Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)

Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)
Bab 25. Memohon kebahagiaan


__ADS_3

Reigha mengerjap saat merasakan siane matahari masuk ke kamarnya. Rasanya, Reigha baru saja tertidur namun, hari begitu cepat beranjak. Wajar, Reigha tidak bisa tertidur semalaman. Baru setelah pukul empat, Reigha bisa terlelap itupun hanya sebentar.


Saat matanya terbuka, rasanya ada yang hampa. Tidak ada aktifitas seperti kran air berbunyi karena Nala sedang berada di dalam kamar mandi. Setelah itu, Nala pasti akan membangunkan Reigha dengan mengecup seluruh sisi wajah wajahnya.


Reigha menghembuskan napasnya kasar kemudian menegakkan tubuh untuk duduk. Biasanya di pagi hari seperti ini, aroma bunga lavender akan terhidu saat Nala sedang duduk di depan meja rias dan mengaplikasikan krim ke wajahnya.


Suatu pemandangan yang sudah tidak bisa Reigha lihat lagi. Apakah waktu tujuh hari benar-benar sudah membolak-balikkan hati Reigha? Secepat itukah?


Saat Reigha akan bangkit untuk mandi, ponselnya berdering panjang menandakan ada telepon masuk. Saat melihat siapa si penelepon, Reigha menghela napasnya kasar kemudian menekan tombol hijau yang bergerak-gerak di layar.


"Halo, Ga? Kamu belum transfer aku ya? Hari ini aku akan pergi bersama teman-temanku," ucap Sandra di seberang sana yang masih sepagi ini sudah merubah moodnya.


"Aku transfer setelah ini," jawab Reigha kemudian mendengkus pelan dan memutus panggilan secara sepihak.


Dia memilih bangkit dari ranjang menuju kamar mandi. Tidak berapa lama, Reigha kembali dan kembali menatap ke arah ranjang dimana biasanya Nala sudah duduk disana dengan pakaian yang siap untuk dirinya kenakan.


Reigha kembali menghela napas kasar. Mengapa dirinya selalu mengingat Nala? Harusnya, setelah tujuh hari Reigha bisa bahagia karena terlepas dari pernikahan yang tidak diinginkan.


"Mulai hari ini, aku akan menyuruh Sandra untuk datang pagi dan menyiapkan semuanya," monolog Reigha kemudian berjalan menuju lemari.


Saat sudah memakai pakaian lengkapnya, Reigha merasa baju yang dikenakan tidak cocok sekali. Sangat berbeda ketika ada Nala yang memilihkan baju.


Reigha tergugu sejenak. Kehadiran Nala benar-benar sudah merubah semuanya. Tetapi Reigha tidak putus asa, dia percaya bahwa Sandra bisa melakukan hal yang lebih baik dari Nala karena wanita itu mencintainya.


Reigha tersenyum tipis kemudian kembali mengganti pakaian agar warnanya bisa cocok. Hingga entah baju yang keberapa, rasanya Reigha belum menemukan baju yang cocok.


Merasa lelah dan frustasi, akhirnya dia memilih untuk mengenakan pakaian seadanya. Kemudian, Reigha segera turun menuju meja makan untuk sarapan. Saat sudah duduk disana, bi Ati baru saja menyelesaikan menata sarapan untuknya.


"Terima kasih, Bi," ucap Reigha pada bi Ati.


"Sama-sama, Pak," jawab bi Ati kemudian berlalu dari hadapan Reigha.


Saat Reigha mencoba menyantap sarapannya, mengapa rasanya berbeda dari biasanya? Mengapa makanan kali ini rasanya tidak seenak seperti biasa?


"Bi? Kenapa masakan Bibi rasanya berbeda ya?" tanya Reigha heran.

__ADS_1


Bi Ati tersenyum tipis. "Jelas beda, Pak. Selama ini yang masak 'kan Bu Nala. Saya hanya membantu sedikit," jawab bi Ati kemudian fokus lagi pada pekerjaannya.


Deg!


Mengapa Nala meninggalkan banyak sekali kebiasaan baik yang begitu sulit untuk dipisahkan darinya? Lalu, bagaimana kedepannya hidup Reigha tanpa Nala? Sungguh, Reigha berharap Sandra bisa jauh lebih baik dari Nala.


"Bi? Makan saja semua makanan ini. Bagi juga sama pak Rudi. Aku makan di kantor saja," ucap Reigha kemudian beranjak dari kursinya.


"Aku berangkat dulu ya, Bi," pamit Reigha yang segera di angguki patuh oleh bi Ati.


Sesampainya di luar, Reigha mengeluarkan ponsel untuk menelpon Nick.


