
"Yuna? Rani? Kalian sudah siapkan semua barang-barang yang akan dibawa besok kan? Kita akan berangkat pagi pukul tujuh. Aku harap kalian datang tepat waktu ya," ucap Nala menginterupsi dua karyawannya.
Sedang tiga laki-laki yang bekerja untuk mendekorasi, sudah berangkat baru saja. Tidak hanya ada tiga laki-laki karena kali ini peeta pernikahan di adakan di sebuah gedung hotel mewah.
Terpaksa, Nala harus menyewa tiga orang laki-laki lagi untuk membantu para karyawannya.
"Sudah, Bu. Semua sudah siap dan sudah kami kumpulkan di kotak. Besok tinggal mengangkutnya saja," jawab Rani sigap.
"Bagus!" ucap Nala bangga.
"Oh iya. Kita harus berdoa semoga acara besok berjalan lancar. Kita harus mengusahakan semuanya dengan semaksimal mungkin. Ini adalah tantangan untuk kita agar Hanindya Organizer semakin maju. Tenang saja, aku ada hadiah khusus untuk kalian setelah ini. Kalian berhak mendapatkannya atas kerja keras yang sudah kalian usahakan," ucap Nala panjang lebar, berpidato untuk membuat semua karyawannya lebih bersemangat lagi.
Rani dan Yuna tampak tersenyum bahagia. "Siap, Bu!" jawab Yuna dan Rani serempak.
"Oh iya. Setelah acara ini, kita akan mengadakan rapat dan berbincang santai. Pastinya, aku akan mengadakannya sambil mengajak kalian makan siang. Siap-siap saja ya. Beritahu juga yang lainnya," ucap Nala mengimbuhkan pengumumannya.
Nala bisa melihat senyum binar di wajah Rani dan Yuna sudah tidak bisa disembunyikan lagi. Dan kebahagiaan itu seperti menular ke diri Nala.
Hari berganti.
Semua sudah berangkat menuju hotel di Jakarta. Tepat pukul sembilan pagi, semua sudah sampai. Zia dan Zio tentu ikut bersama Nala. Untuk menjaga dua anaknya, Nala mengajak ibunya juga. Bu Laras dengan senang hati menjaga cucu-cucunya.
Nala, Zia, Zio, Bu Laras, dan Rani sudah berada di ruangan tempat pengantin akan di rias. Sedangkan Yuna, dia ditugaskan untuk mengurus mempelai pria. Mempelai pria dan mempelai wanita memang berada di ruangan yang terpisah. Yuna akan dibantu oleh salah satu pria yang sudah Nala sewa untuk membantu mengurus mempelai pria dan Bridesmaids pria.
"Sebentar lagi mempelai wanita dan keluarganya akan datang. Ayo, disiapkan semuanya dulu ya, Ran," pinta Nala lembut yang segera dilaksanakan oleh Rani.
Benar saja, lima menit setelah Rani bersiap, orang-orang yang akan dirias masuk ke ruangan. Nala bisa menduga jika pernikahan ini akan digelar dengan sangat mewah. Terbukti dari banyaknya Bridesmaids wanita yang berjumlah sepuluh orang.
__ADS_1
"Zia dan Zio duduk yang tenang dengan Oma dulu ya? Mommy mau kerja dulu," ucap Nala lembut pada anak-anaknya.
Zia dan Zio mengangguk patuh. Baru setelahnya Nala mendekat pada mempelai wanita yang harus mendapatkan riasan terlebih dahulu. Mempelai wanita adalah hal yang oibg utama untuk dirias sebelum lain-lainnya.
Akhirnya, tepat pukul sebelas lewat empat puluh lima menit, semua sudah terselesaikan. Calon mempelai wanita sudah siap dengan riasan yang elegan dan sangat cantik. Karena setelah ini acara akad, sang Pengantin mengenakan gaun berwarna putih susu.
"Terima kasih ya, Mbak. Aku sangat puas dengan riasan ini. Ini sangat luar biasa," ucap pengantin wanita dengan mata yang berkaca-kaca.
Nala tersenyum haru lalu mengangguk. "Tentu, Nona. Kepuasan pelanggan adalah hal yang paling utama bagi Hanindya Organizer," jawab Nala ramah.
"Jangan lupa nanti ikut turun. Kalian semua harus menikmati hidangan yang telah kami siapkan. Kalian juga harus ikut berfoto dan memeriahkan acara kami," ucap ibu yang diduga adalah ibu dari mempelai wanita.
