
Reigha membawa Zia dan Zio ke kantornya. Dia juga ingin merasakan bagaimana sulitnya menjadi Nala yang mengurus dua anak yang masih kecil.
Zia dan Zio terlihat antusias ketika memasuki gedung kantor yang berlantai tiga itu. Ya, gedung kantor Reigha belum cukup tinggi untuk menyamai gedung kantor Cakrawala Grup.
"Zia dan Zio ikut Daddy, Sayang," pinta Reigha saat dua anak kembar itu tidak berjalan dengan benar.
Reigha ingin menuntun dua anaknya namun tangannya sudah penuh akan barang bawaan untuk kebutuhan Zia dan Zio. Seperti susu dan makan siang keduanya yang diletakkan di dalam tas besar.
Zia dan Zio menurut lalu mengikuti langkah daddy-nya memasuki lift. "Ini kantor Daddy atau kantor Opa?" tanya Zia dengan wajah polosnya.
"Ini kantor Daddy, Sayang," jawab Reigha telaten.
"Kenapa Daddy memencet angka tiga? Apa ruangan Daddy ada di lantai tiga?" tanya Zio yang lebih teliti dengan gerakan orang-orang yang berada di sekitarnya.
Reigha terkekeh geli. "Iya, ruangan Daddy ada di lantai tiga. Kalian memang anak yang cerdas," puji Reigha merasa bangga.
Mumpung ada kesempatan untuk mengetahui kehidupan Nala, Reigha berniat untuk menanyakannya pada Zia dan Zio.
Lift akhirnya berhenti di lantai tiga. Setelah pintu terbuka, Zia dan Zio berlari menapaki lorong yang berlantaikan marmer hingga suara sepatu yang dikenakannya menghasilkan bunyi.
Reigha tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah dua anaknya begitu aktif dan tumbuh menjadi anak pintar. "Kamu sangat hebat karena sudah melahirkan putra-putri kembar yang begitu cerdas," gumam Reigha memuji mantan istrinya.
"Zia! Zio! Disini ruangan Daddy," panggil Reigha saat si kembar melewati ruangannya begitu saja.
Dua anak itu langsung menurut dan mengikuti arahan yang Daddy-nya katakan. Setelah Zia dan Zio masuk, Reigha ikut masuk dan menutup pintu dengan kakinya.
"Zia dan Zio nonton film kartun dulu sebentar ya? Daddy mau memeriksa email yang masuk sekejap," izin Reigha pada dua anaknya.
"Hore! Aku mau Alvin and the Chipmunk, Dad," pekik Zio gembira.
"Aku maunya nonton Rapunzel." Tak mau kalah, Zia juga ikut bersuara mengemukakan keinginannya.
__ADS_1
Reigha tampak bimbang harus memutar film yang mana. "Jadi ... Kalian mau yang apa nih? Karena televisinya hanya satu, nontonnya barengan tidak apa-apa kan?" tanya Reigha meminta persetujuan.
"Ya sudah. Kalau begitu Zia bisa menonton Rapunzel nanti saja. Sekarang, aku mau menonton Alvin and the Chipmunk juga," jawab Zia pada akhirnya mengalah.
Reigha tersenyum haru lalu memeluk dua anaknya itu. Zia seakan paham jika Zio merupakan adiknya. Walaupun hanya berbeda beberapa menit. Namun, Zia begitu pandai membawa diri seperti Nala.
Huh! Reigha seketika teringat Nala yang begitu acuh padanya. 'Sedang apa kamu sekarang, La?' batim Reigha bertanya.
Sedangkan di tempat lain, Nala dan Dandy sedang berada di sebuah gedung dimana Nala akan menjalankan usahanya di bidang Wedding Organizer.
Nala masih mencari gedung yang cocok untuk membuka usahanya. Atas bantuan Dandy, akhirnya Nala menemukan gedung yang cocok dengan halaman yang luas untuk memudahkan pelanggannya memarkirkan kendaraan.
"Bagaimana, La? Kamu suka kan? Jangan katakan kalau yang ini kurang luas," ucap Dandy dengan bibir yang mencebik.
Nala tergelak renyah. Selama ini memang dirinya begitu pemilih dengan gedung yang akan menjadi tempat membuka usahanya yang baru. "Aku cocok dengan yang ini," jawab Nala dengan masih mengedarkan pandangan menatap setiap sudut ruangan berlantai dua tersebut.
