
Singapura siang hari.
Nala dan Nanta baru saja keluar dari universitas tempat Nanta akan menuntut ilmu. Ya, Nala mengantar Nanta karena adiknya itu masih mempunyai kendala bahasa.
Sudah hampir sepekan Nanta begitu gigih belajar bahasa Inggris. Kabar baiknya, bahasa Inggris Nanta semakin baik.
"Kamu kalau sedang pelajaran bahasa Inggris kemana saja sih? Bisa-bisanya kamu kurang lancar. Padahal, ibu sudah menyekolahkan kamu di sekolah yang mayoritas menggunakan bahasa Inggris," tanya Nala tidak habis pikir.
Nanta mencebikkan bibirnya. "Jangan dibandingkan-bandingkan, Mbak. Bagaimanapun, bahasa Jawa dan bahasa Indonesia tetap di hati," jawab Nanta sambil membuat gerakan memukul dadanya pelan.
Nala memutar bola matanya malas. "Alasan saja," jawabnya kemudian masuk lebih dulu menuju taksi yang sudah menunggu.
Setelah keduanya masuk, taksi melaju menuju apartemen Nala dan Nanta tinggal. Mengenai Rika, tantenya itu juga tinggal di apartemen yang sama dan lantai yang sama. Hanya berbeda nomor unitnya saja.
Rika-lah yang banyak membantu keduanya selama tinggal di Singapura. Termasuk mencarikan guru les bahasa untuk Nanta.
Nala mengeluarkan ponsel untuk menghubungi ibunya. Namun, niat itu urung ketika Nala melihat layar ponselnya masih menggunakan foto dirinya dan Reigha saat berada di taman kota.
Nala sengaja memasang foto itu karena Reigha begitu tersenyum bahagia. Nala menghela napas pelan. Hatinya masih saja tertuju pada satu nama itu, yaitu Reigha Cakrawala.
Mungkinkah disana Reigha sudah bahagia? Batin Nala bertanya.
Nala lebih dulu mengganti wallpaper ponselnya menjadi warna hitam, sehitam jalan hidupnya.
"Tidak perlu memikirkan laki-laki itu lagi, Mbak," ucap Nanta seakan tahu isi hati Nala.
Nala menghela napasnya. "Mbak hanya sekedar teringat," jawab Nala kemudian menyimpan ponselnya. Niatnya urung seketika.
Tidak berapa lama, taksi yang tumpangi keduanya telah sampai. Setelah membayar uang, Nala dan Nanta bergegas naik menuju unit apartemen.
"Tante Rika belum pulang ya?" tanya Nanta ketika melewati unit apartemen tantenya itu, terasa sepi.
"Belum. Kamu mau kemana?" tanya Nala memicing.
"Tahu saja. Tadi saat mendaftar di universitas, aku bertemu orang Indonesia," jelas Nanta terlihat gugup karena tangannya kini bergerak menggaruk tengkuk, dan Nala menyadari itu.
"Pasti perempuan kan?" tebak Nala yang sayangnya benar.
Nanta tidak menjawab dan mengalihkan pembicaraan dengan menekan kata sandi sebagai akses masuk. Nala mengangkat satu alisnya. "Pasti perempuan kan?" ucap Nala yang kemudian tergelak renyah melihat Nanta yang salah tingkah.
"Semoga berhasil ya," ucap Nala lagi sambil menepuk pelan bahu adiknya.
Setelah masuk, Nanta menoleh pada kakaknya. "Mbak Nala tidak marah?" tanya Nanta memastikan.
Nala tersenyum geli lalu menggeleng. "Mbak percaya sama kamu. Kamu sudah dewasa dan harusnya juga sudah tahu batasan," ucap Nala kemudian melenggang masuk ke kamarnya.
__ADS_1
"Mbak?" panggil Nanta sebelum Nala menutup pintu kamarnya.
"Kenapa?"
"Aku boleh menemuinya kan?" tanya Nanta meminta izin terlebih dahulu.
Nala tersenyum. "Boleh. Asalkan tetap jaga batasan dan jangan pulang larut malam," ucap Nala yang berhasil membuat Nanta tersenyum bahagia.
"Kalau begitu, aku pergi dulu ya, Mbak," pamit Nanta lalu mendekat untuk menyalami punggung tangan Nala.
Nala menatap kepergian adiknya dengan tatapan yang entahlah. Benar kata tantenya, Nanta sudah dewasa dan mungkin sudah merasakan apa yang namanya jatuh cinta.
Nala tersenyum tipis kemudian masuk untuk mengistirahatkan jiwa dan raganya.
................
Reigha begitu marah ketika mengetahui jika Sandra sudah menghabiskan banyak uang dalam waktu lima hari. Reigha tidak habis pikir dengan sikap Sandra.
Dia sudah sampai di depan unit apartemen Sandra yang merupakan apartemen yang dibeli dari uang kerja keras Reigha. Nama pemiliknya juga masih atas nama Reigha.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Reigha menekan kata sandi dan setelah pintu terbuka, Reigha melenggang masuk begitu saja.
"Sandra!"
"Sandra!"
