Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)

Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)
Bab 79. Berjanji


__ADS_3

Hari ke-seratus Dandy meninggal akhirnya tiba. Bu Dian menggelar acara doa untuk anaknya. Nala hanya datang sendiri ke rumah bu Dian. Sedangkan kembar, keduanya dirawat bu Laras.


Sengaja Nala tidak mengajak Zia dan Zio karena acara ini bukan untuk dihadiri oleh anak-anak. Jika keduanya ikut, pasti akan banyak pertanyaan yang terlontar.


Acara akan dilaksanakan nanti malam setelah sholat Maghrib. Jadi, tepat pukul tiga sore, Nala lebih dulu datang ke pemakaman elit dimana Dandy disemayamkan.


Hatinya bergetar ketika kakinya mulai menapaki tanah yang ditumbuhi oleh rumput Jepang. Banyak nisan yang Nala lewati dan entah nisan yang keberapa, akhirnya Nala menemukan nama Dandy lengkap dengan foto pria tersebut.


Nala berjongkok di depan kuburan Dandy. Nala pikir, dirinya sudah mulai ikhlas akan kepergian Dandy. Namun, saat dihadapkan dengan makamnya, Nala tidak sanggup lagi menahan air mata.


Kenangan indah yang dulu pernah Nala lalui bersama Dandy seakan berputar di kepala. Banyak sekali sampai-sampai air mata Nala tidak berhenti berjatuhan.


Sesak yang Nala kira telah sirna, nyatanya kini kembali mencuat ke permukaan. Perasaan kehilangan sosok seperti Dandy ternyata hanya sekedar padam. Ketika hal itu coba dinyalakan, sakitnya masih menganga lebar.


Tangis Nala semakin sesenggukan dan pada saat seperti itu, tiba-tiba ada yang mengulurkan tisu untuknya. Nala terkejut dan menoleh kaget.


Ketika tahu siapa yang mengulurkan tisu padanya, Nala justru semakin menangis tak terkendali. Entah karena apa, yang pasti tangis itu semakin pecah.


"Menangislah. Jangan menahannya karena hal itu akan membuat hatimu membeku," pinta pria yang tidak lain adalah Reigha.


"A-aku masih tidak per-percaya huhuhu," ucap Nala tidak sanggup meneruskan kalimatnya.


Reigha mengangguk. Dia sama terpukulnya atas meninggalnya sang Sahabat. Hatinya kembali didera rasa sesak ketika melihat tempat peristirahatan Dandy dan ada Nala di sampingnya yang sedang menangis.


"Kenapa? Kenapa dia harus pergi disaat hari pernikahan. Bahkan, saat dia sedang mengucapkan kalimat qobul?" ucap Nala mencurahkan isi hatinya.


Reigha menelan saliva untuk membasahi tenggorokannya yang tercekat. Dia ikut berjongkok di samping Nala dan tangannya terulur untuk mengelus punggung Nala. Namun, tangannya mengambang di udara saat sadar Nala tidak akan suka dengan sentuhannya.


Reigha menarik tangannya kembali dan menyimpannya di depan tubuh.


"Percaya tidak percaya, itu rencana Tuhan. Terkadang, manusia tidak suka dengan rencana Tuhan-nya. Namun, Tuhan tahu bahwa itu yang terbaik untuk hamba-Nya. Tuhan tidak pernah memberikan ujian jika tanpa alasan. Pasti ada pelajaran yang bisa diambil," ucap Reigha menyejukkan hati.

__ADS_1


Nala menatap Reigha dengan sisa air mata. "Apa aku sedang diuji?" tanya Nala penasaran.


Reigha tersenyum dan tentu saja mengangguk. "Tentu. Saat ini kamu sedang diuji," jawab Reigha yakin.


"Tapi, kenapa harus aku?" tanya Nala lagi.


Reigha menoleh untuk bertemu tatap dengan Nala. "Karena kamu mampu," jawabnya yang lagi-lagi mampu membuat isi hati Nala sejuk.


Nala mengalihkan pandangan pada pigura yang bersandar di papan nama yang merupakan foto Dandy sedang tersenyum. Senyum yang mampu membuat Nala nyaman pada sosok Dandy.


