Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)

Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)
Bab 114. Permak


__ADS_3

Setelah pulang di apartemennya, Nanta bergegas menghubungi Anjani untuk bersiap. Pukul setengah enam nanti mereka harus segera berangkat ke Bogor.


Acaranya akan dimulai pukul delapan. Namun, Nanta memilih menunggu dari pada datang terlambat. Sekarang, waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima. Tinggal satu jam lagi mereka harus sudah jalan.


Tut. Tut. Tut.


"Halo, Njan? Sudah di butik kan?" tanya Nanta sambil dirinya bergerak melepas kancing kemejanya satu per satu.


"Sudah. Ini sedang di permak," jawab Anjani di seberang sana.


Nanta tertawa terbahak-bahak mendengar celetukan Anjani di seberang sana. Gadis itu sekalinya bicara bisa membuat mood Nanta membaik. "Permak? Make up kali, Njan," ucap Nanta lagi dengan sisa tawanya.


Terdengar kekehan renyah dari Anjani lalu samar-samar terdengar suara yang menginterupsi agar Anjani tidak banyak bergerak.


Merasa waktu kurang tepat, Nanta akhirnya berkata. "Baik. Setengah jam lagi aku sampai."


Setelah mengucapkan itu, Nanta menutup panggilan. Dia segera bersiap agar tidak terlambat. Oh ya. Nanta juga sudah meminta izin pada bu Ruri untuk mengajak anak gadisnya ke Bogor. Nanta juga meminta izin agar Anjani boleh menginap di rumahnya.


Walau Bu Ruri tampak ragu, beliau pun mengizinkan. Tentunya setelah Nanta meyakinkan dengan sedemikian rupa.


Pukul lima lebih lima belas menit, Nanta sudah memarkirkan mobilnya di depan butik dimana Anjani sedang di permak. Nanta tersenyum sendiri mengingatnya.


Tidak mau menunggu di mobil, Nanta pun turun dan masuk ke butik tersebut. Butik yang juga menyediakan tata rias.


"Sore, Tuan," sapa seorang pegawai butik sambil membungkuk hormat. Nanta mengangguk lalu tersenyum.


"Apa pelanggan bernama Anjani sudah selesai di rias? tanya Nanta pada pegawai tersebut.


"Sudah selesai, Tuan. Sebentar lagi pasti keluar." Pegawai itu menjawab dengan ramah.


"Baiklah, terimakasih." Nanta berucap ramah dan ingin kembali melangkah. Namun, hal itu urung dilakukan tatkala melihat sebuah pintu ruangan terbuka dan Anjani muncul dari sana.


Tatapan mata Nanta langsung terkunci pada sosok gadis, bukan. Bukan sosok gadis melainkan sosok bidadari tak bersayap. Nanta mengakui bahwa Anjani sangatlah cantik.

__ADS_1


"Nan?" panggil suara yang membuyarkan lamunannya.


Nanta tergagap lalu segera mengembalikan kesadaran dirinya. "Su-sudah selesai?" tanya Nanta sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Sudah. Kita berangkat sekarang?" tanya Anjani lengkap dengan senyum manisnya. Sungguh, Nanta benar-benar bisa gila hanya karena mendapat senyum dari Anjani. Make up flawless membuat Anjani tampil begitu ... Huh! Nanta menggelengkan kepalanya untuk mengusir bayangan Anjani yang gentayangan di pikiran.


"Iya. Kita berangkat sekarang saja." Setelah mengucapkan itu, Nanta memilih berjalan lebih dulu. Selain untuk menghilangkan kegugupan, Nanta juga ingin menyembunyikan degup jantungnya yang seperti bertalu-talu.


Entah. Apakah Anjani merasakan dengan apa yang Nanta rasakan saat ini atau tidak. Ini terlalu aneh bagi Nanta.


...............


Sesampainya di kota Bogor, Nanta langsung melajukan mobilnya ke sebuah hotel bintang tujuh. setengah jam lagi acara pesta akan di mulai. Anehnya, tidak ada rasa sakit ketika melihat banyaknya karangan bunga di depan hotel.


Di beberapa karangan bunga itu terdapat nama Rose dan Rendra. Tentu karangan itu dari orang-orang terdekat yang ingin mengucapkan selamat.


Nanta pikir, ini adalah hari terburuknya karena harus menghadiri acara pernikahan mantan kekasih.


"Nan?" panggil Anjani yang membuat Nanta menoleh. Menatap Anjani sepenuhnya.


