Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)

Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)
Bab 120. Mengejutkan


__ADS_3

Hari berganti. Terhitung sudah hampir tiga hari Nanta tak lagi bertemu Anjani. Dan sejak saat itu, Nanta merasa hidupnya suram dan hampa. Seharian berada di meja kerja nyatanya tak mampu menghilangkan pikiran tentang Anjani.


Apalagi Nanta selalu terngiang akan kata-kata terakhir Anjani yang terdengar seperti sebuah perpisahan. Nanta tidak suka tetapi tidak tahu bagaimana cara mengekspresikannya.


Nanta yang merasa frustasi, menjambak rambutnya kasar. Hal itu dilihat oleh Jedi yang baru saja masuk ruangan. Karena pintu tidak tertutup, mungkin Nanta tidak menyadari ada seseorang yang masuk.


"Kenapa,, Bos? Apakah Bos kurang puas dengan kinerja saya?" tanya Jedi takut.


Nanta tersentak lalu mendelik kesal pada Jedi yang sudah masuk ruangan tanpa mengetuk pintu. "Kenapa kamu tidak mengetuk pintu terlebih dahulu?" tanya Nanta tak suka.


Jedi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Sebenarnya, saya sudah mengetuk pintu. Hanya saja, Bos tidak mendengar karena sejak tadi melamun." Jedi tidak berbohong.


Dia sudah mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum akhirnya masuk begitu saja ke ruangan. Nanta mengangguk dan enggan memperpanjang masalah. Lagian, Jedi sudah menjadi orang yang Nanta percayai.


"Jed?" panggil Nanta tiba-tiba tercetus keinginan untuk bertanya.


"Kenapa, Bos?" jawab Jedi yang kini sudah duduk di kursi yang berhadapan dengan Nanta.


"Menurut kamu, kalau kita tidak bisa melupakan seseorang dan selalu teringat akan kebahagiaan bersamanya, apakah itu bisa diartikan jatuh cinta?" tanya Nanta yang membuat Jedi mengulum senyumnya.


"Bisa jadi iya bisa jadi tidak. Itu belum bisa menyimpulkan jika seseorang tersebut jatuh cinta. Mungin itu adalah sebuah rindu," jawab Jedi memberikan pendapatnya.


Nanta mengangguk paham. Ya. Mungkin Nanta hanya rindu. Tidak lebih. Namun, mengapa mengganggu sekali. Bahkan pagi, siang, dan malam pun Anjani hinggap di pikiran.


"Kalau misal kita tidak pernah berhenti memikirkan seseorang sepanjang hari, bagaimana menurutmu? Dan si pelaku ini masih dalam kondisi baru putus dari kekasihnya. Apa ini bisa disebut sebagai pelarian?" tanya Nanta lagi yang membuat Jedi berpikir sejenak.


"Tergantung. Sudah berapa lama putus hubungan dengan si mantan? Apakah dalam waktu pasca putus, seseorang tersebut menemani hari-hari mu, Bos?" tanya Jedi dengan raut wajah serius.

__ADS_1


Nanta mengangguk yakin. "Sekitar dua bulan lebih lah," jawabnya yang membuat Jedi kembali mengulum senyum.


"Fix. Saat ini Bos sedang jatuh cinta. Temui orangnya maka Bos tidak akan segelisah ini. Lihat, banyak berkas yang harus Bos tanda tangani. Setelah ini, Bos harus bergegas menemui dia," ucap Jedi memberikan saran.


Nanta mendelik. "Ini bukan tentang kisahku. Kenapa harus aku yang menemui," elak Nanta terlalu gengsi untuk mengakui.


"Nah. Hal seperti gengsi-lah yang akan membuat pikiran Bos menjadi rumit." Jedi berucap seakan tahu segalanya. Dia bisa menangkap jika Bosnya itu cinta tapi gengsi. Entah dengan siapapun itu, Jedi ingin memberikan saran agar gengsi Bosnya tidak semakin besar.


"Kita sebagai pihak laki-laki tidak perlu merasakan gengsi. Kita bisa mengungkap perasaan atau menemui perempuan yang kita cintai. Karena memang takdir kita sebagai laki-laki tuh mengejar. Bukan dikejar. Kita harus gentle, Bos," nasehat Jedi lalu menepuk bahu Nanta pelan.


"Kamu sepertinya sudah sangat berpengalaman," tebak Nanta dengan bibir yang mencebik.


