
disinilah nanta dan anjani berada. di sebuah taman yang hanya diterangi lampu karena malam sudah menjelang. setelah menenangkan ibunya, anjani mengajak nanta untuk mencari udara malam. pikirannya sangat kalut dan anjani berharap, nanta mau membantunya kali ini.
"sorry ya, nan. kamu jadi melihat kondisi keluarga yang ... begitulah," ucap anjani setelah cukup lama bertahan dalam keheningan. hanya ada suara hembusan angin malam hari yang terdengar begitu menenangkan.
nanta tersenyum sendu. "aku tidak melihat atau mendengar semuanya kok," jawab nanta tidak berbohong.
anjani terkekeh getir. "aku boleh cerita tidak sih? rasanya sesak sekali menahan semua ini," lirih anjani dengan tubuh yang bergetar menahan tangis.
nanta tentu tidak tega dan langsung membawa tubuh anjani dalam pelukan. hingga nanta merasakan bahunya basah mungkin karena air mata anjani. gadis itu menangis dan untuk pertama kalinya nanta melihat sosok lain dari anjani.
tanpa kata, nanta mengelus lembut punggung anjani dan membiarkan gadis itu tenang terlebih dahulu. bukannya mereda, anjani semakin meraung dalam tangisnya.
hingga mungkin merasa lelah, anjani berhenti dan melepas pelukan. nanta bisa melihat mata dan hidung anjani memerah. nanta terkekeh lalu mengacak rambut anjani lembut.
"mau cuci muka dulu tidak?" tawar nanta karena melihat anjani tampak tak nyaman.
anjani mengangguk lalu nanta segera beranjak dan menuju stan penjual. nanta kembali dengan membawa dua botol air mineral.
"pakai ini saja. satu untuk cuci muka yang satu lagi untukmu minum," ucap nanta sambil mengulurkan dua botol air.
anjani tampak tidak setuju. "mengapa cuci muka saja harus menggunakan air mineral? aku bisa cuci muka di sana." anjani menolak dengan hati-hati lalu berdiri dan mencuci mukanya pada kran cuci tangan. fasilitas tersebut memang tersedia di area taman.
nanta hanya menatap punggung anjani yang berjalan menjauh kemudian duduk kembali di kursinya. setelah anjani kembali, Nanta kembali mengulurkan sebotol air dan kali ini Anjani menerimanya.
"Terima kasih, Nan," ucap Anjani merasa bersyukur karena disaat seperti ini ada seseorang yang mau menemaninya.
Nanta berdecak. "Ck. Kaya sama siapa saja."
"Nan?" panggil Anjani yang membuat Nanta menoleh lalu bisa melihat sosok gadis yang setiap hari selalu mengganggu pikiran. Gadis itu nyata ada di depannya. Cahaya lampu yang temaram tidak mengurangi kejelasan Nanta dalam melihat wajah Anjani.
Justru dengan lampu yang menyala pendar tersebut, Nanta melihat Anjani semakin cantik saja.
"Ada apa?" tanya Nanta siap mendengarkan jika seandainya Anjani ingin membagi kisahnya.
"Apa kamu tetap akan seperti ini ketika mengetahui jika aku adalah ...." Anjani menggantung kalimatnya. Merasa ragu apakah harus memberitahu Nanta.
__ADS_1
Entah mengapa dalam kepala Anjani mengatakan jika Nanta harus tahu siapa dirinya. Apakah Nanta benar-benar berarti dalam hidupnya?
"Adalah?" kejar Nanta penasaran karena Anjani tak kunjung melanjutkan ucapan.
Anjani menarik dan menghembuskan napasnya kasar. Fakta ini memang baru saja diketahui Anjani. "Aku adalah ... anak haram."
Nanta tidak langsung bereaksi. Cukup heran mengapa Anjani menyebut dirinya anak haram. Setelah berpikir cukup keras, Nanta mulai paham.
"Kenapa sampai kamu jadi anak haram?" tanya Nanta menatap lekat Anjani.
Anjani menggigit bibir bagian dalamnya. "Aku anak di luar nikah," ungkap Anjani lagi yang hanya ditanggapi Nanta dengan anggukan mengerti.
"Memangnya kenapa kalau kamu anak di luar nikah? Apa ada yang salah?" Nanta justru balik bertanya dan hal itu membuat Anjani bisa bernapas lega, Nanta tidak merasa jijik padanya.
