
Mobil yang dikendarai Nanta berhenti di samping pemakaman elit. Nala menarik dan menghembuskan napas sesak sebelum benar-benar turun menuju pemakaman Dandy.
"Mommy? Ini tempat apa?" tanya Zia penasaran, alisnya tampak bertaut dengan dahi mengkerut dalam.
"Iya, Mom. Mengapa tanahnya berbentuk sama disini?" Kini giliran Zio yang ikut bertanya.
"Ini namanya pemakaman," jawab bu Laras menyahut.
Kerutan di dahi Zia dan Zio semakin dalam, pertanda tidak mengerti dengan maksud Omanya. "Pemakaman itu apa, Oma?" tanya Zio lebih dulu.
"Kita turun terlebih dahulu ya? Nanti Mommy akan jelaskan pada kalian," ucap Nala berusaha untuk tidak menangis.
Nanta sudah keluar lebih dulu kalau membuka pintu untuk dua ponakannya. Bu Laras yang duduk di depan juga ikut turun dan menyambut dua cucunya.
Nala berjalan lebih dulu dengan Zia dan Zio berada di belakangnya. Nanta dan bu Laras juag mengikuti dari belakang. Tidak berapa lama, Nala menghentikan langkah di depan tempat peristirahatan Dandy untuk yang terakhir kali.
Nala menggigit bibir bawahnya agar tidak menangis. Dia harus kuat di depan anak-anak.
"Mom?" lirih Zia memanggil Nala.
"Kenapa foto uncle Dandy ada disini?" tanya Zia dengan menatap pigura yang berada di atas gundukan tanah, yang bersandar di papan nama yang bertuliskan nama Dandy.
Nanta turun tangan untuk menjelaskan pada dua keponakannya karena melihat kondisi Nala yang tidak memungkinkan.
Nanta berjongkok di depan gundukan tanah tersebut yang langsung diikuti oleh Zia dan Zio. Nala sedikit menjauh dan mengambil posisi berdiri di samping ibunya.
"Ini adalah rumah uncle Dandy yang baru, Sayang," jawab Nanta setelah cukup lama terdiam, seperti sedang menyusun sebuah kalimat yang akan di pahami oleh anak kecil.
"Rumah? Kenapa sempit sekali? Memangnya uncle Dandy tidak kesepian?" tanya Zio dengan polosnya.
Nanta menggeleng. "Tentu tidak," jawabnya.
"Lalu, sekarang dimana uncle Dandy? Kenapa tidak menemui kita?" tanya Zia kebingungan.
Nanta menghela napas pelan sebelum kembali bersuara. "Uncle Dandy saat ini sedang melihat kalian dari atas sana dengan tersenyum," jawab Nanta sambil mendongak menatap langit.
Zia dan Zio sontak mendongak dan entah karena apa, keduanya tersenyum lalu memejamkan mata.
__ADS_1
"Uncle Dandy sudah bahagia disana ya? Dengan siapa?" tanya Zio polos.
"Bersama Tuhan," jawab Nala yang akhirnya mengeluarkan suara.
Dan entah karena apa, Zia dan Zio mengangguk seakan paham dengan apa yang diucapkan Nala.
"Pasti uncle Dandy sudah bahagia disana kan?" tanya Zia antuasias.
"Tentu. Jadi, jika kalian ingin mencari uncle Dandy, kalian bisa datang kesini," ucap Nanta penuh kelembutan.
Semenjak itu, Zia dan Zio sudah tidak lagi menanyakan keberadaan Dandy. Keduanya sudah tahu bahwa uncle-nya itu sudah berada di sisi Tuhan.
Tidak terasa, hari berganti minggu dan minggu berganti bulan. Sudah genap empat puluh hari setelah kepergian Dandy dan Nala mulai membenahi diri. Banyak hal yang harus di perbaiki dalam diri Nala dan Nala tidak tahu apa itu.
Entahlah, Nala merasa bahwa hubungan asmaranya selalu saja gagal. Apakah ada yang salah dari diri Nala? Mengapa orang-orang yang Nala cintai pergi meninggalkannya?
Huh! Nala menghembuskan napasnya kasar lalu menatap sekeliling ruang kerjanya. Usahanya kini mulai berjalan baik. Sudah ada beberapa calon pengantin yang memesan konsep pernikahan yang Nala usung. Tentunya atas kerjasama timnya, Rani dan Yuna.
