
Saat sarapan telah selesai dilaksanakan, fokus semua orang bukan tertuju pada Nala dan Reigha yang saat ini masih berstatus sebagai pengantin baru namun sudah tak baru lagi.
Anjani dan Nick datang untuk memenuhi undangan sarapan bersama di rumah bu Laras. Namun bukan Anjani dan Nick yang mencuri perhatian. Melainkan Anjani dan Nanta yang tingkahnya seperti kucing dan tikus.
Semua orang tentu menyaksikan bagaimana Anjani berusaha meledek Nanta yang kebetulan duduk di sebelahnya. "Sudah tidak menangis lagi nih?" ucap Anjani yang tentunya masih bisa di dengar oleh semua orang.
Nanta terlihat kesal namun tetap mengabaikan pertanyaan Anjani yang sengaja ingin mempermalukan dirinya.
"Ingusnya bagaimana? Masih ada sisa atau tidak?" tanya Anjani lagi seakan tak kenal lelah.
Nanta menoleh dengan tatapan tajamnya. "Bisa diam tidak? Jangan membuatku kehilangan selera makan," geram Nanta dengan suaranya yang rendah.
Anjani hanya tersenyum kemudian melanjutkan sarapannya.
Nala yang melihat pemandangan itu, karena kebetulan tempat duduknya berhadapan dengan sang Adik, melempar pandang pada sang Suami yang duduk di sebelahnya. Reigha juga melakukan hal yang sama.
"Apa kalian saling mengenal?" tanya Nala penasaran lengkap dengan tatapan menyelidik.
Semua orang tampak menunggu jawaban dari Nanta dan Anjani yang masih terdiam.
"Kenal." "Tidak."
Anjani dan Nanta menjawab bersamaan dengan jawaban yang berbeda. Hal itu semakin membuat Nala kebingungan. "Sebenarnya, kalian saling mengenal atau tidak?" tanya Nala sekali lagi.
Merasa percuma, Nanta memilih diam dan membiarkan Anjani menjawab sesuka hatinya. "Kami baru saja mengenal, Bu. Saat itu aku tidak tega melihat adik Ibu menangis karena terharu akhirnya Bu Nala sudah mendapatkan kebahagiaan. Hanya itu sih, Bu," jawab Anjani meringis malu.
Anjani ingin menggelemkan wajahnya di manapun yang terpenting tidak dalam situasi seperti ini. Apalagi, semua pasang mata seperti sedang tertuju ke arahnya.
Bodohnya Anjani yang tidak menyadari tingkahnya sudah kelewat batas. 'Aku kan hanya seorang sekertaris. Mengapa aku bisa seberani itu?' tanya Anjani yang merasa heran dengan sikapnya sendiri.
'Huh! Tapi, bukankah menggoda Nanta adalah hal yang sangat menyenangkan? Mengapa dia tidak berekspresi saat aku goda? Padahal, saat bersama keluarganya dia akan tertawa lepas dan mengeluarkan senyum manisnya,' batin Anjani panjang lebar.
"Ya sudah. Kalau begitu lanjutkan makan kalian. Tidak baik makan sambil berbicara," peringat Nala yang segera diangguki oleh Anjani dan Nanta.
................
__ADS_1
Tiga hari berlalu. Reigha membawa Nala dan anak-anak menuju suatu tempat. Nala dan anak-anak tampak penasaran. Namun, Reigha masih saja ingin menyembunyikan.
"Sebenarnya kita mau kemana sih, Dad? Mengapa Daddy membuat teka-teki yang hingga kamu kebingungan?" tanya Zia tidak sabaran.
Reigha terkekeh renyah. Anak dan istrinya memang tidak akan pernah menyerah untuk berusaha bertanya dan mencari tahu sampai ke akar-akarnya.
"Sebentar lagi akan sampai dan kalian akan mengetahuinya dengan segera," jawab Reigha tersenyum penuh arti.
"Mommy juga tidak paham lagi, Zia. Kita tunggu saja sampai Daddy menghentikan mobilnya," ucap Nala menyerah.
Zio dan Reigha sontak tergelak. "Sudahlah, Mom, Zia. Kita ikuti saja dan menurut pada Daddy. Seperti aku misalnya," sahut Zio membanggakan diri sendiri.
Nala menghela napas lelah. Memilih diam adalah jalan terbaik karena suaminya itu seperti tidak berniat memberikan bocoran.
Dan benar saja, tidak berapa lama mobil akhirnya memasuki sebuah perumahan elit. Dari sana Nala mulai tahu kemana arah tujuan Reigha.
"Oh. Aku sekarang tahu kemana kita akan pergi," ucap Nala penuh bangga.
