Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)

Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)
Bab 52. Sudah ada rasa


__ADS_3

Zia dan Zio begitu antusias dan bahagia ketika melihat berbagai jenis hewan di taman safari. Apalagi saat keduanya memberi makan hewan-hewan herbivora dengan wortel dan sayuran yang sempat dibeli di pintu masuk kebun binatang.


Dan yang paling membuat Zia dan Zio histeris adalah, pada saat memberikan makan singa di alam terbuka. Mereka tentu menaiki sebuah mobil khusus yang seperti kandang besi. Ya, dunia seperti sedang berbalik saat memberi makan singa-singa disana. Manusialah yang harus dikurung agar terselamatkan dari hewan buas bernama singa.


Nala yang sebagai orang dewasa, juga merasa sangat antusias saat memberi makan singa. Rasanya begitu mendebarkan saat melihat taring singa dengan jarak yang sangat dekat.


Setelah puas berkeliling melihat-lihat hewan, kini mereka mengunjungi wahana bermain yang masih berada di satu kawasan dengan taman safari.


Banyak sekali wahana permainan yang bisa dicoba seperti kora-kora, histeria, rumah hantu, rollercoaster, dan masih banyak lagi.


Namun, Nala memilih untuk membawa Zia dan Zio melihat pertunjukkan harimau yang bersahabat dengan manusia.


Ada kengerian tersendiri ketika melihat harimau itu berpelukan dengan pawangnya. Bayangan sang Pawang akan diterkam nyatanya salah besar. Pertunjukkan berhasil di gelar.


Nala sungguh merasa lelah karena sudah berjam-jam berkeliling. Dandy yang menyadari itu, mengajak semua untuk makan terlebih dahulu.


"Zia! Zio! Kita istirahat dulu ya? Tuh, Mommy kalian sudah kelelahan," tunjuk Dandy pada Nala.


Nala hanya tersenyum tipis, membenarkan ucapan Dandy. Nanta mengangguk menyetujui. Dia juga sangat lelah seharian berkeliling di taman safari.


"Baiklah. Tetapi setelah ini, Zia ingin bermain di rumah hantu ya?" ucap Zia dengan raut memohonnya.


"Memangnya berani?" tanya Dandy masih setia menggendong Zia, berjalan menuju salah satu rumah makan di area tersebut.


"Berani dong. Kan ada Uncle Nanta," kelakar Zia sambil melirik Nanta yang berjalan di samping Dandy dengan Zio berada di gendongan.


Nala tergelak renyah. "Uncle kalian saja takut kalau masuk rumah hantu," cibir Nala seperti sudah sangat paham.


"Ish! Kata siapa?" tanya Nanta tidak terima.

__ADS_1


"Ya kata aku-lah. Pernah tuh, kamu nangis kejer di wahana rumah hantu karena saat itu, ada kepala boneka yang jatuh di kaki kamu. Mbak sih ingat sekali masa-masa itu," ledek Nala yang membuat semua tergelak renyah.


"Oh ya? Berarti Nanta takut nih?" tanya Dandy itu meledek.


"Ish! Kalian ya," kesal Nanta sambil mencebikkan bibirnya.


Mereka kembali tertawa bahagia. Hari itu dilewati dengan baik dan berlangsung lancar. Banyak kesempatan yang bisa Dandy gunakan untuk membuatnya semakin dekat dengan Nala.


Seperti berpegangan tangan saat bermain wahana histeria, memeluk Nala saat berada di rumah hantu. Dandy sangat bahagia. Sedangkan Zia dan Zio, anak kembar itu selalu ikut kemanapun Nanta pergi.


Dan yang membuat Dandy semakin bersyukur, Nanta seperti sedang memberinya ruang agar lebih dekat lagi dengan kakaknya.


Kini, semua sudah berada di mobil dan sedang dalam perjalanan pulang. Pukul delapan malam, mobil yang dikendarai masih berbaur dengan kemacetan.


Zia dan Zio sudah tertidur di jok belakang bersama Nanta. Saat Nala menoleh, Nanta ternyata ikut terlelap juga.


