
"Selamat, Pak, Bu, bayinya diperkirakan seorang perempuan yang usianya sudah menginjak Minggu ke delapan" ucap seorang dokter wanita spesialis kandungan.
Reigha tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Matanya mulai berkaca-kaca. Belum lagi, kabar bahagia ini membuat perutnya seperti banyak sekali kupu-kupu yang mengepakkan sayapnya.
Memang, ini bukan yang pertama bagi Nala. Tapi ini yang pertama untuk dirinya. Walau Nala pernah hamil, saat itu Reigha tidak ada di sampingnya.
Untuk menyalurkan rasa bahagia, Reigha mengelus rambut Nala lembut dan mengecup kening sang istri yang saat ini masih dalam posisi berbaring. "Terima kasih, Sayang. Kamu sudah memberikan kebahagiaan yang luar biasa untukku. Aku rela mual dan muntah seriap hari untuk mengurangi rasa sakit yang kamu rasakan saat masa kehamilan," ucap Reigha bersungguh-sungguh dalam mengucapkannya.
Nala tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Kehamilannya kali ini akan terasa berbeda dari kehamilannya yang pertama. Kali ini dia akan ditemani Reigha. Bahkan, suaminya itu yang akan merasakan mual dan muntah padahal dirinya yang hamil.
Setelah menebus vitamin ibu hamil, Nala dan Reigha memutuskan untuk menjemput Zia dan Zio terlebih dahulu. Semua orang tua sudah berkumpul di rumahnya untuk mendengar hasil dari pemeriksaan Nala kali ini.
"Sayang?" panggil Reigha lembut sambil fokus menyetir mobilnya.
"Kenapa, Dad?" jawab Nala lengkap dengan panggilan barunya.
Reigha tampak terkejut dengan panggilan baru itu hingga menoleh cukup lama. "Mengapa Dad? Bukan Mas lagi ya??" tanya Reigha heran.
Nala terkekeh pelan. "Mulai hari ini, aku akan memanggil kamu dengan Daddy. Agar anak-anak kita juga tidak mengikuti panggilanku padamu. Dan kamu juga harus memanggilku dengan sebutan Mommy," jelas Nala yang langsung dimengerti oleh Reigha.
"Baiklah. Itu sangat romantis," jawab Reigha terkekeh sendiri.
Nala tersenyum menatap suaminya. Reigha benar-benar menunjukkan perubahan tentang keinginannya untuk mencintai dirinya dengan tulus.
"Terima kasih ya, Mas. Aku sangat bahagia," ucap Nala penuh cinta.
Reigha menoleh. "Aku yang harusnya berterima kasih. Kamu sudah memberiku kesempatan kedua dan meriah bahagia bersama kamu yang kucinta serta anak-anak kita. Aku tidak pernah menyangka jika kamu akan memberiku banyak anak. Terima kasih banyak," ucap Reigha panjang lebar, merasa bersyukur atas kehidupannya kali ini.
Nala tersenyum sendu lalu bergelanyut manja di lengan sang Suami. Nala bisa merasakan tangan besar milik suaminya mengelus rambutnya lembut. Nala mendongak dan bisa melihat bulu-bulu halus yang tumbuh di sekitar rahang sang Suami.
Perlahan, Nala mengelusnya pelan hingga membuat jakun Reigha naik turun. "Nala. Jangan menyentuhnya seperti itu," peringat Reigha yang membuat Nala tertawa kencang.
"Kenapa memangnya, Dad Sayang?" tanya Nala tersenyum mengejek.
__ADS_1
Reigha berdecak sebal. "Ck. Aku yakin, istriku tidak sepolos itu," jawab Reigha tersenyum geleng-geleng kepala saat mengucapkannya. Reigha merasa, dirinya sudah gila ketika mengingat betapa hebatnya permainan Nala di atas ranjang hingga membuat dirinya puas.
"Aneh. Sekarang Daddy senyum-senyum sendiri," gerutu Nala yang kini tangannya beralih menyentuh jemari sang Suami.
"Ini semua karena Mommy. Mommy yang sudah membuat Daddy tergila-gila," jawab Reigha lalu mencium pelipis Nala dengan sayang.
Tidak berapa lama, mobil akhirnya berhenti di depan sekolah dimana Zia dan Zio menimba ilmu. Nala melihat jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjuk angka sembilan lebih lima puluh menit. Itu berarti, sepuluh menit lagi anak-anak akan pulang.
"Sebentar lagi mereka pasti keluar. Eh, Sisil kan ikut ya, Dad. Aku telepon Sisil saja kalau begitu," ucap Nala teringat pada baby sister anaknya.
Reigha mengangguk menyetujui. "Teleponlah. Pak Rudi tidak perlu menjemput kalau begitu," jawab Reigha santai.
Setelah menelepon sang Baby sister, tidak berapa lama anak-anaknya terlihat berjalan di antara banyaknya anak sekolah. Nala tersenyum kemudian turun untuk menyambut Zia dan Zio. Hal itu juga dilakukan oleh Reigha agar anak-anaknya merasa bahagia.