Pada diri Dandy, Nala menemukan apa itu teman, sahabat, kekasih, bahkan sosok ayah. Dandy sangat sempurna untuk seorang Nala yang memiliki banyak kekurangan. Mungkin karena itulah, Tuhan ingin menjaga kesempurnaan hamba-Nya dengan membuatnya pulang di usia muda.


Nala memejamkan mata dan melafalkan doa-doa terbaik untuk Dandy yang saat ini sudah berada di surga. Setelah itu, Nala menaburkan kelopak bunga mawar merah di atas nisan.


Hal itu dilakukan juga oleh Reigha yang sejak tadi memperhatikan bagaimana cara wanita itu berdoa.


"Nala?" panggil Reigha lembut.


"Hm?" jawab Nala hanya bergumam.


"Sebelum benar-benar pergi, Dandy pernah berpesan denganku," ucap Reigha yang membuat Nala menoleh kaget.


"Oh ya? Pesan apa? Cepat katakan!" pinta Nala tidak sabaran.


Reigha mengalihkan pandangan ke depan. Rambutnya tampak bergerak karena diterpa angin dan Nala memperhatikan hal tersebut.


"Dandy menyuruhku untuk menjagamu dan anak-anak setelah dia benar-benar tiada di dunia. Saat itu aku tidak tahu apa maksud dari perkataan Dandy. Sekarang, aku paham dan akan mulai berjanji," ungkap Reigha menjeda kalimatnya sejenak.


"Kapan mas Dandy mengatakan hal tersebut?" tanya Nala heran.


"Dulu. Saat dia baru saja selesai periksa dokter," jawab Reigha lembut.

__ADS_1


"Disini, di depan pemakaman Dandy, aku akan berjanji untuk menjaga kamu dan anak-anak. Ini bukan semata karena permintaan Dandy, karena sebelum diminta pun aku akan melakukannya," janji Reigha mematri di hati.


Nala tidak merespon dan kembali menatap pigura yang berisi foto Dandy. Reigha hanya memperhatikan gerakan Nala yang kini sedang mengelus kaca pigura.


"Mas Dandy sangat berjasa dalam hidupku. Dia menemaniku di saat-saat terpurukku. Disaat aku membutuhkan teman bercerita, dia selalu ada," ungkap Nala yang membuat Reigha merasa tertohok.


"Bahkan sebelum dia benar-benar pergi, dia masih berusaha untuk membuat hidupku dan anak-anak terjamin. Dia membantuku menemukan pekerjaan. Dia membantuku membangun usaha. Dia sangat berjasa. Yang sayangnya, aku tidak bisa membalas semuanya," sesal Nala kembali menitikkan air mata.


"Dia bukan manusia. Dia malaikat yang telah menjelma menjadi manusia," ujar Nala yang semakin sesenggukan.


Melihat Nala yang kembali menangis, Reigha memberanikan diri untuk menyentuh punggung Nala dan mengelusnya naik turun.


Percaya tidak percaya, tangis Nala sedikit demi sedikit mereda. Keduanya memutuskan untuk beranjak dari sana bersamaan dengan matahari yang kini tampak kembali ke singgahsana.


Di sore hari itu, Nala kembali mendapatkan pelajaran berharga. Entah dari Reigha maupun dari Dandy. Seperti biasa, Nala akan berbalik sebelum benar-benar mengangkat kaki di tanah kuburan tersebut.


Nala tersenyum kala dalam ilusinya, ada Dandy yang tersenyum bahagia di samping nisannya.


Kemudian, Nala kembali berbalik untuk menemukan sosok Reigha yang akan masuk ke mobilnya.


"Mas Reigha!" pekik Nala yang membuat Reigha urung naik ke jok kemudi.


Kepalanya melongok melewati bingkai pintu mobil. Menatap penuh tanya ke arah Nala.


"Terima kasih karena mau menjadi pendengar yang baik," ucap Nala tulus disertai senyuman tulus juga.


Reigha mengangguk dan balas tersenyum. Keduanya memutuskan untuk ke rumah bu Dian dengan mengendarai mobil masing-masing.


Hari itu, Nala seperti baru saja melepas rasa yang mengganjal di dada. Rasa yang tidak pernah Nala ceritakan pada siapapun termasuk pada ibunya. Setelah kepergian Dandy, Nala belum sedikitpun bercerita tentang duka di hatinya.


Kini, semua seakan sudah keluar dan membuat perasaan Nala menjadi lebih baik.

__ADS_1


__ADS_2