
Di ballroom hotel.
Anjani duduk dengan tenang di sebuah kursi yang disediakan untuk tamu undangan. Nanta sedang mengambilkan makanan untuknya. Hingga ada dua orang laki-laki yang menghampiri Anjani dan mengajaknya berkenalan.
"Hai, pacar Nanta. Perkenalkan, aku Doni, teman SMA Nanta," ucap salah satu laki-laki yang mengenakan kemeja berwarna navy.
Anjani tersenyum kaku lalu mengangguk sopan dan. "Hai."
"Kalau aku Yudi, teman SMA Nanta juga," ucap laki-laki satunya lagi yang malam ini tampil dengan rambut jambulnya.
Anjani hanya tersenyum canggung. Di berharap Nanta segera kembali untuk menyelamatkannya dari laki-laki di hadapannya. Entah mengapa, Anjani merasa kurang nyaman.
Hingga suara Nanta pada akhirnya terdengar dan hal itu membuat Anjani bisa bernapas dengan lega.
"Woi! Kenapa kalian disini? Apa kalian tidak punya pekerjaan?" tanya Nanta sinis.
Doni dan Yudi tergelak bersamaan. "Santai,, Bro. Tidak perlu tegang. Ngomong-ngomong, ini pacar barumu, Nan?" tanya Doni sambil merangkul bahu Nanta.
"Lepas. Kenapa sih kalian? Ganggu saja. Sana pergi!" titah Nanta yang diabaikan begitu saja oleh dua laki-laki di hadapannya.
"Eh. Ngomong-ngomong, dia lebih cantik dari Rose. Nemu dimana? Bolehlah minta satu yang seperti dia," ucap Yudi sambil membuat gerakan menyugar rambut jambulnya.
Anjani hanya diam memperhatikan interaksi Nanta dan teman-teman.
"Tidak ada. Di milikku. Pergi kalian!" kesal Nanta sambil mendorong bahu kedua temannya untuk menjauh.
"Bye miliknya Nanta. Kita akan bertemu di kehidupan selanjutnya," ucap Yudi dramatis.
Anjani masih terkesiap dengan pengakuan Nanta barusan. 'Dia milikku'. Anjani tidak ingin terlalu percaya diri jika Nanta juga memiliki perasaan yang sama.
Tetapi, bolehkah Anjani merasa senang saat ini? Entah mengapa ada rasa bahagia saat mendengar Nanta mengklaim dirinya sebagai milik laki-laki tampan itu.
Klik.
"Jangan melamun sambil senyum-senyum sendiri. Sepertinya kamu sangat bahagia digoda teman-temanku," ketus Nanta sambil mengulurkan sepiring kecil berisi pudding.
Anjani mengerjapkan matanya beberapa kali. Tunggu. Apakah Nanta sedang merasa cemburu? Mengingat itu, senyum Anjani semakin lebar dibuatnya.
"Kenapa memangnya? Apa ada masalah dengan itu?" tanya Anjani dengan senyum menyebalkan.
__ADS_1
Dengkusan kesal tampak Nanta tunjukkan. "Ya. Sepertinya kamu sangat bahagia." Nanta kembali berucap.
Gelak tawa pun tak terelakan. Anjani merasa lucu dengan sikap posesif Nanta. Bolehkah Anjani mengatakannya sebagai posesif?
"Pudingnya enak. Mau coba tidak? A—" Anjani sengaja mengalihkan pembicaraan barusan.
Walau raut wajahnya tampak kesal, Nanta tetap menerima suapan dari Anjani lalu tangannya bergerak untuk mengacak rambut gadis di sebelahnya.
"Kamu membuatku gemas," ucap Nanta dengan gigi-gigi yang bergemeletuk. Hal itu tentu membuat Anjani terbahak renyah dengan telapak tangan yabg digunakan untuk menutup wajah.
Tanpa keduanya sadari, ada sepasang mata yang menatap ke arah mereka dengan pandangan iri dan tidak suka. Dari atas panggung, Rose memperhatikan interaksi Nanta dan gadis yang bersamanya.
Harusnya, Rose tidak boleh sakit hati lagi. Karena statusnya kali ini sudah resmi menjadi istri dari Rendra. 'Harusnya aku bahagia bisa melihat Nanta kembali tertawa,' batin Rose sedih.
Tidak berapa lama, sang pemandu acara menginterupsi bahwa tamu undangan boleh menyalami kedua mempelai. Setelah Anjani menyelesaikan makannya, Nanta menarik pergelangan tangan gadis tersebut untuk ditarik menuju panggung.