Reigha tergelak. "Kamu memang yang paling tahu," puji Reigha yang tangannya terulur untuk mengacak rambut sang Istri gemas.
"Mas? Apakah ini yang kamu bicarakan beberapa hari yang lalu?" tanya Nala sambil keluar dari dalam mobil. Zia dan Zio juga ikut menatap pada rumah besar di hadapannya.
"Ini rumah siapa, Dad?" tanya Zia penasaran.
Reigha tersenyum lebar melihat dua perempuan yang dicintai memiliki rasa penasaran yang sama. Tangan Reigha bergerak untuk merangkul Zio yang sejak tadi terlibat lebih tenang ketimbang Zia.
"Ini adalah rumah kita yang baru. Sebentar lagi kita akan tinggal disini," beritahu Reigha setelah cukup lama diam.
"Yeay! kita punya rumah baru!" pekik Zia girang. Zio hanya menanggapi dengan senyum bahagia dan binar bahagia di matanya.
Nala menoleh terkejut. "Sebesar ini, Mas? Aku kira kamu masih merencanakannya. Namun ternyata, kamu sudah membelinya," ucap Nala setengah tidak percaya.
"Yuklah. Masuk dulu. Kita lanjut mengobrol di dalam saja," ajak Reigha sambil mengulum senyumnya. Tangan satunya yang menganggur digunakan untuk merangkul tubuh Zia.
Nala memilih berjalan di samping Zia dengan perasaan yang ... Entahlah. Nala sangat bahagia karena akhirnya dia bisa memberikan keluarga yang lengkap untuk anak-anak.
__ADS_1
Reigha mengambil kunci yang sudah berada di saku celananya untuk membuka gerbang tinggi dan kokoh yang akan menjadi bagian terdepan dari rumahnya.
Bersyukur karena uang tabungan Reigha cukup untuk membeli rumah sebesar ini. Yang pasti, semua tidak terlepas dari rasa cinta dan sayangnya pada keluarga. Reigha ingin menikmati hidupnya bersama keluarga dalam rumah yang penuh kehangatan.
"Kapan kamu membelinya, Mas?" tanya Nala heran.
"Belum lama kok. Baru seminggu yang lalu. Saat aku mengatakannya padamu beberapa hari yang lalu, aku sudah membelinya," jawab Reigha yang kini sudah berhasil membuka pintu gerbang lalu menggesernya. Tentunya setelah melepaskan rangkulan di kedua bahu anak-anaknya.
"Ayo masuk," ajak Reigha mempersilahkan istri dan anaknya masuk terlebih dahulu.
Zia dan Zio langsung berlari mendekat pada pintu besar dan kokoh berwarna coklat tua. Keduanya sudah tidak sabar untuk melihat rumah baru yang dibeli ayahnya.
"Dad! Apakah ada kamar sendiri untuk kita berdua?" tanya Zio antusias.
"Tentu, Sayang. Kalian akan mempunyai kamar sendiri nanti. Daddy sudah mempersiapkan semuanya," jawab Reigha penuh sayang.
Reigha segera membuka pintu itu lalu terbukalah hingga menampakkan pemandangan rumah yang begitu luas dan mewah.
Zia dan Zio tentu sudah tidak sabar untuk menjelajahi seisi rumah. Mereka sudah berlari lebih dulu untuk melihat-lihat semua ruangan di lantai bawah.
Reigha menoleh pada Nala yang masih begitu terkejut. Dia tersenyum lalu mendekap tubuh sang istri penuh kasih sayang. Beberapa kali Reigha mencuri kecupan di puncak kepala Nala gemas.
"Bagaimana? Kamu suka kan? Ini semua aku lakukan demi kalian. Oh iya, rumah ini aku beli atas nama kamu dan anak-anak. Ini adalah milik kalian semua," ucap Reigha sambil menunduk untuk bertemu tatap dengan sang istri.
Nala mendongak. "Tapi ini terlalu berlebihan, Mas. Rumah ini terlalu besar," ucap Nala tidak enak hati.
"Tidak. Kita masih ada program untuk membuat anak yang banyak agar rumah ini penuh akan keceriaan dan kebahagiaan," jawab Reigha sengaja menggoda istrinya. Tentu saja hal itu membuat Nala tersipu malu lalu memukul lengan Reigha pelan.
"Memangnya kamu pikir mau membuat adonan roti? Segampang itu?" tanya Nala tidak habis pikir. Walau demikian, Nala tetap tersenyum malu-malu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...jangan lupa kasih like, komen, vote, dan hadiah semampu kalian ya😍...
...Sambil menunggu update, mampir juga kesini yuk👇...
__ADS_1