Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)

Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)
Bab 66. POV Sandra


__ADS_3

Beberapa hari yang lalu.


Sandra bahagia sekali karena suaminya itu mengajaknya untuk ikut perjalanan dinas ke Bogor. Entah mengapa Sandra merasa bisa mencari bantuan di kota tersebut.


Dengan memakai informasi yang selama ini Sandra cari tahu, tentunya setelah mengumpulkan analisisnya, Sandra sudah punya rancangan untuk bisa bebas dari sangkar emas yang suaminya buat.


Namun, Sandra merasa gagal karena suaminya itu tidak pernah mengizinkan ia untuk keluar dari hotel dimana Sandra menginap.


Hingga tepat di hari dimana suaminya pergi, Sandra berhasil mencuri satu kunci cadangan agar bisa keluar.


"Akhirnya aku bisa keluar juga. Aku harus segera mencari bantuan," ucap Sandra kemudian menuruni lift dengan rasa takut. Dia takut bertemu dengan Daniel, suaminya dan sudah di pastikan rencana yang sudah ia susun akan gagal.


Beruntung hingga di lantai dasar, Sandra berhasil keluar. Namun sayang, saat Sandra meminta bantuan dengan orang yang ada di sekitar, mereka cenderung tidak percaya dan menganggap Sandra sedang mengemis perhatian.


"Mbak,tolong saya, Mbak. Saya izin meminjam ponsel untuk menghubungi polisi. Saya dikurung selama bertahun-tahun oleh suami saya dan tidak dibiarkan hidup bebas," ucap Sandra memohon. Berharap orang tersebut sudi membantunya.


"Maaf, Mbak. Saya tidak memercayai orang asing dengan mudah," jawab wanita tersebut kemudian berlalu meninggalkan Sandra.


Memang dilihat dari penampilannya, Sandra bukankah tipe yang dikurung bertahun-tahun. Suaminya itu memang penjahat kelas kakap sehingga tahu statregi. Jelas semua yang yang ditemui Sandra tidak ada yang percaya.


Walau tampilannya sederhana, Sandra terlihat cantik walau badannya sudah kurus tidak seperti dahulu.


"Aku harus bagaimana? Hampir semua orang tidak percaya dengan ceritaku. Daniel memang sudah sangat berpengalaman. Dia tidak pernah membuat jejak memar dan luka lainnya. Ternyata ini sebabnya," monolog Sandra merasa frustasi.


"Sekarang aku harus apa? Aku harus meminta bantuan pada siapa? Ke kantor polisi pun rasanya percuma karena penampilanku tidak menunjukkan seseorang yang habis di kurung selama bertahun-tahun," ucap Sandra lagi sambil masih terus berjalan menyusuri jalanan kota.


Hingga Sandra berjalan hampir satu kilometer, dia melihat sebuah gedung berlantai dua yang bertuliskan Hanindya Organizer. Entah mengapa pikiran Sandra langsung tertuju pada satu nama yaitu, Nala.


Dengan tergesa-gesa, Sandra menyeberang jalan dan berniat memasuki gedung tersebut. Dan benar saja, hal yang pertama dia lihat adalah sosok wanita yang saat ini sedang duduk di kursi kerjanya. Pandangannya bertemu dengan tatapan wanita tersebut.


Namun, pandangan itu harus diputus karena seseorang yang menyapanya. "Selamat datang, Nona. Apa ada yang bisa kami bantu?" ucap suara yang membuat Sandra menoleh.


Sandra berdehem terlebih dahulu untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering. Ehem.

__ADS_1


"Terima kasih. Saya ingin berbicara dengan pemilik Hanindya Organizer ada? Saya ingin membahas tentang konsep pernikahan dan ... Tata riasnya sekalian," ucap Sandra mencoba menguasai dirinya lagi.


"Silahkan. Bu Nala adalah pemilik kantor ini," ucap salah satu pegawai Nala sambil menunjuk pada arah Nala yang kini masih duduk di kursinya. Sandra menyeret langkah untuk mendekati Nala.


Ada rasa ragu yang seketika hadir. Apakah dia harus meminta bantuan pada seseorang yang pernah dia lukai di masa lalu? Mungkinkah Nala mau membantu dirinya untuk keluar dari masalah yang sedang dialaminya?


Sandra bisa melihat senyum Nala yang begitu tulus. Seakan tidak memiliki dendam pada Sandra yang pernah menghancurkan rumah tangganya. "Selamat datang, Sandra," sapa Nala ramah.


Walau ragu, Sandra mengangguk dan memilih menanyakan kabar tentang sosok wanita yang kini terlihat sangat cantik. "Apa kabar, Nala?" tanya Sandra ragu.


"Aku kabar baik. Kamu ... Apa kabar?" tanya Nala balik.


