Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)

Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)
Bab 24. Ada kami


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju Bogor, mata Nala tidak pernah lepas menatap pemandangan jalanan yang banyak lalu-lalang kendaraan yang berjalan dengan kecepatan di atas 130 km/jam. Wajar, jalan yang Nala lewati merupakan jalan tol. Butuh waktu satu setengah jam agar Nala sampai di rumah ibunda.


Entah, Nala tidak tahu harus mengatakan alasan apa yang membawanya kembali pulang. Rasanya, Nala belum siap untuk menceritakan semua pada sang Ibunda.


Nala kembali menangis ketika mengingat kenangan bersama Reigha berputar di kepala. Suasana malam benar-benar membuat suasana hatinya bertambah sendu.


Nala menghembuskan napasnya lelah, seakan ingin mengeluarkan sesak yang menghimpit rongga dadanya.


Terlalu cepat semua berlalu dan terasa bagai mimpi di tidurnya. Nala memejamkan mata untuk menikmati rasa nyeri dan sesak yang kini menjalar di hatinya.


Matanya sudah bengkak karena sepanjang perjalanan Nala habiskan untuk menangis. Hingga tidak terasa, mobil memasuki kota Bogor. Setelah mengatakan alamatnya, pak sopir kembali membawa Nala menuju perumahan dimana sang Ibunda tinggal.


Setelah sopir menurunkannya, Nala tidak langsung masuk. Dia tampak ragu apakah harus jujur atau menyembunyikan kenyataan yang ada. Namun, menyembunyikannya juga sudah tidak berguna. Sebentar lagi dirinya akan berpisah dengan Reigha.


Mengingat itu membuat Nala kembali merasakan sesak. Nala menghembuskan napasnya pelan kemudian menekan bel uang terletak di pojok kiri gerbang.


Hanya gerbang besi dimana tamu yang akan berkunjung bisa tahu aktifitas yang sedang dilakukan pemilik rumah jika sedang berada di teras atau halaman depan.


Waktu sudah menunjukkan pukul sebelass malam dan Nala yakin, entah ibu atau Nanta pasti belum tidur. Nala bisa menerka karena semua lampu di setiap ruangan masih menyala.


Nala ingin kembali menekan bel saat akhirnya pintu rumah berwarna coklat itu terbuka. Nala urung melakukannya dan memerhatikan siapa yang telah membukakan pintu.


Nanta berjalan tergesa-gesa ke arahnya. "Loh, Mbak Nala kenapa?" tanya Nanta saat melihat Nala datang dengan membawa koper yang begitu besar.


Belum apa-apa, Nala sudah sesenggukan saat baru saja ditanya seperti itu oleh adiknya. Nala menggeleng dan saat gerbang itu terbuka, Nala langsung berhambur ke pelukan sang adik yang tingginya kini sudah melebihi tingginya.


"Mbak?" ucap Nanta lembut.


Nala menjauhkan wajahnya untuk menatap Nanta. "Kita masuk dulu. Ibu sejak tadi tidak bisa tidur memikirkan, Mbak Nala," ucap Nanta yang membuat hati Nala terenyuh.

__ADS_1


Tanpa mengatakannya, sang ibu seperti sudah punya firasat bahwa anaknya sedang tidak baik-baik saja. Nala mengangguk kemudian mengikuti langkah Nanta yang kini sudah mengambil alih koper yang dibawanya.


Sesampainya di ruang tengah, Nala bisa melihat ibunya yang sedang memijat pelipis.


"Ibu?" ucap Nala bergetar.


Bu Laras menoleh dengan pandangan menatap keadaan Nala yang begitu menyedihkan. "Ya ampun, Nduk. Apa yang sudah terjadi? Kenapa mata kamu sembab begitu? Nduk ... Nduk ...." Bu Laras bergetar menahan tangis kemudian segera membawa Nala ke dalam dekapan.


"Ada apa sebenarnya sampai perasaan Ibu menjadi tidak tenang?" tanya bu Laras sambil menatap lekat mata anaknya.


Nala semakin sesenggukan saat ditanya seperti itu. Hatinya begitu rapuh dan sensitif akhir-akhir ini. "Aku akan ... Berpisah dengan mas Reigha, Bu," jawab Nala susah payah.