Nanta mengerjap bingung. Memangnya apa yang terjadi pada dirinya? "Kenapa aku harus tidak baik-baik saja?" Nanta justru balik bertanya.


Hal itu membuat Anjani mendengkus sebal. "Karena kamu datang ke acara pernikahan mantan kekasih. Ini, kamu ditinggal saat sedang sayang-sayangnya loh," ucap Anjani seakan mengingatkan tujuan awal Nanta memintanya sebagai pacar pura-pura.


Nanta justru tertawa. Bukan tawa getir dan penuh luka. Hanya sekedar tawa konyol.


"Aku juga bingung mengapa sekarang tampak biasa-biasa saja. Hari ini tidak seburuk yang ada dalam pikiran ku," jawab Nanta sambil menatap Anjani hangat.


Tatapan itu tentu membuat Anjani salah tingkah hingga memilih untuk berpaling dan memperhatikan orang-orang yang sedang berlalu-lalang.


"Apakah ini pertanda jika kamu sudah bisa berpaling?" Anjani kembali mengajukan pertanyaan.


Nanta hanya mengangkat bahu lalu membuka pintu mobil untuk keluar. Anjani yang bingung, hanya bisa menatap gerakan Nanta dari dalam mobil. Hingga pintu di samping tempat duduknya terbuka lalu Nanta sudah berdiri di sana.

__ADS_1


"Silahkan turun, Tuan Putri," canda Nanta disertai gelak tawa. Anjani ikut tertawa dengan tingkah absurd Nanta. Harusnya, hari ini adalah hari tersedih bagi laki-laki itu. Tetapi, hari ini Anjani justru melihat Nanta lebih banyak tersenyum dan tertawa.


"Terima kasih, Bos!" jawab Anjani yang membuat Nanta berdecak.


"Ck. Mana ada seorang bos yang membukakan pintu untuk pegawainya." Nanta tidak habis pikir. Setelah Anjani berada di luar, Nanta kembali menutup pintu dan menguncinya dengan remote control.


"Ada kok. Kamu contohnya," jawab Anjani disertai kekehan geli.


"Kenapa jadi aku?" tanya Nanta tidak habis pikir.


Anjani mengibaskan tangan di udara dan berkata. "Lupakan. Sekarang, kita harus mempraktikkan apa yang sudah kita pelajari beberapa hari ini. Jangan sampai terjadi kesalahan dan kamu akan dianggap gagal move on."


Nanta terkekeh lalu segera menarik pinggang Anjani untuk di peluknya. "Seperti ini bukan?" tanyanya dengan alis yang dimainkan naik dan turun.


Anjani terkesiap sejenak. Saat sudah menguasai diri, Anjani melotot tajam. "Tidak harus se-intim ini juga kali," kesalnya tidak habis pikir.


Harusnya ini tidak masalah jika kondisi jantung Anjani baik-baik saja. Berada dalam jarak yang sangat dekat dengan sosok laki-laki membuat Anjani merasakan gugup. Padahal, orangnya adalah Nanta yang sudah kenal lumayan dekat.


Nanta hanya tersenyum miring lalu segera melangkahkan kaki. Anjani sampai terseret-seret untuk menyejajarkan langkah Nanta.


"Nan. Jangan terlalu cepat karena aku memakai heels," rengek Anjani yang berhasil menyadarkan Nanta. Laki-laki itu menghentikan langkah lalu pandangannya terpaku pada Anjani di sisinya.


Nanta baru sadar jika Jaraknya begitu dekat dengan Anjani. Perlahan, Nanta melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang. "Apa ada yang sakit?" tanya Nanta begitu khawatir.


Anjani tersenyum lalu menggeleng. "Tidak ada. Hanya saja, aku takut akan keseleo jika berjalan dengan cepat," jawabnya tidak masalah.


Ada raut sesal yang ditunjukkan Nanta dan itu membuat Anjani merasa tersentuh. "Maafkan aku ya. Sekarang, kita jalan pelan-pelan sambil ... bergandengan tangan saja."


Setelah mengucapkan itu, Nanta menautkan jemarinya di sela-sela jari Anjani. Nanta mengangguk memberi isyarat bahwa mereka harus segera masuk.


Akhirnya, Nanta dan Anjani melangkah masuk dengan tangan yang saling bertaut. Ada degup-degup menyenangkan di dada keduanya. Namun sayang, keduanya belum menyadari arti degupan tersebut.


Nanta hanya ingin menikmati hari ini. Masalah esok, akan Nanta pikirkan lagi.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...



__ADS_2