"Kalau denganku? Sudah cocok belum?" tanya Dandy yang kini menatap Nala lekat-lekat.
Nala menelan saliva. Dia selalu kesulitan setiap kali mendapat pertanyaan seperti itu dari Dandy. Bukan bermaksud menggantungkan, tetapi Nala sudah mengatakan lebih baik Dandy mencari wanita lain yang masih lajang.
Melihat raut wajah Nala yang berubah tegang, Dandy akhirnya kembali bersuara tanpa ingin mendengar jawaban Nala lagi.
"Lupakan. Mungkin kamu masih butuh waktu lebih lama lagi," ucap Dandy berbesar hati.
Hati Nala seketika dirundung rasa bersalah yang teramat besar. Dandy adalah pria yang tampan dan perhatian. Dia juga sudah sangat dekat dengan Zia dan Zio. Tetapi, Nala selalu merasa tidak percaya diri jika harus bersanding dengan Dandy yang merupakan anak konglomerat.
"Maafkan aku, Mas." Hanya kata itu yang mampu terucap dari bibir Nala.
Dandy menggeleng lalu mengacak rambut Nala lembut. "Tidak perlu meminta maaf. Ini sudah menjadi konsekuensiku yang memang ingin menunggumu," jawab Dandy dengan mengulas senyum yang justru terlihat kecewa di mata Nala.
Nala bergumam panjang untuk memecahkan kecanggungan yang sempat tercipta. "Mmm ... Harga gedung ini berapa, Mas kalau aku boleh tahu?" tanya Nala yang kemudian melihat-lihat lagi setiap sudut ruangan.
__ADS_1
Dandy mengikuti langkah Nala yang kini berjalan menaiki tangga. Posisinya saat ini berada di belakang Nala dan hanya melihat punggung itu berjalan menjauh di depannya.
"Murah. Kalau kamu belum bisa bayar penuh, kamu bisa mencicilnya padaku," jawab Dandy yang membuat Nala menghentikan langkah.
"Aku kurang percaya jika gedung ini dijual dengan harga murah. Berapa memangnya?" tanya Nala yang kini sudah berbalik untuk bersitatap dengan Dandy.
"Sembilan ratus sembilan puluh sembilan juta, sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu, sembilan ratus sembilan puluh sembilan rupiah (999.999.999)," ucap Dandy yang membuat mulut Nala menganga lebar.
Setelah mencerna, Nala mendengkus pelan. "Itu sama dengan satu miliar, Mas. Kurang satu rupiah saja," ucap Nala kemudian melanjutkan langkahnya lagi.
Dandy tergelak renyah karena berhasil mengerjai Nala.
"Mau diambil atau tidak? Lagian, mana ada sekarang gedung besar dengan halaman luas harganya di bahwa lima ratus juta?" jawab Dandy yang kini sudah menapaki anak tangga terakhir.
Nala kini sudah berada di tengah ruangan dengan pandangan mengedar. "Baiklah. Aku akan ambil. Nanti kamu kirim nomor rekening kamu ya? Aku akan segera bayar hutang," putus Nala pada akhirnya.
Dandy berjalan mendekat. "Tidak perlu terburu-buru jika belum ada uangnya. Kamu bisa berhutang padaku tanpa ada bunga," ujarnya tidak merasa keberatan. Bahkan jika Dandy harus membayarkan gedung itu secara cuma-cuma, itu tidak masalah.
Hanya saja, Nala pasti akan menolak karena tidak mau dianggap memanfaatkan dirinya. Dandy menghela napas mengingat kisah percintaan dengan Nala yang tidak direstui oleh orangtuanya.
Ya, banyak sekali permasalahan yang muncul jika Nala dan Dandy sampai menikah. Hal itulah yang semakin membuat Nala mempertimbangkan keinginan Dandy untuk mempersunting dirinya.
"Deal ya?" tanya Dandy memastikan sekali lagi sambil mengulurkan tangan.
Nala tersenyum lalu menjabat tangan Dandy. "Deal."
"Terima kasih ya, Mas. Kamu sudah banyak membantuku selama ini," ucap Nala lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...jangan lupa kasih dukungannya ya😘...
__ADS_1
...mampir juga kesini yuk 👇...