Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)

Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)
Bab 82. Membahas masa lalu


__ADS_3

Setelah memesan kopi dan beberapa camilan, Reigha dan Nala hanya duduk diam dengan pandangan menatap jalanan. Langit yang semula cerah entah mengapa mendadak mendung dan rintik-rintik hujan mulai terlihat.


"Kenapa tidak di minum?" tanya Reigha yang sejak tadi memperhatikan Nala hanya diam.


Nala menunjuk pada jalanan yang mulai basah karena air mulai berjatuhan. "Hujan, Mas. Di bagasi motor tidak ada jas hujan lagi," jawab Nala yang sebenarnya bukan sebuah jawaban atas pertanyaan Reigha.


Reigha mengangguk membenarkan. "Kita disini saja dulu. Tunggu hujannya reda," jawab Reigha santai.


Nala menoleh cepat. "Mana bisa seperti itu?" kesal Nala sambil menggerucutkan bibir.


Reigha hanya mengendikkan bahu dan tersenyum lebar. Lalu, tangannya bergerak untuk mengambil cangkir kopi dan menyesapnya.


"Nala?" panggil Reigha lembut dan Nala pun menoleh dengan tatapan penuh tanya. Nala bisa melihat mata Reigha kini menatapnya lekat.


"Kenapa?"


"Boleh aku mengatakan sesuatu?" Izin Reigha terlebih dahulu dan Nala mengangguk cepat.

__ADS_1


"Aku tahu mungkin ini terlalu cepat. Bahkan, kepergian Dandy belum genap satu tahun. Tetapi, aku sudah tidak sanggup untuk menahan lebih lama lagi," ucap Reigha menjeda kalimatnya untuk melihat apakah Nala sedang mendengarkannya.


"Dengan segenap hatiku, izinkan aku untuk bisa mendekatimu lagi. Tolong, beri aku kesempatan kedua dan aku akan membuktikan bahwa aku pantas. Aku tidak butuh jawaban hari ini. Izinkan aku berusaha dulu entah berapa lama waktunya," ucap Reigha tulus dari lubuk hatinya.


Nala sudah tidak terkejut lagi jika Reigha tiba-tiba mengungkapkan niatnya. Memang setelah Dandy tiada, Nala bisa menangkap sinyal bahwa Reigha sedang gencar mendekatinya. Hanya saja, Nala tidak menyangka bahwa Reigha akan mengatakan secara lisan.


Melihat Nala yang hanya diam, Reigha kembali bersuara. "Jangan beranggapan aku melakukannya hanya karena anak-anak. Tidak. Aku melakukan semua ini karena hanya kamu yang bisa membuat jantung ini berdetak kencang. Hanya kamu yang mampu menggetarkan hatiku," ucap Reigha yang membuat Nala mendengkus pelan.


"Mulai gombal deh. Perasaan dulu kamu tidak begini," ucap Nala tidak habis pikir.


Reigha mengangkat satu alisnya. "Kamu masih ingat?" tanya Reigha dengan senyum jahilnya.


Reigha merasa suasana mendadak canggung setelah Nala menjawabnya. Reigha merasa tersentil dengan ucapan Nala barusan dan berakhirlah keduanya diam.


Nala kembali menatap jalanan yang kini sudah basah dan air tampak membanjiri. Nala suka sekali dengan pemandangan air turun dari langit.


"Kamu yakin mau maju?" tanya Nala yang membuat Reigha tersedak ludahnya sendiri.

__ADS_1


"Hah?"


"Kamu yakin untuk maju? Rintangan kamu masih banyak dan perjalanan kamu masih sangat panjang. Dan pada saat itu, bisa saja kamu harus menerima sebuah kenyataan. Mungkin saja aku sudah jatuh cinta dengan pria—"


"Aku akan membuatmu kembali jatuh cinta. Aku yakin dengan hal itu," potong Reigha cepat. Dia tidak ingin menerima kenyataan pahit tersebut. Namun, jika hal itu benar-benar terjadi, siap tidak siap, Reigha harus menerima.


Nala tertawa mengejek. "Kamu jangan terlalu percaya diri, Mas. Aku pernah ada di posisi tersebut yang pada akhirnya, justru membuatku terpuruk seterpuruk-puruknya. Aku sampai tidak tahu bagaimana caranya bangkit dari masa terendahku," ucap Nala dengan tatapan menerawang jauh.


Reigha merasa sedang ditikam oleh ribuan belati ketika mendengar Nala mengungkapkan isi hati yang pernah dia alami dulu. Hati yang terluka karena dirinya. Reigha pikir, Nala sudah tidak ingin membahas masa lalu. Tetapi untuk ke depannya, pembicaraan tentang masa lalu pasti akan menjadi sindiran khusus saat bersamanya.


"Maafkan aku, La. Aku tahu saat ini kamu sedang membicarakanku. Jika aku bisa, aku akan kembali dan memilih merubah semuanya, La. Semuanya. Tetapi sayangnya, aku tidak bisa kembali ke masa lalu."


"Mungkin, semua memang harus terjadi agar aku tahu bagaimana caranya menghargai, cara mencintai dengan benar dan memilih cinta yang sebenar-benarnya cinta," ucap Reigha panjang lebar.


Jujur, dia sangat menyesal telah menyia-nyiakan wanita sehebat Nala. Yang bisa Reigha lakukan saat ini adalah, mencoba memperbaiki semua. Itu pun jika bisa. Jika tidak, Reigha tidak akan memaksa.


"Aduh! Pembicaraan kita hari ini terlalu berat, Mas. Aku tidak sanggup," ucap Nala kalau terkekeh pelan. Seakan lupa dengan apa yang baru saja diucapkan.

__ADS_1


Reigha ikut terkekeh geli. Nala bisa merubah suasana yang semula mencekam, seketika mencair.


__ADS_2