Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)

Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)
Bab 80. Yakin seratus persen


__ADS_3

Acara doa telah berlangsung beberapa menit yang lalu. Nala ikut duduk bersila di atas karpet yang di sampingnya ada bu Dian. Nala melirik sekilas pada bu Dian yang sejak tadi menunduk dalam. Saat Nala amati dengan baik, Nala bisa melihat ada cairan bening yang menetes di pipi bu Dian.


Nala terenyuh. Dia mengulurkan tangan untuk memeluk bahu bu Dian. Perasaan ibu yang kehilangan anak memang sangat menyakitkan. Apalagi, Dandy adalah anak semata wayang.


Nala bisa Melia raut terkejut yang ditunjukan dari wajah yang sudah tak muda lagi tersebut. Nala tersenyum hangat untuk menyemangati sosok ibu di sampingnya.


"Terima kasih ya, La," ucap bu Dian lirih sambil mengulas senyum haru.


Nala mengangguk. Tangannya bergerak naik-turun mengelus bahu bu Dian lembut. Dia berharap dengan sentuhan itu, Bu Dian bisa lebih tenang. Karena Nala juga merasakan sulitnya menerima kenyataan.


Sekitar satu jam, acara doa akhirnya selesai. Para kerabat dan dan tetangga kompleks satu-persatu mulai berpamitan. Kini, hanya tinggal beberapa kerabat yang masih tinggal.


Setelah keadaan lebih sepi, Bu Dian mengajak Nala untuk duduk di sofa ruang tengah. Dari ruangan ini, Nala bisa melihat Reigha yang berada di teras belakang bersama seorang pria paruh baya. Keduanya tampak mengobrol santai.

__ADS_1


Bu Dian yang paham kemana arah tatapan Nala, tersenyum tipis. "Reigha sudah berubah," celetuk bu Dian tiba-tiba.


"Hah?" Nala bingung karena tiba-tiba bu Dian mengucapkan tentang Reigha.


"Tante tahu kok kalau saat ini kamu sedang menatapnya. Tante yakin seratus persen jika Reigha sudah berubah," ulang bu Dian lagi dengan senyuman. Seakan tidak masalah jika seandainya Nala kembali dengan Reigha.


"Apa Tante kenal dekat dengan Reigha?" tanya Nala bingung.


"Kenapa aku tidak tahu itu ya, Tan? Kenapa Reigha tidak pernah bercerita dulu?" tanya Nala penasaran.


Bu Dian menghembuskan napas pelan. "Semua sikap baik Reigha berubah saat dia mulai menjalin hubungan dengan Sandra. Reigha sudah tidak sehangat dulu. Entah racun apa yang sudah Sandra berikan padanya. Yang pasti, bukannya berubah ke arah yang lebih baik, malah lebih ke toxic. Itu menurut Tante ya. Tetapi, Reigha keras kepala dan enggan untuk di nasehati," ungkap bu Dian dengan tatapan menerawang.


Nala menganggukkan kepala paham. "Kok jadi bahas Reigha sih, Tan," ucap Nala sambil menggaruk hidungnya yang tidak gatal.

__ADS_1


Bu Dian tersenyum. "Tidak apa-apa. Barangkali kamu butuh pertimbangan," jawab Bu Dian yang membuat Nala membulatkan mata.


"Hah? Maksudnya, Tan?" tanya Nala bingung.


Bu Dian tertawa lepas. Tawa yang sudah lama sekali tidak terlihat. "Lupakan," ucap bu Dian saat tawanya telah reda.


Obrolan keduanya mengalir begitu saja hingga tanpa terasa, waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam. Nala memilih pamit yang juga dilakukan oleh Reigha.


Saat sudah berada di dekat mobil, Reigha menoleh pada Nala yang ternyata, juga sedang menatapnya. Tatapan lekat hingga membuat Reigha gugup.


"Kamu ... Benar mau menyetir sendiri? Ini sudah malam loh, La," tanya Reigha sekali lagi.


Nala mengangguk yakin dengan seulas senyum tipis. "Aku duluan ya, Mas," ucap Nala kemudian bergegas masuk ke mobil.

__ADS_1


__ADS_2