"Halo, Nick? Tolong carikan sarapan yang enak untukku. Saat aku datang, aku harap sarapannya sudah siap," titah Reigha pada Nick diseberang sana.


"Baik, Bos."


Setelah telepon terputus, kini fokus Reigha tertuju pada pak Rudi. Setelah Nala pergi, apakah pak Rudi tetap akan bekerja? Padahal, pak Rudi ditugaskan untuk menjadi sopirnya Nala. Baiklah, Reigha akan memikirkannya nanti.


"Pak, antar aku ke kantor ya?" pinta Reigha kemudian segera masuk di jok belakang.


Nala berulangkali menarik dan menghembuskan napasnya sebelum ponselnya benar-benar terhubung dengan Bu Nilam, sang Ibu Mertua.


Tidak berapa lama, suara Bu Nilam terdengar. "Halo Nala? Ada apa sayang?" ucap bu Nilam terdengar lembut dan begitu menyayangi Nala.


Nala menelan saliva, seakan ingin mengurungkan niatnya untuk mengatakan bahwa Reigha dan dirinya memutuskan untuk berpisah. Nala tidak siap melihat raut wajah kecewa dari ibu mertuanya.


"Halo, Ma? Mama apa kabar?" tanya Nala terlebih dahulu berbasa-basi.


Terdengar kekehan diseberang sana yang membuat ketegangan Nala sedikit berkurang. "Kamu seperti tidak bertemu dengan Mama dalam waktu yang sangat lama," jawab Bu Nilam diseberang sana.


Nala juga ikut terkekeh. "Ma? Boleh aku mengatakan sesuatu hal yang penting?" tanya Nala meminta izin terlebih dahulu.


"Ada apa, La? Jangan sungkan untuk bercerita pada Mama."


Nala terdiam sejenak untuk mengingat kalimat yang sudah dirinya susun agar Bu Nilam tidak menyalahkan Reigha dalam hal ini. Ya, walau Reigha sudah menyakitinya berulangkali, hal itu tidak mengurangi rasa cinta Nala pada Reigha dan selalu ingin mejaganya.

__ADS_1


"Ma? Sepertinya, pernikahanku dan mas Reigha sudah tidak bisa dipertahankan lagi," ucap Nala mengambil jeda sebentar.


Tidak ada sahutan diseberang sana setelah Nala mengucapkan kalimat tersebut.


"Ma? Mama masih disana kan?" tanya Nala memastikan.


"Iya, Mama disini, La," jawab Bu Nilam terdengar kecewa.


Nala menghembuskan napasnya pelan. Hal ini pasti akan terjadi entah cepat atau lambat. Orangtua Reigha pasti akan mengetahuinya.


"Mama ... Tidak apa-apa kan? Aku dan mas Reigha sudah memutuskan untuk berpisah. Semua itu kami lakukan karena di antara kami tidak mendapatkan kebahagiaan," ucap Nala menjelaskan sekuat tenaga.


Helaan napas kasar bisa Nala dengar dari seberang sana. "Apa Reigha menyakitimu, Sayang? Katakan, kamu tidak perlu takut untuk jujur," cecar Bu Nilam lembut.


Nala menggeleng walau hal itu tidak bisa bu Nilam lihat. "Tidak, Ma. Aku yang justru menyakiti mas Reigha karena dulu, aku memisahkan mas Reigha dari kekasihnya," ucap Nala masih membela Reigha.


Hening, bu Nilam seakan begitu kecewa dengan keputusan anak-anaknya.


"Baiklah. Apapun keputusan kalian, asalkan itu yang terbaik, Mama tidak bisa berbuat apapun," ucap bu Nilam pasrah.


Nala mengulas senyum sendu. "Boleh aku meminta sesuatu pada Mama?" tanya Nala lembut.


"Katakan. Mama akan berusaha mengabulkan jika Mama memang bisa," jawab bu Nilam.


"Ma? Kalau seandainya mas Reigha datang lagi bersama Sandra, tolong terima keputusan mereka ya, Ma? Hanya itu yang bisa membuat mas Reigha bahagia. Dan tidak ada yang paling membahagiakan bagiku, selain melihat mas Reigha bahagia," ucap Nala tulus.


Bu Nilam terisak diseberang sana. "Bagaimana bisa? Itu tidak akan pernah terjadi," ucap bu Nilam tidak setuju.


"Ma ... Tolong ... Mas Reigha berhak bahagia," ucap Nala yang kembali merasakan sesak. Memohon atas kebahagiaan Reigha sedang dirinya saja sedang terpontang-panting mengumpulkan kepingan hatinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...terima kasih atas dukungan kalian untuk Nala. dukung terus ya, jangan kasih kendor 😍🙏...


...mampir kesini juga yuk👇...

__ADS_1



__ADS_2