
Bu Laras menghembuskan napasnya yang terasa sesak. Bu Laras yakin, Nala tidak akan menampar Reigha jika bukan tanpa alasan.
"Mommy!" panggil Zia dan Zio hampir bersamaan saat melihat Nala berlari memasuki rumah sambil menumpahkan air matanya. Zio merasa tidak terima ketika melihat ibunya menangis karena ayahnya.
"Daddy apakan Mommy? Kenapa Mommy menangis seperti itu?" tanya Zio tidak suka dengan pandangan menatap Reigha kesal.
Reigha terpaku di tempat. Zio yang baru berusia tiga tahun saja tahu jika dirinya sudah menyakiti sang Ibu.
'Apakah aku egois karena ingin mempertahankan Nala dan anak-anakku untuk tetap menjadi milikku?' batin Reigha bertanya.
Kini, Zia dan Zio sudah berlari untuk menyusul Nala yang mungkin berada di kamarnya. Kini tinggallah Reigha bersama bu Laras di teras depan rumah.
Bu Laras menatap tidak suka pada Reigha. "Mau apa lagi kamu? Pergi dari sini! Tidak dulu tidak sekarang, kerjaannya menyakiti Nala terus-menerus. Masih punya muka kamu? Dasar muka tembok!" usir bu Laras tanpa hormat.
Bu Laras menarik dan menghembuskan napasnya kasar. Kemudian, beliau berbalik untuk meninggalkan Reigha yang masih terpekur di tempatnya berdiri.
Dalam sekejap, sikap buruknya mampu membuat Zia dan Zio menjauhinya. Begitu juga dengan Nala, wanita itu pasti semakin membencinya.
Reigha mengusap wajahnya kasar. Merasa menyesal karena tindakan impulsifnya yang mencium Nala tiba-tiba dan begitu brutalnya.
Reigha menghembuskan napasnya kasar kemudian segera melangkahkan kakinya menuju mobilnya terparkir. Sesakit ini mencintai seseorang yang sudah tidak mengharapkan kehadirannya.
Dan Nala pernah ada di posisi dimana perasaan itu kini sedang Reigha rasakan. "Jadi seperti ini sakitnya? Pantas saja Nala memilih pergi dan sulit untuk memberiku kesempatan kedua," monolog Reigha tersenyum sambil menangis.
Ya, Reigha sudah menangis ketika tubuhnya baru saja masuk ke dalam mobil. Setelah menghapus air matanya, Reigha segera melajukan mobilnya menuju kantor. Mungkin, mengutarakan isi hatinya pada Nick akan mengurangi sedikit rasa sakit hatinya.
Walaupun Reigha tahu resiko mengejar Nala adalah sakit hati, itu lebih baik karena Reigha menganggapnya sebagai balasan atas apa yang pernah Reigha lakukan.
Bahkan, Tuhan kini seperti sedang mengutuknya untuk menderita seumur hidupnya karena rasa bersalah dan cinta yang bertepuk sebelah tangan. Reigha sadar, semua itu pantas untuk dirinya dapatkan.
Sedangkan di tempat lain, Nala sedang menangis sesenggukan dengan memeluk lututnya di lantai marmer kamarnya. Wajahnya dia telusupkan di antara tumpukan lengan.
__ADS_1
Nala tersentak ketika mendengar suara Zia dan Zio disertai ketukan pintu di kamarnya. Nala mengangkat kepala dan menghapus air matanya dengan kasar.
"Mommy! Mommy tidak apa-apa kan?" ucap Zia sambil mengetuk pintu kamar.
"Tenang Mommy! Zio sudah memarahi Daddy yang nakal. Aku yakin, Daddy langsung takut dan pulang." Kini giliran Zio yang bersuara untuk membujuk ibunya agar membuka pintu.
Tidak berapa lama, Nala mendengar suara ibunya yang menyuruh Zia dan Zio untuk ikut dengannya.
"Zia dan Zio ikut Oma yuk! Mommy mungkin sedang mandi. Kalian main dulu dengan Mbak di bawah ya? Nanti Oma akan coba bicara dengan Mommy agar tidak sedih lagi," ucap bu Laras menenangkan dua cucunya.
Setelah itu, Nala bisa mendengar langkah kaki menjauh dari depan kamarnya. Kemudian, suasana kembali sunyi. Nala menghela napasnya kasar kemudian segera beranjak dan menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya yang sembab.