"Loh. Jangan salah, Bos. Gini-gini saya tipe suami yang cinta istri. Saya sudah khatam dengan hal cinta-cintaan. Dan pelabuhan terakhir saya, ya istri saya yang sekarang di rumah." Jedi menjawabnya dengan senyum bahagia. Nanta bisa melihat betapa tulus cinta Jedi pada sang istri.


"Baiklah. Terima kasih banyak atas sarannya. Nanti aku akan coba hubungi," ucap Nanta keceplosan.


Nanta berdecak sebal. Sekuat apapun Nanta berbohong, kalau bicaranya dengan sang suhu, pasti akan ketahuan juga.


"Iya! Itu kisahku! Puas!" kesal Nanta yang membuat Jedi terbahak-bahak.


"Itu cinta tapi gengsi, Bos. Punya nomor HPnya kan, Bos? Segera hubungi dia karena hanya dia obatnya atas kegelisahan yang Bos rasakan." Setelah mengucapkan itu, Jedi pamit undur diri.


Nanta jadi memikirkan saran yang Jedi berikan. "Iya ya. Aku kan punya nomor Anjani. Kenapa aku sampai lupa dengan hal itu," gumam Nanta merasa bodoh sendiri.


Namun saat nama Anjani tertera di layar ponselnya, Nanta hanya memandanginya. Di sana ada potret Anjani yang digunakan sebagai foto profil.


Nanta tersenyum. Anjani memang sangat cantik. Setelah cukup lama memandang, Nanta putuskan nanti sore untuk datang ke rumah Anjani.

__ADS_1


"Oh iya ya. Aku kan tahu rumahnya Anjani. Mengapa aku harus resah karena tidak bisa menemui gadis itu?" gumam Nanta lagi-lagi merasa konyol.


Waktu bergulir. Jam sudah menunjukkan pukul empat lewat tiga puluh menit. Nanta bergegas membereskan barang-barangnya dan keluar dari ruangan.


"Jedi. Aku pulang dulu ya," ucap Nanta saat melewati meja kerja Jedi. Setelah itu, Nanta bergegas turun ke lantai dasar dan masuk ke mobilnya.


"Aku sudah tidak sabar ingin bertemu gadis itu," gumam Nanta lalu melajukan mobilnya.


Tidak berapa lama, Nanta sampai dan langsung turun setelah mobilnya terparkir dengan baik. Senyum di bibir Nanta semakin lebar kala melihat motor matic telah terparkir sempurna. Tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi, Nanta melangkah lebar menuju teras rumah.


Tok. Tok. Tok.


Nanta mengetuk pintu di hadapannya. Tidak berapa lama, pintu terbuka dan seorang laki-laki muncul dari sana. Bukan laki-laki yang muda lagi. Melainkan laki-laki paruh baya yang bisa Nanta perkirakan usianya sudah memasuki kepala empat.


Wajahnya tampak murung. Nanta mengangguk sopan dengan mengulas senyum. Tanpa diduga, Nanta mendengar teriakkan bu Ruri dari dalam. Sangat keras dan menggelegar.


"Cepat pergi dari sini! Aku sudah tidak sudi lagi melihat wajahmu!"


Nanta seketika merasa tidak enak berada di antara dua orang yang bertengkar. Hingga suara Anjani terdengar begitu menyayat hati. "Tolong pergi dari sini agar ibu tidak perlu sakit lagi. Aku tidak punya ayah sejak dulu. Jadi, jangan datang dan mengatakan bahwa kau ayahku."


Dada Nanta berdenyut. Seakan ikut merasakan apa yang Anjani rasakan. Mungkin, dua wanita di dalam rumah belum mengetahui kedatangan dirinya.


"Maafkan Ayah. Ayah akan pergi," ucap pria tersebut dan Nanta langsung menyingkir saat pria paruh baya itu berjalan keluar.


Nanta terlalu terkejut dengan kejadian barusan. Namun, Nanta memilih untuk pura-pura tidak tahu dan menjadi buta juga tuli atas permasalahan keluarga Anjani.


Nanta tidak ingin ikut campur karena dirinya bukan siapa-siapa. Setelah laki-laki itu tidak terlihat lagi, Anjani berjalan ke arah pintu yang masih terbuka. Ibunya masih menangis sesenggukan.

__ADS_1


Pada saat itulah Nanta mulai menampakkan diri. Raut terkejut tampak Anjani tunjukkan. Tidak ingin membuat Anjani berpikir yang tidak-tidak, Nanta langung berucap. "Aku tidak mendengar maupun melihat apapun."


__ADS_2