"Tentu, Bu. Kami akan menikmati pestanya dengan senang hati," jawab Nala sambil membungkuk hormat.
Di tempat lain, Reigha sendu bersiap untuk menghadiri sebuah pesta pernikahan yang diadakan oleh salah satu kolega bisnis sang Papa.
Sebenarnya Reigha cukup malas untuk berbaur dengan banyak orang dan ads di antara kerumunan. Namun, sang Papa kondisinya sedang drop. Reigha tidak mungkin memaksa sang Papa untuk datang.
Tepat pukul dua belas lewat lima belas menit, keduanya sampai dan turun di lobi hotel. Keduanya berjalan beriringan menuju ballroom hotel. Merasa tidak sopan, Anjani memilih untuk berjalan di belakang Reigha.
Namun, Reigha dengan sikap menarik tangan Anjani untuk berjalan di sampingnya. "Lupakan jika saat ini aku adalah atasanmu," ucap Reigha masih saja datar. Anjani hanya menurut dan berjalan bersisian bersama Reigha.
"Ikut aku kesana," ajak Reigha sambil menunjuk beberapa pria berjas rapi yang tampak berbincang santai.
Reigha menyapa beberapa pria yang dikenalnya. Sedangkan Anjani setia mengekor kemanapun Reigha pergi. Hingga suara MC menginterupsi bahwa acara pernikahan akan di mulai.
Mempelai pengantin pun menjalani proses pemberkatan oleh salah satu tokoh agama. Setelah acara pemberkatan selesai, tamu undangan diminta untuk menikmati hidangan.
__ADS_1
"Ikut bersamaku. Kau harus makan," ucap Reigha perhatian namun tetap mempertahankan wajah datar dan nada dinginnya. Hingga Reigha begitu terkejut saat merasakan dua kakinya disentuh oleh tangan kecil yang sangat lembut.
"Daddy!" pekik dua malaikat kecil yang begitu Reigha rindukan. Mengapa dua anaknya ada disini? Batin Reigha bertanya.
Reigha mengambil posisi berjongkok di hadapan dua anaknya. Tatapannya begitu sendu lalu membawa tubuh Zia dan Zio dalam dekapan.
Reigha mengecup puncak kepala Zia dan Zio bergantian. "Kalian kenapa ada disini? Bersama siapa?" tanya Reigha tersenyum sambil menangis.
"Daddy kenapa menangis? Jangan menangis. Kita saja yang masih anak kecil, tidak menangis," ucap Zia sambil mengusap pipi Reigha yang basah karena air mata.
"Ini air mata bahagia. Akhirnya Daddy bisa bertemu dengan kalian setelah sekian lama," ucap Reigha lalu membawa Zia dan Zio dalam gendongan.
Anjani hanya menatap bingung pada interaksi bosnya dan anak-anak kecil tersebut. Di benaknya timbul pertanyaan, apakah bosnya sudah menikah dan mempunyai anak?
"Kalian bersama siapa kesini?" tanya Reigha sambil mengedarkan pandangan. Saat tatapannya lurus ke depan, disana telah berdiri sosok yang selama ini Reigha rindukan.
Dia sedang tersenyum bersama seorang wanita yang menyapanya. Saat wanita yang menyapa itu pergi, Nala menoleh ke sekitar dan berhenti pada sosok yang kini sedang berdiri tidak jauh darinya dengan Zia dan Zio yang berada di gendongan.
Pandangan keduanya bertemu dan terkunci di satu titik. Pemandangan dan lalu-lalang di sekitar sudah tidak lagi menarik dan mengganggu pandangan Nala dan Reigha. Dunia hanya berputar pada Nala dan Reigha saja.
Nala memilih untuk memutus tatapan terlebih dahulu ketika menyadari ada seorang wanita yang setia berada di samping Reigha.
Nala berdecih pelan. 'Cih. mulut laki-laki memang tidak bisa dipercaya,' gumam Nala dalam hati.
Sedangakan Reigha, dia sangat menyayangkan hal itu karena masih rindu dengan tatapan Nala yang selalu mampu menenggelamkan Reigha ke dasar yang terdalam.
"Itu. Kami bersama Mommy dan Oma. Tapi kami tidak tahu kemana Oma pergi," jawab Zio sambil menunjuk ke arah Nala.
__ADS_1
Reigha mengangguk. Dia sudah melihat ibu dari anak-anaknya lebih dulu. Sedangkan Anjani, dia mengikuti arah tunjuk Zio. Ada wanita cantik yang berdiri mematung di depan sana.
'Apakah itu isterinya?' batin Anjani bertanya.