? Apakah cucu Oma sudah mengantuk? Kita tidur yuk?" ajak bu Nilam tersenyum manis.


Zia mengangguk. Namun, sebelum itu Zia menatap Daddy-nya terlebih dahulu untuk meminta persetujuan. "Bolehkan, Dad? Besok Zia janji akan tidur bersama Daddy," ucap Zia meminta izin.


Reigha mengangguk pasrah. "Boleh. Tidurlah, Sayang. Sampai jumpa besok pagi ya," ucap Reigha kemudian mengecup puncak kepala anaknya.

__ADS_1


Kini, tinggallah Reigha sedirian di ruang tengah setelah papa, mama, dan anaknya masuk ke kamar. Reigha kembali mengingat ucapan Zia yang mengatakan jika raut wajah Nala tampak tidak suka saat melihat dirinya bersama Anjani.


'Apakah Nala cemburu?' batin Reigha merasa senang.


Dia tersenyum lalu meluruskan kakinya ke tas meja dan kepalanya bersandar di bahu sofa. Tatapannya menerawang jauh, mengingat semua kenangannya bersama Nala. Semua seakan muncul kembali ke permukaan. Keinginan untuk menyerah, seakan telah padam yang berganti dengan rasa menggebu-gebu djs ingin memiliki Nala kembali.


'Apakah aku bisa membuat Nala kembali padaku? Semoga Tuhan memberiku kesempatan untuk memperbaiki semua,' batin Reigha lagi, berdoa.


Sedangkan di tempat lain, mata Nala seperti enggan terpejam. Entah karena memikirkan kepergian Dandy yang sepuluh hari lagi hampir genap seratus hari, atau memikirkan Zia yang saat ini tidak ada dalam dekapan.


Nala memukul kepalanya beberapa kali agar riuh-riak di kepala sedikit mereda. Beruntung, Zio sudah terlelap dan tidak perlu menyaksikan ibunya yang bersikap aneh.


Namun, rasa rindu pada sang putri seperti sudah menggunung. Padahal, belum ada sehari Zia pergi. Pertanyaan di kepala kembi muncul seperti, sedang apa anak itu? Apakah sudah tidur? Ternyata begitu menyiksa harus berpisah seperti ini dengan sang Anak. Akhirnya, Nala memilih memejamkan mata dan ikut tidur menyusul Zio.

__ADS_1


Pagi harinya.


Nala sudah bangun dan memasak sarapan untuk Zio dan ibunya. Setelah selesai, Nala menatanya di atas meja dan berniat untuk membangunkan Zio yang sepertinya masih tertidur.


Namun, dugaannya salah. Ternyata Zio sudah bangun bahkan mandi. Nala menatap heran ke arah sang Anak. "Zio? Kapan kamu bangun? Kenapa sudah mandi?" tanya Nala tidak habis pikir.


Zio tersenyum tipis. "Oma yang sudah membangunkan dan memandikan Zio, Mom," jawab Zio yang membuat kebingungan Nala akhirnya terjawab.


Tidak berapa lama, bu Laras muncul di belakang Zio dengan mengulas senyum tipisnya. "Kamu pasti terkejut bukan?" tanya bu Laras meledek.


Nala terkekeh lalu geleng-geleng kepala. "Terima kasih ya, Bu," ucap Nala tulus.


Akhirnya, ketiganya sarapan bersama. Ada rasa hampa ketiga tidak ada kehadiran Zia. Biasanya, gadis kecil itu akan berceloteh panjang lebar saat makan bersama seperti ini.

__ADS_1


Mengingat itu, selera makan Nala mendadak hilang. Pikirkan buruk seketika hadir kembali.


"Bu? Zia sedang apa ya? Kenapa aku kepikiran Zia terus?" tanya Nala mengungkapkan kegelisahannya.


__ADS_2