"Setelah salaman, kita akan langsung pulang. Kamu pasti kelelahan," ucap Nanta tanpa dibuat-buat. Semua murni dari dalam hati.
Anjani tersenyum dan mengangguk patuh. Beruntung, kondisi panggung belum banyak didatangi tamu undangan yang lain. Jadi, Nanta tidak perlu mengantri panjang hanya untuk bersalaman dengan sang Mantan.
Saat tiba giliran mereka sebentar lagi, Nanta menarik pinggang Anjani posesif. Hal itu tentu membuat Anjani menjadi gugup. Namun, pelaku yang membuat gugup seakan tidak menyadari jika tindakannya bisa membahayakan kondisi jantungnya.
"Nanta. Akhirnya kami datang juga," ucap Rendra lalu berpelukan ala pria. Nanta tersenyum kaku karena saat ini dia bisa melihat Rose yang sedang menatap dirinya lekat.
"Kenapa, Sayang? Kamu kelelahan? Sebentar lagi kita akan pulang." Nanta berucap mesra lalu tangannya kembali melingkar di pinggang Anjani.
Cup.
Damn it! Anjani mengumpat saat Nanta dengan sengaja mencium pipinya bahkan di depan umum dan mantan kekasih Nanta.
Anjani langsung melotot tajam. "Sayang, ini di tempat umum," peringat Anjani penuh penekanan. dia juga mengikuti permainan yang dibuat oleh Nanta.
"Maafkan aku jika membuatmu tersipu malu. Baiklah, kalau begitu kami pamit dulu ya? Waktu sudah semakin malam saja," ucap Nanta kemudian.
Interaksi Nanta dan Anjani tentu tidak luput dari perhitungan Rose.
Anjani ikut mengangguk dengan bibir yang mengulas senyum terpaksa. Adegan seperti ini di luar skenario yang dibuat. Nanta telah berbuat curang padanya.
"Kami pamit dulu. Semoga pernikahan kalian dipenuhi kebahagiaan," ucap Anjani mendoakan dengan tulus.
__ADS_1
Rose tidak menjawab namun wajahnya tampak murung dan Anjani menyadari itu.
"Baiklah. Terima kasih karena sudah datang ke resepsi pernikahan kami." Rendra menjawab dengan senyum merekahnya.
Setelah berada di luar hotel, Anjani memukul lengan Nanta cukup keras. "Beraninya kamu mencuri ciuman pertamaku!" kesalnya masih memukul lengan Nanta yang bertengger di pinggangnya.
"Aw! Kasar sekali sih," kesal Nanta lalu membukakan pintu mobil untuk gadis tersebut.
"Kamu yang sudah kurang ajar." Setelah itu, Anjani masuk ke mobil dan menutup pintu lumayan keras. Nanta hanya bisa meringis melihat mobilnya diperlakukan tidak baik oleh gadis yang sedang marah.
Setelah Nanta masuk, dia tidak langsung melajukan mobil. Ditatapnya wajah Anjani yang masih tampak kesal.
"Ya sudah. Kalau begitu aku akan mengembalikan ciuman pertamamu." Nanta berucap dan sudah mengikis jarak. Saat wajahnya sudah begitu dekat dengan Anjani, tiba-tiba saja Anjani menoleh dan hampir saja bibir keduanya menempel.
Mata Anjani membola. Lalu tanpa aba-aba, Anjani mendorong wajah Nanta untuk menjauh. "Mau apa lagi kamu? Herman deh," ketusnya merasa kesal.
Nanta terkekeh. "Herman deh. Pipi kamu empuk sekali. Jadi pengen cium lagi," jawab Nanta lengkap dengan senyum tengilnya. Dia sama sekali tidak merasa bersalah karena telah mencuri ciuman pertama seorang gadis. Ini justru begitu menyenangkan.
"NANTA!!!" pekik Anjani merasa kesal.
Kwak. Kwak. Kwak. (suara burung gagak)
"Jangan berisik atau mau aku cium lagi kamu?" Nanta mengancam lalu pandangan beralih ke depan. Setelah itu, Nanta mulai menjalankan mobil menuju rumah. Laki-laki itu sudah sangat merindukan sang Ibu.
Melihat Anjani yang masih membuang muka, Nanta kembali bersuara. "Maafkan aku jika tindakanku sudah lancang. Aku hanya refleks saja karena merasa gemas melihat pipimu. Kamu bisa membalas dendam padaku dengan cara mencium ku balik. Pipiku masih bujang," ucapnya yang langsung mendapat lemparan lipstik dari Anjani.
"Dasar mesum!"
...****************...
...ssstt........
...Visual tokoh Nanta....
...VISUAL TOKOH ANJANI....
...
__ADS_1
...