
"Para saksi, SAH?" tanya pak penghulu yang suaranya menggema di masjid terdekat tempat Nala dan Reigha melangsungkan pernikahan.
"SAH!" jawab semua serentak diiringi tepuk tangan meriah. Setelah pak penghulu membacakan doa, Nala mengambil tangan Reigha untuk dikecup punggung tangannya.
Nala meneteskan air mata bahagia. Tidak menyangka bahwa takdir kembali membawanya pada Reigha.
Reigha yang melihat itu, matanya ikut berkaca-kaca. Dia sangat bahagia karena bisa kembali memiliki Nala. Reigha mencium kening Nala lembut dan dalam, mengabaikan sorak-sorai beberapa tamu undangan yang menyaksikan akad nikah Nala dan Reigha.
Keduanya tersadar bahwa mereka sedang berada di dalam lingkungan yang ramai. Nala menatap satu-persatu orang-orang tersayangnya mulai dari ibu, Nanta, Zia, Zio, Rika, Oma, dan kedua orangtua Reigha.
Namun, yang begitu mencuri perhatian Nala adalah sosok Nanta yang seperti sedang menangis di belakang para tamu undangan. Di sebelahnya ada Anjani yang membawa satu bungkus tisu besar. Nala terkekeh disela air mata yang akan menetes.
"Kenapa, La?" tanya Reigha penasaran kemana arah pandang Nala.
"Nanta, Mas. Dia menangis dan itu adalah pemandangan yang langka," gumam Nala yang membuat Reigha mengalihkan pandangan. Di ujung sana Reigha bisa melihat Anjani yang begitu perhatian pada Nanta karena setia menemani saat Nanta menangis.
"Jangan-jangan mereka jodoh," tebak Reigha yang membuat Nala geleng-geleng kepala.
"Itu biar Tuhan yang atur, Mas," jawab Nala sambil tersenyum bahagia.
__ADS_1
...............
Malam hari pukul 19:10 Wib. Di rumah Bu Larasati.
Walau acara pernikahan diadakan secara sederhana, bu Laras tetap membuat acara makan-makan untuk keluarga dan kerabat terdekat. Semua tampak asik menikmati hidangan yang disajikan oleh koki ternama. Tentunya bu Laras dan bu Nilam yang menyewanya.
"Akhirnya, Ras. Kita bisa kembali menjadi besan. Akhirnya Nala menjadi menantuku lagi. Terima kasih karena kamu rela menurunkan ego demi anak-anak," ucap bu Nilam sambil matanya menatap sanak-saudara yang sedang menikmati hidangan.
Bu Laras menghela napas pelan. "Aku tidak mungkin egois terus-menerus. Bagaimanapun, Zia dan Zio membutuhkan seorang ayah. Apalagi, sebentar lagi mereka akan masuk Taman Kanak-kanak," jawab bu Laras.
Obroalan keduanya harus berhenti ketika mendengar Zia dan Zio memanggil nama Keduanya. "Oma Laras! Oma Nilam!" pekik Zia dan Zio hampir bersamaan.
Keduanya pun berjalan mendekat pada dua bocah kembar yang juga ikut menikmati hidangan. "Ada apa, Sayang?" tanya bu Laras lembut dan ikut duduk bersila di karpet bulu tempat Zia dan Zio duduk.
Bu Laras dan bu Nilam sontak saling lempar pandang. Mereka juga kurang tahu karena belum lama ini mereka melihat Nala masih berbaur dengan semua.
"Nala dan Reigha ke kamar, Mbak. Biasalah, mau bernostalgia," celetuk suara dari arah belakang. Saat bu Laras dan bu Nilam menoleh, Rika sudah berdiri di belakangnya.
"Dasar ya si Reigha. Apa dia tidak bisa menahan sampai nanti malam? Heran aku," kesal bu Nilam tidak habis pikir. Kepalanya sudah menggeleng-geleng tidak percaya.
__ADS_1
"Jangan menciptakan huru-hara deh, Tan. Aku ke kamar cuma ganti baju," celetuk suara dari arah tangga yang tidak lain adalah milik Nala.
Sontak semua yang mendengar pembicaraan tersebut, tertawa terbahak-bahak.
"Kenapa pengantin selalu tertuduh melakukan yang iya-iya sih," sahut Reigha yang kini sudah berjalan lebih dulu dan mengambil posisi duduk di antara Zia dan Zio.
"Ya karena memang seperti itu kan? Mama yakin, di kepala kamu pasti sudah terpikir banyak gaya. Iya kan?" tanya bu Nilam penuh selidik.
Reigha memutar bola matanya malas. "Nala sedang datang bulan, Ma," jawab Reigha yang terselip nada kesal di dalamnya.
Lagi-lagi kejujuran Reigha membuat semua tertawa terbahak-bahak. Termasuk orang-orang yang saat ini sedang menikmati makanan di ruang tengah.
"Gagal belah duren nih," ledek suara yang sangat Reigha kenali. Siapa lagi jika bukan milik ayahnya, Pak Prabu.
"Ooh. Jadi Mommy dan Daddy akan makan duren dan tidak mengajak kamu?" tanya Zia dengan kepolosan yang hakiki.
Semua orang dewasa sontak terdiam dan menutup mulutnya rapat-rapat. "Tidak harus bersama Mommy dan Daddy kalian. Nanti Opa akan ajak kalian makan durian yang dagingnya banyak," celetuk pak Prabu pada akhirnya harus mempertanggungjawabkan ucapannya.
Zia dan Zio bersorak gembira mendengar penyataan sang Opa. "Hore! Zia sudah tidak sabar untuk makan durian!" pekik Zia girang.
__ADS_1
Reigha mengacak rambut Zia dan Zio gemas menggunakan dua tangannya. Kemudian, wajahnya mendekat untuk mencium pipi keduanya secara bergantian. Reigha sangat bahagia akhirnya bisa kembali bersama orang-orang yang dirinya cintai.
Tangan Reigha memeluk tubuh mungil Zia dan Zio dan mendekapnya lembut. Pandangan matanya tertuju pada Nala yang berdiri di depannya dalam satu garis lurus. Reigha tersenyum bahagia. Hidupnya terasa lengkap sudah.