"Mommy! Daddy! Kami pulang," ucap Zia sambil berlari dan berhambur memeluk kedua orangtuanya.
Nala tersenyum lalu mengacak rambut kedua anaknya lembut. "Kalau begitu, kita pulang dulu ya? Oma Laras dan oma Nilam sudah menunggu kita. Ada Opa Prabu juga loh," ucap Nala memberitahu.
"Yeay!" "Hore!"
..............
"Jadi? Nala hamil lagi?" tanya bu Nilam penuh binar di matanya. Bibirnya mengulas senyum haru.
Nala mengangguk membenarkan. "Iya, Ma. Sudah delapan Minggu dan anak perempuan," jawab Nala detail.
Bu Laras yang mendengar itu, tidak bisa menyembunyikan tangis harunya. "Akhirnya, ibu akan memiliki cucu baru," ucap bu Laras lalu menarik tubuh Nala untuk dipeluknya.
"Sehat-sehat yang, Nduk. Dijaga dengan baik karena Tuhan telah menitipkan anak lagi padamu. Reigha juga, tolong jaga Nala untuk mengontrol emosinya. Ibu hamil biasanya akan sangat sensitif. Jadi, kamu harus bersabar dalam menghadapinya," ucap bu Laras panjang lebar memberikan petuah baiknya.
Reigha mengangguk yakin. "Tentu, Bu. Seperti lagunya Govinda dong. Takkan siakan dia ... Belum tentu ada yang seperti dia," jawab Reigha justru bernyanyi.
Nala mencubit pelan pinggang suaminya. "Jangan nyanyi, Mas. Aku takut orang yang mendengar suara kamu justru akan mengalami gangguan pendengaran," peringat Nala terdengar seperti ejekan.
__ADS_1
Hal itu sontak membuat semua orang yang berada di ruangan tergelak kencang. "Benar. Suara Reigha bisa membuat gendang telinga Mama pecah," timpal Bu Nilam seakan mendukung pernyataan Nala.
Suara gelak tawa kembali terdengar mengisi ruangan. Hingga perhatian semua orang yang berada di rumah tengah itu teralihkan. Ada Nala, Reigha, Bu Laras, bu Nilam dan Rika yang saat ini sedang berkunjung ke rumah baru Nala.
"Eh! Itu bukannya Sandra ya, La?" ucap Rika sambil menunjukan siaran televisi yang menayangkan berita infotainment.
Semua terdiam dan mendengar dengan seksama.
"Seorang pengusaha ternama dan kaya raya ternyata adalah seorang penjahat. Dia melakukan penyekapan kepada istrinya. Bahkan, pengusaha dengan inisial D tersebut, tidak segan-segan melakukan penganiayaan. Istrinya yang bernama Sandra, terpaksa dilarikan ke rumah sakit jiwa guna mendapatkan perawatan intensif karena kondisi kejiwaan yang terganggu."
Begitulah kira-kira sepenggal kalimat yang diucapkan presenter dalam sebuah siaran televisi. Nala terkejut bukan main dan mulai menyambungkan kepingan puzzle yang selama ini masih menjadi misteri.
Tentang Sandra yang tiba-tiba datang ke kantornya waktu itu hingga Sandra yang meminta tolong pada Reigha untuk menolongnya. Berarti, wanita itu benar-benar mendapatkan perlakuan buruk dari suaminya.
"Aku tidak menyangka hidup Sandra akan berakhir seperti ini," ucap Nala memecahkan keheningan. Semua orang tampak terdiam dengan pikirannya masing-masing.
"Itu sudah menjadi konsekuensinya. Apa yang kamu tanam, maka akan kamu tuai. Baik maupun buruk, semua akan kembali pada kita. Bila kita berbuat baik pada orang lain, sebenarnya kita sensh berbuat baik untuk diri sendiri. Begitu juga sebaliknya. Di dunia ini, percaya tidak percaya, hukum tabur tuai masih berlaku," ucap bu Nilam panjang lebar.
Semua mengangguk membenarkan. Apa yang kita lakukan di masa kini, akan kita terima di masa depan. Jadi, berbuat baiklah dan berpikir bahwa itu untuk kebaikan diri sendiri.
"Bagaimana perasaan kamu, Mas?" tanya Nala dengan nada ketusnya.
Reigha yang sejak tadi menatap ke arah televisi, langsung menoleh mendengar nada suara Nala yang tidak bersahabat.
"Aku? Kamu kenapa?" tanya Reigha heran.
"Kamu kenapa sejak tadi melihat ke arah Sandra terus? Masih ada rasa kamu?" tanya Nala lagi dengan wajah bersungut. Reigha menganga lebar. Apa ini arti dari ucapan Bu Laras yang mengatakan jika ibu hamil itu sensitif?
Bahkan, panggilan baru yang sudah disepakati diganti lagi dengan panggilan lama. Reigha hanya menghela napas ketika Nala pergi begitu saja meninggalkan ruangan.
"Ujian baru dimulai," ucap Rika sambil tersenyum puas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1