Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)

Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)
Bab 90. Dipingit seminggu


__ADS_3

Semua orang telah berkumpul di ruang keluarga di kediaman bu Larasati. Semua makanan dan minuman sudah dihidangkan untuk menjadi kudapan menemani obroalan orangtua.


Sebagai ayah dari Reigha, Pak Prabu sudah mengutarakan niat untuk kembali melamar Nala untuk sang putra tercinta. Kini, giliran keluarga Nala yang harus menjawab atas formalitas yang sudah keduanya lakukan demi menghormati sebuah hubungan.


"Jadi, bagaimana? Apakah kamu bersedia menjadi besanku lagi, Ras?" tanya bu Nilam lembut.


Bu Laras tersenyum. "Aku mau-mau saja. Tetapi, yang akan menikah itu Nala, bukan aku. Ada baiknya kita tanyakan langsung pada orangnya," jawab Bu Laras sambil menyenggol lengan Nala untuk segera membuka suara.


Nala tersenyum dan senyumnya sudah tidak canggung lagi. Ayolah. Ini bukan pertama kalinya bagi Nala dan Reigha. Keduanya juga pernah ada di posisi seperti sekarang ini. Hanya saja yang membedakan adalah, keduanya kini akan mengikat hubungan tanpa ada paksakan. Murni dari keputusan masing-masing.


"Aku bersedia, Bu," jawab Nala sambil menatap mata Reigha karena saat ini, laki-laki itu juga sedang menatapnya penuh harap.


"Alhamdulillah. Akhirnya Mama akan punya mantu Nala lagi!" pekik bu Nilam bahagia.


"Tunggu!" sergah bu Laras yang membuat semuanya terdiam. Melihat wajah bu Laras yang tampak serius, membuat semua yang ada di ruangan mendadak tegang.


"Ada apa lagi sih, Bu?" bisik Nala heran.

__ADS_1


Bu Laras mencebikkan bibirnya kesal. "Ibu juga mau memberi syarat," jawab bu Laras cukup kencang.


Pak Prabu, Bu Nilam, dan Reigha seketika mendapatkan firasat yang tidak baik. Ketiganya sama-sama menunjukkan wajah tegang. Bu Laras yang melihat itu merasa menang karena bisa mengerjai tiga manusia di depannya. Dia berusaha mengulum senyum dan merubah wajah sedatar mungkin agar niatnya untuk mengerjai tidak diketahui.


"Syarat apa lagi ya, Tan? Tentang mahar kah? Apakah Tante meminta Mahar sertifikat tanah? apartemen? Atau mobil? Semua akan aku lakukan demi Nala, Tan," ucap Reigha frustrasi. Takut bu Laras akan memberikan syarat yang berat setelah melihat semua yang sudah dilakukannya dulu.


Bu Laras tidak tahan untuk tidak tertawa. Beliau sontak tertawa terbahak-bahak hingga membuat dahi semua orang mengernyit. "Kenapa sih, Bu? Kok ibu malah tertawa?" tanya Nala tidak habis pikir.


Setelah tawanya mereda, bu Laras kembali bersuara. "Syaratnya adalah, aku ingin pernikahan dilakukan satu minggu lagi. Tidak ada penolakan apapun. Tidak perlu ada resepsi karena kalian pernah menikah. Acara akan digelar dengan sederhana dan tentunya, tidak memakai jasamu, La," jelas Bu Laras yang membuat Reigha dan keluarga bersorak gembira.


Hal tersebut bukanlah permintaan uang sulit. Justru, Reigha merasa senang karena bisa segera mengikat Nala dengan tali pernikahan.


Nala hanya geleng-geleng kepala. Nala harap, ini adalah hal yang baik menuju rumah tangga yang harmonis. Nala percaya bahwa Reigha sudah berubah. Jika sampai sifatnya masih seperti dulu, Nala tidak akan segan-segan untuk membuangnya ke laut.


"Ada lagi, Ras?" tanya bu Nilam memastikan barangkali ada syarat yang ingin diajukan oleh mantan sekalgiicslin besannnya.


Bu Laras nampak mengingat-ingat. Saat sudah muncul di kepala, Bu Laras kembali bersuara.

__ADS_1


"Ada satu syarat lagi."


"Syarat apa, Bu?"tanya Nala tidak habis pikir dengan pemikiran sang ibu.


"Syaratnya adalah, dalam satu minggu, Nala dan Reigha harus dipingit dan tidak boleh bertemu," pinta Bu Laras yang membuat Reigha bagai disambar badai petir.


Ctaaarr!


"Tante tidak sedang bercanda kan? Mengapa harus dipingit? Bagaimana jika aku rindu?" tanya Reigha putus asa.


Bu Laras melipat dua tangannya di depan dada. "Ya sudah kalau kamu tidak bersed—"


"Aku mau kok, Tan. Aku mau sekali. Apapun itu, akan aku lakukan demi bisa memiliki Nala seutuhnya," ucap Reigha pada akhirnya.


"Bagus."


Nala meringis melihat kelakuan ibunya yang sudah tidak kira-kira. Setahu Nala, proses dipingit biasanya hanya akan berjalan satu hari. Mengapa Ibunya membuat pingitan selama tujuh hari?

__ADS_1


Nala yakin, ibunya sedang berusaha menetes kesetiaan Reigha.


__ADS_2