Ada juga pekerja baru yaitu tiga laki-laki yang akan membantu Nala dalam memasang dekorasi. Tidak mungkin Nala menyuruh Yuna maupun Rani yang melakukannya. Bagaimanapun, Nala akan membutuhkan tenaga yang banyak karena usahanya bisa di bilang bukan usaha kecil.
"Bu? Ada email masuk dan mengatakan ingin memakai jasa Hanindya Organizer. Ini bukan acara pernikahan melainkan acara perayaan sebuah kantor," ucap Yuna saat sudah berdiri di hadapan Nala.
"Yakin mau menerima ini, Bu?" tanya Yuna ragu-ragu.
Nala mendongak dari laptop di hadapannya. "Memangnya kenapa? Jelas harus yakin. Aku yakin kita pasti bisa sukses bersama," ucap Nala tersenyum semangat.
Yuna meringis. Saat mulutnya akan terbuka, Rani sudah lebih dulu menyela.
"Nama pemesannya Reigha Cakrawala, Bu. Besok beliau akan datang untuk menentukan konsepnya," ucap Rani yang sudah berada di hadapan Nala.
Nala sontak terdiam menatap Yuna dan Rani bergantian. Hatinya tiba-tiba berperang antara menerima atau menolak dengan alasan yang halus.
Nala menghela napas saat pikirannya mengatakan lebih baik diterima. Bagaimanapun, ini akan baik untuk usahanya jika berhasil dalam melakukan misi kali ini.
"Terima saja. Kita butuh tantangan baru," jawab Nala pada akhirnya.
"Yang benar, Bu? Ibu tidak merasa keberatan?" tanya Rani sangsi dengan keputusan Nala.
__ADS_1
Nala tertawa. "Tidak sama sekali. Bukankah kita harus profesional?" jawab Nala balik bertanya.
Yuna dan Rani saling lempar pandang lalu kepalanya mengangguk bersamaan. "Baiklah. Kalau begitu akan aku siapkan semuanya ya, Bu," ucap Yuna yang diangguki juga oleh Rani.
"Hebat. Terima kasih karena kalian masih setia merintis ini semua bersamaku. Terima kasih banyak," ucap Nala terharu.
"Sama-sama, Bu," jawab Yuna dan Rani hampir bersamaan.
Sepeninggalan Yuna dan Rani, ponsel Nala berdenting menandakan ada pesan masuk. Saat Nala melongok, ada nomor tidak dikenal yang mengirim pesan.
08321123xxx
Sebentar lagi kita akan lebih dekat dan sering bertemu.
Nala mengernyit bingung ketika membaca sebaris kalimat penuh misteri. Tidak mau ambil pusing, Nala menghapus pesan tersebut agar tidak membuat pandangan matanya kotor.
Nala kembali fokus pada konsep baru yang saat ini sedang dibuat. Namun, lagi-lagi ponselnya berbunyi. Kali ini adalah panggilan telepon.
Nala melihat layar ponsel dan yang menghubunginya adalah nomor yang sama yang mengirimnya pesan.
"Siapa sih? Kurang kerjaan sekali ini orang," kesal Nala langsung menolak panggilan tersebut.
Namun, Dewi Fortuna seperti sedang tidak berpihak padanya. Ponselnya kembali berdering dan Nala tidak sengaja menekan tombol hijau alias tombol terima.
Nala mendengkus kencang lalu menaruh benda pipih itu di telinga.
"Jangan telepon atau mengirim pesan lagi karena Anda telah mengganggu wak—"
"Halo Nala? Anak-anak mengatakan ingin berkunjung ke kantormu. Boleh tidak?" sela suara di seberang sana.
Nala memutar bola matanya jengah. "Anak-anak atau kamu yang ingin datang kesini?" ketus Nala kesal. Nala tentu tahu siapa seseorang yang telah meneleponnya dengan nomor baru.
Sepertinya, laki-laki itu tidak kenal lelah untuk mengganti nomornya. Entah sudah nomor yang keberapa dan Nala kali ini lupa memblokir seperti yang sebelum-sebelumnya.
Terdengar kekehan diseberang sana. "Kamu memang paling tahu apa yang aku mau."
Nala yang kesal segera menutup panggilan telepon. Dia menaruh ponselnya kasar lalu menutup wajahnya dengan telapak tangan. Kesal sekali rasanya diganggu setiap hari.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...jangan lupa kasih dukungannya ya. kasih juga komen kalian😍...