
"Jadi bagaimana? Apakah kamu bersedia untuk kembali hidup bersamaku? Mari kita bangun rumah tangga yang penuh cinta dan kasih sayang. Mari kita buatkan adik-adik yang lucu untuk Zia dan Zio."
"Kamu sedang melamarku, Mas? Disini? Tidak romantis sekali," gerutu Nala kemudian membuang pandangan.
Reigha terkekeh. "Kamu mau romantis versi aku tidak?" tanya Reigha.
"Apa?"
Reigha menangkup kedua sisi wajah Nala dan mengelusnya lembut. Matanya menatap Nala lekat. Nala yang mendapat perlakuan seperti itu, entah mengapa justru terbuai.
Benar. Sepertinya Nala masih mencintai pria di hadapannya. Nala bisa melihat wajah Reigha yang mendekat hingga Nala bisa merasakan hembusan napas hangat dari Reigha.
Setelah itu, Nala bisa merasakan benda kenyal yang menyentuh bibirnya. Sangat lembut namun terasa menuntut balasan. Nala membuka mulut ketika Reigha menggigit bibir bawahnya lembut. Nala bisa merasakan lidah Reigha yang bermain di dalam rongga mulutnya.
Nala terbuai. Dia mulai memejamkan mata dan membalas ciuman itu. Ciuman yang sudah lama sekali Nala rindukan.
............
"Jadi bagaimana?" tanya Reigha memastikan.
Nala semakin menelusupkan wajahnya di dada bidang milik Reigha. Dia masih malu karena mengatakan tak cinta namun membalas ciuman Reigha. Dan kabar buruknya lagi, Nala terbuai hingga menikmatinya.
"Bagaimana apanya?" tanya Nala balik yang nada suaranya mengayun manja.
Nala bisa merasakan pelukan Reigha mengerat hingga membuat Nala merasa hangat karena dekapan itu.
"Kamu yakin mau maju?" tanya Nala masih dalam pelukan.
"Kenapa aku harus ragu?" jawab Reigha justru balik bertanya.
Nala mendongak hingga bisa melihat jakun Reigha yang bergerak naik turun. "Kamu tahu kan, Mas. Ibu tuh keras orangnya. Selain meluluhkan aku, kamu juga harus meluluhkan hati ibu," jawab Nala kemudian tangannya bergerak untuk menyentuh jakun di hadapannya.
"Nala," ucap Reigha menggeram saat merasakan sentuhan jemari lentik Nala di jakunnya.
"Kenapa sih, Mas?" tanya Nala tanpa beban.
"Jangan sentuh area itu," peringat Reigha yang justru semakin membuat Nala menjadi-jadi. Nala kembali menyentuhnya dan dengan terpaksa, Reigha mencekal lengan Nala lembut.
__ADS_1
"Tolong jangan lakukan itu atau Zia dan Zio akan segera mempunyai adik," peringat Reigha yang membuat Nala sontak menjauhkan diri.
"Mesum!"
Reigha tertawa terbahak-bahak. "Kamu yang lebih dulu pancing aku."
"Lupakan. Kok pembahasan kita jadi melebar kemana-mana? Bagiamana? Apakah kamu siap untuk meluluhkan hati ibu, Mas?" tanya Nala memastikan.
Reigha mengangguk mantap. "Aku siap seratus persen. Apapun akan aku lakukan selagi aku mampu melakukannya," jawab Reigha yang membuat Nala tersenyum senang.
Nala kembali memeluk Reigha erat dan tentu saja, Reigha membalas pelukan itu tak kalah erat. Takut Nala akan pergi jauh lagi darinya.
Nala sekarang mulai berpikir terbuka. Mungkin Tuhan mempunyai alasan mengapa harus memisahkan dirinya dan Reigha lebih dulu. Mungkin karena keduanya bersatu dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.
Sekarang, Tuhan kembali mempertemukan cinta mereka di waktu dan suasana yang tepat dan tentunya dalam keadaan yang tepat.
Sesuai rencana, Reigha akan berusaha keras untuk mendapat restu bu Laras. Bahkan, Reigha tanpa diminta oleh Nala, Reigha akan melakukannya.
Seperti sekarang ini, Reigha sengaja mengantar Nala dan anak-anak pulang. Bahkan, Reigha tak tanggung-tanggung untuk masuk ke rumah Nala. Mengabaikan bagaimana tidak sukanya bu Laras padanya.