Gerakan Nala tidak luput dari pandangan Dandy. "Semua sudah tidur ya?" tanya Dandy dengan senyum terukir di bibirnya.


"Lelah sih. Tetapi, lelah itu langsung sirna saat aku melihat senyum manismu," jawab Dandy merayu.


Nala berdecak sebal. "Ck. Issh! Gombal deh," sangkal Nala dengan pipi yang mulai bersemu.


"Ih, aku lihat muka kamu merah loh. Apa itu tandanya kamu sedang salah tingkah?" tanya Dandy tak bosan-bosan menggoda Nala.


"Tolong deh, Mas. Fokus nyetir dulu bisa tidak?" kesal Nala sambil memukul pelan lengan Dandy.


Dandy terkekeh, bangga sekali bisa membuat pipi Nala bersemu merah.


Tepat pukul sepuluh malam, mobil yang dikendarai Dandy berhenti di pekarangan rumah bu Laras. Nala menoleh ke belakang, sesaat setelah mobilnya berhenti.

__ADS_1


Zia dan Zio sudah nampak pulas. Sedangkan Nanta, dia mulai menggerjap ketika menyadari mobil tidak lagi bergerak.


"Sudah sampai ya, Mbak?" tanya Nanta sambil menggeliat kecil saat matanya bertemu tatap dengan Nala.


"Sudah. Kamu gendong Zia tidak apa-apa kan? Biar Mbak yang gendong Zio," ucap Nala meminta tolong.


Nanta mengangguk mengiyakan lalu segera turun lebih dulu.


"Bisa tidak, Nan? Kalau kamu masih mengantuk, biar aku saja yang gendong Zia dan Zio," ucap Dandy yang kini sudah dengan sigap turun dari kemudi.


Kini, Zia dan Zio sudah berada di gendongan Dandy dengan Zia berada sebelah kiri dan Zio di sebelah kanan. Bahkan, tidur dua bocah kembar itu sama sekali tidak terganggu seluruh berpindah di gendongan Dandy.


Nala juga sudah turun dan menyaksikan bagaimana Dandy yang kini sedang menjelma sebagai sosok ayah untuk anak-anaknya. Sosok seorang ayah yang sudah lama sekali Nala cari.


Nala masih setia memandangi punggung Dandy yang berjalan memasuki rumah dengan perasaan yang ... Berdebar-debar.


Debaran jantung yang sudah lama sekali tidak dirasakannya. Debaran jantungnya kali ini sangat berbeda dengan debaran jantung saat bertemu Reigha. Rasanya, kali ini lebih istimewa.


"Jangan hanya dipandangi, Mbak. Cepat katakan jika Mbak Nala mencintai mas Dandy," seru Nanta tiba-tiba yang memang sejak tadi belum beranjak dari sana.


Nala menoleh kesal pada Nanta yang sudah sembarangan berbicara. "Tahu apa kamu, Nan," kesal Nala sambil mencebikkan bibirnya.


Nanta tergelak kemudian mengacak rambut Nala. "Aku tahu dari tatapan Mbak Nala. Mungkin tanpa disadari, Mbak Nala sudah jatuh cinta dengan pesona Dandy Atmajaya," celetuk Nanta kemudian menyenggol lengan Nala.


"Kejar gih. Katakan bahwa Mbak Nala sudah ada rasa," saran Nanta yang membuat Nala mengerutkan alis bingung.


"Apa cinta itu harus diungkap dengan kata-kata? Bukankah perbuatan saja sudah cukup?" tanya Nala yang mendadak loading.


Nanta berdecak sebal. "Memangnya mas Dandy bisa mendengar suara hati Mbak Nala? Saran aku sih, lebih baik Mbak Nala katakan jika saat ini sudah mencintainya. Itu pasti akan membuat hati Mbak Nala merasa lega," ucap Nanta lagi panjang lebar, seakan sudah paham dan berpengalaman dalam sebuah cinta.

__ADS_1


Nala terdiam, mencoba mencerna ucapan Nanta yang memang ada benarnya.


__ADS_2