
Disinilah Nala berada sekarang. Di sebuah restoran all you can it. Zia dan Zio tiba-tiba saja merengek meminta makan setelah Reigha baru saja tiba di ruangan.
Mau tidak mau,. Nala harus ikut bersama anak-anak yang tentunya ada Reigha di dalamnya. Tidak tanggung-tanggung, Reigha memesan ruangan VIP untuk tempat mereka makan.
Zia dan Zio tampak bersemangat mengambil bahan-bahan makanan dan berniat untuk memasaknya sendiri. Namun, Reigha mencegahnya lebih dulu dengan alasan tidak ingin Zia dan Zio dalam keadaan bahaya. Bagaimana tidak bahaya? Anak yang usianya belum genap empat tahun masa harus memanggang daging dan memasak bahan kuahnya? Reigha tentu tidak akan lengah barang sedetikpun.
Nala yang sejak tadi melihat perhatian kecil Reigha pada anak-anak, merasa kagum. Ternyata, Reigha berhasil menjadi sosok ayah yang sigap melindungi anak-anaknya.
Saat pandangan Nala masih tertuju pada Reigha, Nala tertangkap basah dan semakin membuat Reigha melambung tinggi. "Kenapa? Jangan katakan jika saat ini kamu sedang terpesona?" tanya Reigha percaya diri.
Nala sontak mengalihkan pandangan dan fokus pada daging panggangnya.
"Ayo Zia dan Zio, dagingnya sudah matang. Makanlah dulu," pinta Reigha lembut. Zia dan Zio mengangguk patuh dan duduk tenang di kursinya.
Reigha yang semula duduk kursi yang berseberangan dengan Nala, kini berpindah untuk duduk di sebelah wanita cantik tersebut.
Nala yang melihat itu melotot tajam. Namun, suara Zia dan Zio membuat Nala tidak bisa berkutik.
"Mommy! Kenapa harus marah saat Daddy duduk di samping Mommy?" tanya Zia tidak terima.
"Itu tandanya, Daddy sayang dengan Mommy," sahut Zio tak mau kalah. Begitulah mereka. Jika Zia membuka mulut, Zio juga akan ikut bersuara.
"Baiklah," jawab Nala sambil menghembuskan napas pasrah.
Reigha tersenyum senang kemudian kembali memanggang daging. Setelah matang, bukannya menaruh ke atas lring miliknya, Reigha justru menaruh daging tersebut di piring Nala.
Melihat wajah Nala yang ingin protes, Reigha bersuara lagi. "Makanlah, La. Kamu butuh nutrisi yang banyak karena seharian harus menjaga anak-anak. Biar aku yang bertugas menjadi tukang panggang," ucap Reigha tersenyum tulus. Bukan senyum tengil yang biasa ditunjukkan.
Karena Nala masih enggan untuk mengalihkan pandangan, Reigha mendekatkan wajah pada wajah Nala dan hal itu berhasil menyadarkan Nala dari lamunan.
"Kamu kenapa sih, Mas? Agresif sekali," ketus Nala kesal.
Zia dan Zio sontak tertawa. "Kenapa Mommy marah. Daddy kan sayang Mommy. Mungkin saja Daddy ingin mencium Mommy. Iya kan Dad?" ucap Zia yang benar-benar membuat Reigha merasa sangat bangga memiliki anak secerdas Zia dan Zio.
__ADS_1
"Cium Mommy, Dad," pinta Zio penuh harap.
"Iya, Dad. Tunjukkan kalau Daddy sayang sama Mommy," sahut Zia mengamini.
Nala mendelik kesal pada tingkah anak-anaknya yang sudah kelewat batas. "Mana bisa begitu? Jangan aneh-aneh ya kalian. Atau tidak, Mommy pulang saja," ancam Nala yang membuat semua akhirnya terdiam.
Sepulang dari restoran, Zia dan Zio merengek meminta jalan-jalan. Jelas Nala habis kesabaran karena anak-anaknya seperti sengaja membuat dirinya dan Reigha selalu bersama.
"Ya sudah. Kalian pergilah bersama Daddy kalian. Mommy harus kerja," ucap Nala memutuskan.
Mereka berempat sudah berada di mobil untuk pulang. Zia dan Zio langsung menggerucutkan bibirnya kesal. Nala yang melihat itu, menghela napas panjang dan kembali bersuara.
"Jalan-jalan itu butuh uang, dan untuk bisa memiliki uang, kita harus bekerja. Makanya Mommy kerja keras agar kalian bisa jalan-jalan dan jajan," omel Nala panjang lebar.
Reigha yang duduk di samping kemudi, melirik ke samping dimana Nala duduk. "Pakai uang aku kan bisa, Mommy Sayang. Jangan marah-marah terus lah," ujar Reigha lembut.
Nala memutar bola matanya jengah. Reigha selalu mencuri kesempatan dalam kesempitan untuk mendekati dirinya.
Zia dan Zio yang berada di jok belakang, mengulum senyum bahagia. Berharap Mommy dan Daddy-nya benar-benar bisa bersama lagi.
Yang dibutuhkan oleh anak-anak adalah melihat ayah dan ibunya saling menyayangi dan mengasihi. Mereka hanya ingin keluarga yang lengkap seperti keluarga pada umumnya. Namun terkadang, para orang dewasa hanya memikirkan dirinya sendiri.