"Salah menurut kebanyakan orang. Aku tidak punya nasab. Apalagi, aku lahir sebagai perempuan. Saat menikah nanti, pasti akan menjadi bahan perbincangan. Belum lagi teman kantorku mungkin akan menjauhiku karena mengetahui aku hanyalah anak har—"
Belum sempat Anjani menyelesaikan kalimatnya, Nanta sudah lebih dulu membungkam mulutnya dengan telapak tangan pria tersebut. Mata Anjani bertemu tatap dengan mata Nanta.
Nanta memberi isyarat menggeleng agar Anjani tak lagi meneruskan kalimatnya. "Jangan katakan itu lagi. Kamu bukan anak yang seperti itu hanya karena lahir di luar nikah. Bukan kamu yang seperti itu melainkan perbuatan orangtuamu yang haram. Bukan kamu," ucap Nanta menekankan kalimatnya.
"Jangan menangis lagi. Kamu pikir menangis akan membuatmu berubah cantik? Yang ada malah semakin jelek karena ingusmu keluar," sergah Nanta ketika menyadari mata Anjani mulai berembun.
Hal itu sontak membuat Anjani memberenggut kesal. "Nanta!" Pekikan itu membuat telinga Nanta serasa pengang.
"Apaan sih!" kesalnya sambil menutupi kedua daun telinganya.
"Kamu sudah mengejekku jelek. Paling juga kamu kangen kan? Makanya kamu datang ke rumah," tebak Anjani yang membuat Nanta terdiam dengan sorot mata yang dalam.
"Nanta! Jangan begitu lihatnya!" kesal Anjani salah tingkah.
Nanta langsung mengangkat satu alisnya. "Eh. Salah tingkah kah?" tanyanya tanpa dosa.
Plak!
Pukulan tangan Anjani berhasil mendarat di paha Nanta dan itu terasa sangat panas. "Aw! Cantik-cantik tapi tukang pukul," gerutu Nanta yang tangannya bergerak untuk mengelus pahanya.
__ADS_1
"Tuh kan, kamu saja mengakui jika aku cantik. Fix! Aku ini cantik no debat!" Anjani berucap dengan menggebu-gebu.
Nanta tergelak renyah lalu tangannya bergerak mencubit dua sisi wajah Anjani yang tampak menggemaskan. "Percaya diri sekali sih," ucapnya dengan gigi yang bergemeletuk.
"Nan?" panggil Anjani lembut dan Nanta pun menatap gadis di sebelahnya.
"Kenapa?" tanya Nanta tak kalah lembut.
Nanta bisa menangkap gestur gugup Anjani. Yaitu memilin tangannya sendiri. "Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan," ucap Anjani tampak serius.
Hal itu membuat Nanta menegakkan tubuh dan mengalihkan perhatian pada Anjani sepenuhnya. "Katakan saja apa yang ingin kamu bicarakan."
"Ini tentang ... perasaanku."
Mendengar itu, Nanta mulai menebak-nebak apakah Anjani mulai ada rasa padanya? Apakah Anjani ingin mengungkapkan isi hatinya? Atau mungkin, Anjani akan menembaknya?
Entah mengapa, ada sedikit rasa senang yang tercipta di benak Nanta seandainya itu terjadi.
"Memangnya kenapa dengan perasaanmu?" tanya Nanta pura-pura bodoh. Nanta ingin Anjani lah yang akan mengakui perasaanya terlebih dahulu. Karena Nanta ingat jika dulu mereka pernah bertaruh siapa yang akan jatuh cinta lebih awal di antara mereka.
Memang, pesona diriku tidak pernah terelakkan. batin Nanta percaya diri.
"Sebenarnya ...."
"Sebenarnya apa, Njan. Katakan saja apa yang ingin kamu utarakan," ujar Nanta dengan kelembutan agar Anjani tidak merasa tertekan.
"Sebenarnya, aku ... lapar, Nan. Bisa kita makan terlebih dahulu?"
Jeder!!!
Cetarrr!!
Pernyataan Anjani bagai petir yang menyambar tubuh Nanta. Dia terpaku sejenak karena malu dengan isi pikirannya. Bisa-bisanya Nanta terlalu percaya diri jika Anjani akan mengungkapkan perasaan.
Sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, Nanta pun menjawab. "Baiklah. Kita akan makan malam dulu."
__ADS_1