Nala memperhatikan bagaimana wajah ibunya yang menegang setelah kedatangan Reigha. "Mau apa kamu?"
Nah kan, benar dugaan Nala. Ibunya pasti akan kembali mengatai Reigha setelah ini.
"Mengantar Nala dan anak-anak, Tan. Boleh kan?" tanya Reigha sopan.
Bu Laras berdecih pelan. "Kamu tuh tidak ada kapok-kapoknya mendekati Nala. Heran aku," gerutu bu Laras kemudian segera melipat tangan di depan dada.
"Aku memang tidak pernah kapok untuk berjuang, Tan," jawab Reigha sopan.
"Bagus."
"Sekarang pulanglah dulu. Bawa orangtuamu datang kesini," titah bu Laras yang membuat Nala dan Reigha saling lempar pandang.
"Kenapa? Kamu tidak mau?" ketus bu Laras lagi.
"Mau kok, Tan. Tetapi, dalam rangka apa ya, Tan?" tanya Reigha penasaran. Tidak mungkin bu Laras merestui hubungannya dengan Nala begitu saja bukan?
__ADS_1
Nala bisa melihat ibunya yang hampir frustasi. "Katanya suka sama anakku. Katanya cinta. Tapi, aku suruh bawa orangtuamu datang malah kamu tidak mau. Kalau suka ya dilamar dong. Kamu memangnya mau, pacaran terus sama Nala? Ingat umur. Kalian sudah tua," omel bu Laras panjang lebar.
Nala yang paham akan maksud ibunya, membulatkan matanya sempurna. "Mas! Kamu sudah mendapatkan restu ibu!" pekik Nala bahagia.
Reigha juga sama terkejutnya. "Tante tidak sedang bercanda kan? Tante serius kan?" tanya Reigha memastikan.
Bu Laras mendengkus pelan. "Iya! Puas kamu! Besok, kamu harus bawa Nilam dan Prabu kesini. Kalian harus segera dinikahkan," putus bu Laras pada akhirnya.
Nala tersenyum haru lalu berhambur ke pelukan ibunya. "Terima kasih ya, Bu. Akhirnya ibu luluh juga," ucap Nala haru.
Bu Laras mengangguk dan membalas pelukan putrinya. Akibat perdebatannya dengan Nanta kemarin, bu Laras tersadar bahwa Nala juga butuh pasangan dan mungkin saja, Reigha adalah orangnya.
Nala memang tipe manusia setia seperti dirinya. Wajar saja jika sikap Nala seperti itu karena gen Nala menurun darinya.
"Reigha? Sekali lagi kamu menyakiti anak saya, saya tidak akan segan-segan untuk mencincangmu," ancam Bu Laras yang membuat Reigha meringis nyeri.
"Aku berjanji tidak akan menyia-nyiakan Nala lagi, Tan. Terima kasih karena sudah kembali memberikan kepercayaan itu lagi. Besok, aku akan bawa mama dan papa kesini. Mereka pasti akan sangat bahagia mendengar kabar hari ini."
..............
Reigha pulang dengan perasaan yang sangat bahagia. Akhirnya, semua orang memberikan kepercayaan padanya untuk bisa kembali dengan Nala.
Hari ini adalah hari terbaik untuk Reigha. Dia sudah tidak sabar untuk menghubungi Mama dan papanya. Secepatnya, orangtua Reigha harus datang.
Saat sudah berada dalam apartemen, Reigha bergegas menghubungi mamanya.
"Hallo, Ma," sapa Reigha full senyum.
Seperti bisa menangkap sinyal bahagia, Bu Nilam yang berada di seberang sana bertanya. "Kenapa, Ga? Kamu terdengar sangat bahagia," tanya bu Nilam heran.
"Besok mama dan papa datang ke Bogor ya? Aku akan melamar Nala. Tante Laras sudah setuju dengan hubunganku dan Nala," beritahu Reigha yang membuat bu Nilam memekik girang di sebrang sana.
"Kamu tidak sedang bercanda kan? Jangan karena tidak bisa mendapatkan Nala, kamu berubah menjadi orang gila," tanya bu Nilam masih sangsi dengan pernyataan Reigha.
"Mama meragukan kemampuan anak sendiri? Datanglah, Ma. Sebelum Tante Laras berubah pikiran dan pilih menikahkan Nala pada orang lain," pinta Reigha lagi penuh permohonan.
"Baiklah. Kamu tenang saja. Mama akan datang menjemput calon mantu."
__ADS_1