Sandra tersenyum tipis. "Aku sangat baik, La. Terima kasih karena semua ini berkat kamu," jawabnya dan Sandra bisa melihat kerutan di dahi Nala yang dalam.


"Apa maksudnya?" tanya Nala heran.


"Karena kejadian waktu itu, aku jadi banyak belajar. Banyak yang sudah aku lalui hingga sampai di tahap ini. Kamulah yang menyadarkan aku bahwa hidup itu butuh perjuangan," ucap Sandra kemudian menghela napas berat.


Nala tersenyum tipis. "Baiklah. Konsep pernikahan seperti apa yang ingin kamu gelar? Hanindya Organizer siap menemani hari bahagiamu menjadi lebih berwarna," tanya Nala begitu baik dan perhatiannya.


Sandra langsung tersadar dengan tujuan utamanya datang kesini. Dia sudah tidak ragu lagi untuk meminta bantuan pada Nala. Sandra percaya hanya Nala yang bisa membantunya lepas dari sangkar emas yang dibuat oleh suaminya.


"Tunggu, La. Boleh aku meminta waktumu sebentar?" pinta Sandra lalu tangannya terulur untuk memegang tangan Nala.


Sandra menyesal telah memegang lengan Nala karena saat ini, Nala aksngung menarik tangannya kembali. Sandra tersenyum masam. Walau Nala sudah berdamai dengan masalalunya, bukan berarti Nala lupa dengan perbuatan Sandra.


"Maaf. Jangan pegang," ucap Nala berusaha mempertahankan nada santainya.


"Maafkan aku," ucap Sandra lalu menarik tangannya kembali dan menunduk dalam.


"Tidak apa-apa. Aku hanya tidak terbiasa saja," jawab Nala kembali tersenyum tipis.


Sandra hanya bisa memainkan jemarinya untuk menghilangkan kecanggungan yang tercipta. Sandra ingin sekali mendengar Nala bertanya banyak tentang dirinya. Namun, Sandra sadar dirinya terlalu tidak punya malu.

__ADS_1


"Sandra?" panggil Nala pelan yang membuat Sandra mendongak cepat.


"Kamu akan menikah? Kapan?" tanya Nala lembut.


Sandra mengangguk bohong. "Iya. Aku akan menikah. Satu bulan lagi," jawab Sandra tersenyum manis. Akhirnya Nala peduli dengannya.


Namun, kedamaian yang Sandra rasakan mendadak hilang karena suara yang membaut tubuh Sandra menegang seketika. "Kamu disini, Sayang? Aku mencarimu dimana-mana," ucap suara yang tidak lain adalah milih suaminya, Daniel.


"Maafkan istri saya karena sudah sembarangan masuk. Dia sedikit mengalami gangguan jiwa," ucap Daniel yang membuat Sandra membelalak tak percaya. Bisa-bisanya Daniel mengatakan dia mengalami gangguan jiwa.


Sandra bisa melihat wajah Nala yang terkejut. Entah merasa kasihan atau ... Entahlah.


"Tidak masalah. Saya bisa memaklumi," jawab Nala dengan tatapan tertuju pada Sandra.


"Kamu tidak apa-apa Sandra?" tanya Nala khawatir.


Saat Sandra akan menjawab, Daniel lebih dulu menyela. "Tentu saja tidak apa-apa. Istriku hanya butuh istirahat yang cukup," sela Daniel tersebut.


Sandra menelan saliva. Dia tahu setelah ini dirinya tidak akan baik-baik saja.


"Baiklah. Kami harus pamit terlebih dahulu karena hari ini ada jadwal cek ke dokter. Istri saya sedang membutuhkan penanganan dan perhatian yang lebih," ucap Daniel lalu menerima bahu Sandra kencang. Sandra sampai meringis menahan sakit akibat cengkeraman Daniel.


Sandra bisa memperhatikan reaksi Nala yang sudah membelalakkan mata, dan Sandra suka akan hal itu. Berharap Nala akan paham dan mau menolongnya.


"Hati-hati, Tuan. Istri Anda kesakitan karena tarikan tadi," peringat Nala yang sepertinya tidak ingin ikut campur terlalu jauh.


Sandra hanya pasrah saat Daniel menyeretnya untuk keluar dari ruangan. Sandra tahu setelah ini dia akan di hajar habis. Bukan hajar yang seperti kebanyakan orang lain maksud. Melainkan hajar di atas ranjang tanpa mengenal ampun.


Belum lagi Daniel suka sekali menggunakan alat-alat dalam permainan itu. Sandra merasa terhina dan diperlakukan layaknya hewan.


Ya, Daniel memang seperti itu. Dia memiliki kelainan dalam melakukan hubungan badan. Dia cenderung akan melakukannya sehari semalaman.


Mungkin setelah ini, Sandra harus masuk rumah sakit lagi.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...jangan lupa kasih like, komen, vote dan hadiah semampu kalian ya .....


__ADS_2