Boleh saja melakukan hal tersebut. Hanya saja, jangan sampai cinta pada diri sendiri membuat seseorang menjadi egois dan berujung menyakiti orang-orang yang tidak bersalah.
.............
Karena terjebak macet di jam rawan, Nala urung ke kantor lagi. Dia meminta Reigha untuk mengantar ke rumah saja. Beruntung, tadi saat akan berangkat makan siang, Nala meminta memakai mobilnya saja. Jadi, Nala tidak perlu bolak-balik untuk mengambil mobil miliknya.
Setelah mobil berhenti, Zia dan Zio berhamburan keluar untuk menemui sang Oma yang kini sudah berdiri di depan teras rumah.
Nala bisa melihat aura kurang bersahabat saat matanya bertemu tatap dengan sang Ibu. Mungkin karena keberadaan Reigha yang menjadi penyebabnya.
"Oma! kami habis pergi makan siang," ucap Zio mulai bercerita tentang perjalanannya tadi.
__ADS_1
Bu Laras berjongkok di hadapan Zia dan Zio lalu mencium pipi keduanya bergantian. "Iyakah? Kalian suka?" tanya bu Laras lembut.
Zia dan Zio langsung mengangguk antusias. "Kami suka dan sangat bahagia. Akhirnya kami bisa pergi makan bersama Mommy dan Daddy," jawab Zia dengan senyum polosnya.
Bu Laras tersenyum. "Masuklah. Uncle Nanta pulang hari ini loh," beritahu bu Laras yang membuat dua bocah kembar itu berlarian memasuki rumah.
Kini, tatapan bu Laras tertuju pada Reigha dan Nala yang masih berdiri canggung dengan jarak tiga meter darinya.
"Nala? kamu masuk!" titah bu Laras lembut namun tidak menghilangkan nada tegasnya.
Nala menelan saliva lalu menuruti permintaan sang Ibu. Sebelum Nala benar-benar masuk, dia menoleh sekali lagi untuk memastikan bahwa Reigha tidak apa-apa. Setelah Reigha mengangguk, Nala baru bisa masuk dengan tenang.
Walau Nala cuek dengan Reigha, bukan berarti sisi manusia Nala sudah mati. Nala takut ibunya akan berucap hingga menyakiti hati Reigha. Sebenarnya, Nala tidak mau peduli. Tetapi entah mengapa, hatinya merasakan cemas yang tidak beralasan.
Walau Reigha pernah menyakiti dirinya, bukan berarti Nala harus balas dendam bukan? Biarlah semua rasa sakit yang Nala alami, menjadi tanggung jawab Tuhannya. Nala tidak ingin hidup dalam rasa dendam yang justru akan membakar diri Nala sendiri.
Kini, tinggallah Reigha dan bu Laras di teras depan. Suasana mendadak mencekam walau cuaca sore hari ini begitu cerah.
"Apa kabar, Tante?" sapa Reigha tele ih dahulu untuk menghilangkan ketegangan.
"Baik. Namun mendadak buruk saat aku melihat wajahmu," jawab bu Laras ketus. Reigha menunduk lalu tersenyum masam. Mantan ibu mertuanya memang suka sekali berkata pedas.
"Maaf, Tan. Tetapi untuk ke depannya, aku pasti akan selalu muncul untuk setor muka. Apapun rintangannya, izinkan aku untuk mendapatkan kesempatan kedua," ucap Reigha dengan gagah berani.
Bu Laras terkekeh mengejek. "Sekarang sudah mulai berani ya kamu," ejek bu Laras menyangsikan pernyataan Reigha.
"Kalau aku takut, mungkin saat ini aku tidak berada disini. Tetapi, cintaku pada Nala membuatku berani. Nala memang harus dan pantas untuk diperjuangkan karena dia adalah wanita yang sangat hebat. Aku tahu, pasti tidak akan mudah untuk bisa mendapatkannya lagi. Selain karena Nala yang enggan membuka hati, aku juga harus mendapatkan restu dari Tante," jelas Reigha panjang lebar dengan mengulas senyum tipisnya.
Bu Laras tertawa kencang. Saat mulutnya ingin kembali terbuka, suara Nanta sudah lebih dulu menyela.
"Sudahlah, Bu. Jangan bersikap seperti itu terus. Mas Reigha? Pulanglah, Mas. Jangan dengarkan omelan ibu," ucap Nanta menenangkan ibunya.
Bu Laras mendelik kesal. "Sebenarnya kamu anak siapa? Kenapa malah membela dia?" kesal Bu Laras kemudian masuk ke rumah dengan kaki yang menghentak-hentak.
__ADS_1
Nanta geleng-geleng kepala melihat tingkah sang ibu. "Maafkan ibuku ya, Mas. Lebih baik Mas Reigha segera pulang sebelum ibu murka," pinta Nanta sambil terkekeh.
Reigha ikut terkekeh dan mengangguk mengiyakan. "Baiklah. Terima kasih karena hari ini telah menyelamatkanku," ucap Reigha tulus kemudian segera keluar dari pekarangan rumah itu.