Hanya satu ruangan yang belum dirinya datangi, yaitu kamar. Samar-samar Reigha mendengar suara Sandra yang sedang ... Entahlah. Rasanya, Reigha menjadi tidak waras mendengar suara itu.
Semakin Reigha mendekat, suara Sandra semakin jelas terdengar yang disusul dengan suara seorang pria. Reigha membelalakkan mata tidak percaya. Dengan tergesa-gesa, Reigha membuka pintu yang terbuka sedikit itu.
Brak!
Betapa terkejutnya Reigha ketika mengetahui apa yang sedang dilakukan Sandra bersama pria lain.
"Sandra!" Reigha memekik penuh amarah hingga aksi tak senonoh yang sedang dilakukan dua manusia itu terhenti.
"Rei ... Gha ...."
"Dasar tidak tahu diri. Pergi dari sini kalian!" ucap Reigha dengan suara meninggi.
Secepat kilat Sandra memungut pakaian begitu juga dengan pria yang bersamanya. Sandra mendekat dan memegang lengan Reigha. "Aku bisa jelaskan semuanya, Ga. Kamu jangan salah paham terlebih dahulu," ucap Sandra tidak tahu malu.
Dengan rahang yang mengeras, tangan yang mengepal, dan gigi-giginya yang begemeletuk, Reigha mengangkat tangan untuk menampar pipi Sandra.
Plak!
__ADS_1
"Pergi kalian dari sini! Tidak perlu menjelaskan apapun karena semua sudah terlihat sangat jelas. Dasar tidak tahu diri!" kesal Reigha menatap nyalang Sandra.
Akhirnya, dua manusia menjijikkan itu keluar dari apartemen. Sepeninggalan Sandra, Reigha terduduk lemas di lantai. Bahunya dia sandarkan pada dinding dengan kedua kaki yang ditekuk. Tangannya bergerak menjambak rambutnya, frustasi.
"Aku sudah salah menduga. Aku memang bodoh," ucap Reigha menyesali kebodohannya.
Kebodohan karena sudah mempertahankan Sandra yang jelas-jelas hanya memanfaatkannya. Hingga Reigha gelap mata dan menutup hati untuk kembali melihat Nala.
Bolehlah Reigha menyesal? Walau dia tahu bahwa penyesalan itu memang selalu sayang terlambat.
Seketika bayangan kebersamaannya bersama Nala bagai berputar di kepala. Senyum Nala, tawa Nala, dan semua perhatian Nala padanya.
Tanpa terasa, matanya memanas dan bisa merasakan cairan bening lolos dari sana. "Kamu dimana, La? Aku harus meminta maaf padamu," gumam Reigha penuh sesal.
Dengan langkah gontai, Reigha berjalan keluar dari apartemen menuju rumah orangtuanya. Dia ingin bertanya barangkali mama atau papanya tahu dimana keberadaan Nala sekarang.
Saat sudah berada di mobil, Reigha seketika mempunyai pikiran bahwa Nala pasti pulang ke Bogor. Dengan semangat yang tersisa, Reigha mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Beruntung, jalanan sudah mulai lengang karena waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam.
Sekitar satu jam berkendara bagai terbang, mobil Reigha sampai di depan rumah mantan mertuanya. Ya, bu Laras sudah menjadi mantan mertua karena statusnya dengan Nala sudah berpisah.
Tubuhnya seketika lemas menyadari hubungannya dengan Nala sudah benar-benar berakhir. Reigha hanya berharap semoga Nala mau menemui dirinya.
Setelah menekan bel, tidak berapa lama Reigha bisa melihat bu Laras berjalan mendekat dengan tangan yang membawa kunci.
Bu Laras sempat berhenti melangkah sebelum kemudian kembali berjalan mendekat. "Ada apa?" tanya bu Laras singkat dan datar.
"Nala-nya ada, Bu? Boleh aku menemuinya?" ucap Reigha langsung pada intinya.
Bu Laras menatap tajam Reigha. "Jangan ganggu anak saya lagi. Sudah cukup luka yang kamu torehkan di hatinya. Biarkan Nala menjalani hidupnya tanpa kamu. Karena ketika hidup Nala masih ada kamu, Nala hanya akan terluka," ucap bu Laras dengan tatapan kelamnya.
Bu Laras menghela napas kasar melihat Reigha yang hanya terdiam dengan kepala yang menunduk dalam.
"Ada surat yang ditinggalkan Nala untukmu," ucap bu Laras yang berhasil membuat Reigha menegakkan kepalanya.
"Memangnya, Nala pergi kemana, Bu? Mengapa Nala meninggalkan surat?" tanya Reigha yang seketika merasa takut.
Bu laras melipat lengan di depan dada. "Anak saya sudah pergi ke suatu tempat yang lebih nyaman dan menenangkan. Jadi, jangan ganggu dia lagi. Biarkan kali ini Nala hidup bahagia," peringat bu Laras yang berhasil membuat jantung Reigha seperti melemah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...jangan lupa kasih dukungannya ya 😘...
...mampir juga kesini yuk 👇
__ADS_1
...