Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)

Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)
Bab 68. Tindakan bodoh


__ADS_3

Nala berusaha mengembalikan kesadarannya yang sempat terenggut. Baiklah. Nala memang harus berpikir logis bahwa seorang laki-laki memang tidak bisa hidup sendirian terlalu lama. Namun, secepat itukah?


Nala menarik dan menghembuskan napasnya kasar. Dia berjalan menghampiri anak-anak yang kini sudah diturunkan dari gendongan Reigha.


"Mommy pikir kalian dimana. Ayo ke dalam! Oma sudah menunggu kalian," ucap Nala pada Zia dan Zio. Nala sengaja tidak menyapa Reigha dan menganggap laki-laki itu saat ini tidak ada di hadapannya.


"Tetapi Zia masih rindu dengan Daddy. Kenapa kita tidak tinggal bersama saja sih, Mom," rengek Zia sambil menggerucutkan bibirnya kesal.


"Kaya Mommy kan, Daddy harus bekerja, Zia. Jadi, lain kali kita bisa bertemu dengan Daddy lagi setelah Daddy pulang. Bukankah seperti itu Mom, Dad?" tanya Zio meminta persetujuan.


Nala dan Reigha saling lempar pandang. Walau hanya sebentar, nyatanya mampu membuat rindu yang ada di hati Reigha sedikit terobati.


Reigha tersenyum dengan jemari yang mengacak rambut Zia dan Zio gemas. "Tentu saja. Daddy akan datang jika Mommy kalian mengizinkan. Sekarang, meminta izinlah pada Mommy agar Daddy diperbolehkan untuk tinggal bersama kalian" jawab Reigha yang membuat Nala seketika mencebikkan bibirnya.


'Apa-apaan ini? Apa dia tidak bisa menjaga perasaan wanita di sampingnya? Cih, dasar laki-laki buaya. Sekali buaya, tetap saja buaya,' gerutu Nala dalam hati.


Zia dan Zio mengangguk polos. "Boleh kan, Mom?" tanya Zia dengan penuh harap.


Nala menghela napas pelan. "Tidak bisa seperti itu, Sayang. Mommy dan Daddy tidak mungkin tinggal bersama lagi," jawab Nala lelah.


"Tapi kenapa, Mom? Anak-anak lain bahkan tinggal bersama ayah dan ibunya. Mengapa ayah dan ibu kita tinggal di tempat yang terpisah?" cecar Zia seakan belum puas dengan jawaban yang Nala berikan.


"Bukankah Mommy sudah pernah menjelaskan pada kalian? Kalian adalah anak-anak hebat dan cerdas. Jadi, Mommy yakin kalian akan mengerti," ucap Nala memberi pengertian.


Zia dan Zio menunduk dalam. "Baiklah. Zio akan tetap ikut Mommy," putus Zio pada akhirnya. Kemudian, Zio memegang jemari Nala untuk digenggamnya.

__ADS_1


Sedangkan Zia yang berada di tengah-tengah, seketika merasa bimbang. Apakah dia harus ikut Mommy atau Daddy.


"Zia? Kesini, Sayang," ajak Nala lembut, berharap sang putri juga akan berlari ke arahnya.


Namun, dugaan Nala salah. Zia justru mendekat pada Reigha dan memegang jemari sang Ayah. Nala menatap nanar sikap Zia yang kini tidak lagi patuh padanya.


"Zia? Zia tidak ingin ikut Mommy?" tanya Nala memastikan.


Zia yang berada di seberang, menggeleng kuat. "Zia ingin tinggal bersama Daddy," jawab sang Putri.


Nala merasa, seperti ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya. Mengapa rasanya sesakit ini mendengar pernyataan anak perempuan yang sudah Nala besarkan sendirian, mengatakan memilih ingin tinggal bersama sang Ayah yang dulu sama sekali tidak peduli atas kehadirannya di dunia.


Reigha cukup terkejut ketika Zia justru berlari ke arahnya. Dia tidak menyangka bahwa ikatan batinnya dan Zia begitu kuat. Namun, Reigha tidak bisa melihat wajah Nala yang tampak kecewa juga murung ketika menyaksikan Zia lebih memilih dirinya.


Nala mengangguk pasrah. "Baiklah jika itu maumu. Pergilah bersama Daddy-mu," ucap Nala kecewa.