Bu Laras begitu terkejut hingga menutup mulutnya dengan telapak tangan. Tanpa mencecar banyak pertanyaan, Bu Laras kembali memeluk putri kesayangannya. Tidak ada kata yang terucap. Nala tahu, ibunya ingin menenangkan dan mengatakan bahwa dia ada untuk Nala.


"Mbak? Apa yang sudah laki-laki itu lakukan pada Mbak Nala? Katakan dan aku akan memberikan pelajaran," geram Nanta dengan kedua tangannya mengepal dan rahang yang mengeras.


Nala menggeleng. "Tidak ada. Semua salah Mbak yang terlalu memaksa keadaan. Memaksakan diri agar dicintai suami sendiri. Memaksa mas Reigha agar mau menatapku sekali saja. Mbak egois karena sudah membuat mas Reigha tidak bahagia. Harusnya aku tidak ada di antara mereka, Nan. Aku yang salah," ucap Nala dengan air mata yang berderai.


Bu Laras memegang bahu Nala. "Ibu tahu apa yang kamu rasakan. Ibu juga merasakannya disini," ucap bu Laras lirih kemudian menunjuk dadanya yang ikut berdenyut nyeri menyaksikan putri kesayangannya sedang terombang-ambing diterpa angin badai.


Nanta yang juga menyayangi kakaknya, memeluk Nala erat dan berjanji dalam hati untuk selalu melindungi kakaknya.


"Jangan bersedih lagi, Mbak. Ada kami disini. Rumah ini masih rumah Mbak Nala. Mbak bisa datang dan pergi kapan saja sesuka Mbak Nala," ucap Nanta dengan tangan yang bergerak naik-turun mengelus punggung Nala.


Nala semakin sesenggukan. Nanta bukan lagi anak kecil yang dulu selalu mengganggunya. Nanta sudah dewasa dan pemikirannya juga terbawa.


"Jangan pikirkan apapun lagi yang menyakiti hati Mbak Nala. Mbak Nala berhak bahagia," ucap Nanta yang kini melerai pelukan kemudian berbalik untuk menghalau air matanya yang akan tumpah.


Nanta tidak rela kakaknya disakiti. Nanta juga ikut terluka saat melihat kakaknya menangis penuh luka. Hatinya seperti tersayat ribuan belati.

__ADS_1


Sedangkan di tempat lain, Reigha berjalan memasuki rumah. Hal yang pertama kali Reigha dari adalah Nala. Biasanya Nala akan menyambut Reigha ketika baru tiba di rumahnya.


Namun, kali terasa berbeda. Tidak ada Nala yang menyambut dengan senyum manisnya. "Kemana dia? Apa dia masih marah padaku?" monolog Reigha kemudian bergegas menaiki tangga.


Saat sudah sampai di depan pintu kamar, Reigha memutar kenop dan membuka pintu lebar. Pemandangan yang pertama kali dilihatnya adalah gelap, seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan.


Mungkin Nala sudah tidur. Pikir Reigha sesimpel itu.


Akhirnya, Reigha menyalakan lampu dan melihat ranjang masih sangat rapi. Reigha mengerjap heran. Setelah sadar, jantung Reigha seketika berdetak tidak karuan. Dia berjalan menuju lemari dimana baju Nala di simpan.


Saat pintu lemari terbuka, isinya sudah tidak ada disana, dimana baju Nala diletakkan. Pikiran Reigha semakin tidak karuan. "Apa kamu benar-benar pergi malam ini? Secepat itu?" monolog Reigha yang segera menuruni anak tangga untuk menemui bi Ati.


Terpaksa Reigha mendatangi ruang belakang karena Reigha yakin, bi Ati sudah tidur.


Tok. Tok. Tok.


Reigha mengetuk pintu kamar bi Ati yang tidak berapa lama, pintu akhirnya terbuka.


"Ada apa, Pak? Apa Bapak brih bantuan?" tanya bi Ati dengan wajah yang begitu lelah.


"Nala kemana, Bi? Apa Bibi tahu?" tanya Reigha cemas.


Bi Ati langsung merubah raut wajah menjadi datar. "Bu Nala sudah pergi. Katanya mau pulang," jawab bi Ati yang berhasil membuat perasaan Reigha menjadi tidak karuan.


"Apa ini? harusnya aku merasa senang, karena sebentar lagi akan hidup bersama Sandra," batin Reigha bertanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...jangan lupa like, komen, vote dan kasih hadiah semampu kalian ya.....

__ADS_1


...mampir juga kesini yuk 👇...



__ADS_2