Tidak berapa lama, Nala kembali dan mendudukkan diri di sisi ranjang. Entah mengapa disaat sedang seperti ini, Nala justru mengingat Nanta.
Adiknya-lah yang selalu bisa menenangkan dadanya yang sesak. Namun, kini adiknya harus mengurus kehidupan pribadinya dengan bekerja sebaik-baiknya agar kelak ketika dia menikah dan mempunyai seorang istri, dia akan menjadi pria yang bertanggung jawab.
Tidak seperti dirinya yang merasa sudah gagal dalam menjalani hidup. Namun hari ini, Nala akan merakitnya lagi sampai Nala benar-benar mampu berdiri dengan kakinya sendiri.
Nala tersentak ketika pintu kamarnya kembali diketuk. Suara ibunya terdengar menyusul. "Nduk, ini ibu, Nduk," ucap bu Laras lembut.
Nala tersenyum sendu lalu segera membukakan pintu untuk ibunya.
Ceklek.
Saat pintu terbuka, Nala langsung memeluk tubuh ibunya hingga Bu Laras hampir terhuyung karena Nala begitu erat memeluknya.
Air mata Nala tumpah ruah di pundak sang Ibunda. "Nala benci sama mas Reigha, Bu. Kenapa dia harus hadir lagi," racau Nala dengan suara sesenggukan.
Bu Laras tidak bersuara. Namun, tangannya bergerak mengelus kepala Nala sayang. "Kita masuk dulu ya," ajak bu Laras lembut sambil merenggangkan pelukan.
Pelukan akhirnya terlepas dan dua wanita itu berjalan masuk kemudian menutup pintu rapat-rapat.
__ADS_1
Setelah duduk di sisi ranjang, Nala kembali menangis sesenggukan. Dan untuk sesaat, bu Laras membiarkan anaknya menangis agar segala sesak dan sakit di hatinya bisa berkurang.
Setelah cukup lama menangis, akhirnya tangisan Nala mereda. Bu Laras memilih kembali bersuara.
"Nduk, cuci muka dulu ya? Itu ingusnya juga sambil di buang ya," pinta Bu Laras yang membuat Nala terkekeh namun wajahnya terlihat ditekuk. Kesal, lucu, dan sesih secara bersamaan.
"Ibu jangan begitu dong. Aku jadi ketawa kan," ucap Nala yang kini sudah terbahak-bahak karena ingusnya mengembung layaknya gelembung udara.
Bu Laras pada akhirnya tertawa terbahak-bahak melihat ingus Nala. "Jorok kamu! Cuci muka sekalian buang ingusmu!" pekik bu Laras sambil tertawa.
Nala segera berlari ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tidak berapa lama, Nala kembali dengan wajah yang lebih segar. Walaupun matanya masih terlihat sembab.
Bu Laras tersenyum lalu menepuk tempat kosong di sebelahnya untuk Nala duduki. "Sini, Nduk," ucap bu Laras lembut.
Nala menurut dan kembali menududukan diri di tempat semula.
"Nduk. Sudah saatnya kamu melepaskan seseorang yang selalu menyakitimu. Dia tidak pantas berada di posisi spesial di hatimu jika pekerjaannya hanya menyakiti," ucap bu Laras menasehati.
Nala mengangguk membenarkan. Sudah saatnya Nala melepaskan cinta yang tidak seharusnya ada. Karena masih ada seseorang yang lebih pantas untuk mendapatkan cintanya.
"Ibu percaya, kamu itu sudah dewasa dan pasti sudah bisa membedakan mana yang harus di pertahankan dan mana yang harus ditinggalkan. Lepaskan cinta yang hanya menyakiti hatimu," ucap bu Laras panjang lebar yang seketika menjadi jawaban atas keraguan yang Nala rasakan.
Bayangan tentang bagaimana kesabaran Dandy menunggu cintanya berbalas membuat Nala tersadar. Dandy adalah cinta terbaiknya. Tidak sekalipun Dandy menyakiti perasaanya. Pria itu juga tidak pernah marah atau memaksa Nala untuk memberikan jawaban dengan segera.
Nala tersenyum penuh arti menatap sang Ibunda. "Terima kasih atas sarannya, Bu. Nala sekarang sadar jika dicintai itu lebih baik daripada mencintai," ucap Nala kemudian segera memeluk ibunya erat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...jangan lupa like, komen, vote, dan kasih hadiah semampu kalian ya😍...
...mampir juga kesini yuk 👇...
__ADS_1