Keduanya saling mengulas senyum karena rencana yang mereka susun akan segera terjadi. Yaitu, menyatukan ayah dan ibunya kembali.


"Zia?" panggil Nala yang membuat Zia kembali merubah raut wajahnya menjadi cemberut.


Nala berjongkok di hadapan Zia agar tinggi badannya sejajar. "Kamu jangan nakal ya? Kamu harus tetap menjadi anak yang baik," pesan Nala sambil mengelus surai kecoklatan milik sang Putri.


Zia mengangguk lalu memeluk leher ibunya. "Pasti, Mom. Zia akan tetap menjadi anak baiknya Mommy dan Daddy," jawab Zia sambil matanya mengerling ke arah Zio.


Interaksi Zia dan Zio tidak luput dari pandangan Anjani. Bisa Anjani duga jika mereka berempat adalah atau keluarga. Namun, mereka harus berpisah karena orangtuanya bercerai.

__ADS_1


Anjani tersenyum tipis. 'Sepertinya, anak-anak itu sangatlah cerdas,' batin Anjani memuji.


Sepulang dari pesta, Zia tidak ikut bersama Nala. Hal itu tentu menjadi sebuah tanya untuk bu Laras. "Zia kemana, La? Jangan katakan jika kamu kesal pada putrimu lalu membuangnya," tuduh bu Laras dengan tatapan penuh selidik.


Nala memutar bola matanya malas. "Mana tega aku seperti itu, Bu. Kami tadi bertemu dengan Reigha," ungkap Nala yang membuat wajah bu Laras seketika menegang.


"Lalu? Zia ikut bersama Reigha, begitu maksud kamu?" tanya bu Laras panik.


Nala mengangguk membenarkan. Hal itu juga dibenarkan oleh Zio yang menyaksikan drama yang dibuat oleh dirinya dan sang kembaran.


"Benar sekali, Oma. Zia ingin ikut bersama Daddy. Bukankah Daddy juga orangtua kami? Kami juga berhak menentukan pada siapa akan tinggal. Kami juga rindu Daddy dan ingin tinggal bersama Daddy," ucap Zio dengan wajah polosnya.


Bu Laras yang semula akan marah mendadak urung setelah melihat raut sedih di wajah sang cucu. Dalam hati, timbul rasa bersalah karena menjadi salah satu orang yang menentang hubungan Reigha dan Nala. Dengan begitu, sama saja bu Laras telah memisahkan anak-anak dengan ayahnya.


Bu Laras menarik dan menghembuskan napasnya kasar. "Kamu ... Tidak apa-apa kan, La?" tanya bu Laras menanyakan perasaan anaknya terlebih dahulu. Tidak ada hal yang lebih penting selain mengetahui bahwa anak dan cucunya dalam keadaan baik-baik saja.


"Aku baik-baik saja, Bu. Sudah semestinya anak-anak mendapatkan kasih sayang dari ayah dan ibunya. Mereka berhak atas semua itu dan aku akan menyesal seumur hidup jika sampai anak-anakku tumbuh tanpa ada figur seorang ayah," jawab Nala yang mulai berbesar hati menerima kenyataan yang ada.


Walau Nala maupun Reigha bisa menikah lagi, nyatanya hal tersebut tidak mampu merubah identitas anak-anaknya yang merupakan darah daging mereka. Zia dan Zio tetaplah anak dari Nala dan Reigha.


Namun yang menjadi sebuah pikiran di kepala Nala adalah, apakah perempuan yang bersama Reigha tadi adalah kekasih dari mantan suaminya? Nala menghembuskan napasnya kasar. Mengapa hal itu justru yang paling mengganggu dan paling berisik di kepalanya?


Bukankah Nala sudah melupakan Reigha? Harusnya Nala tidak perlu repot-repot memikirkan pria itu lagi. Nala pun memukul kepalanya beberapa kali hingga membuat orang-orang yang berada dalam satu mobil dengannya kebingungan sekaligus khawatir.


"Nala? Kamu kenapa? Kamu pusing kah?" tanya bu Laras yang kini sudah memegangi tangan Nala agar tidak memukul kepalanya lagi.

__ADS_1


Nala pun tersadar bahwa tindakannya barusan adalah hal yang paling bodoh. Nala meringis malu lalu bersuara.


"Iya, Bu. Aku pusing karena tadi sampai lupa makan di pesta pernikahan," jawab Nala tidak sepenuhnya berbohong.


__ADS_2