Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)

Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)
Bab 122. Pacar pura-pura ku


__ADS_3

Setelah kesalahpahaman Nanta dan pikirannya sendiri, Nanta membuang pikiran malunya. Karena Anjani tidak bisa membaca pikiran orang lain dan Nanta cukup bersyukur atas itu.


Nanta membawa Anjani ke sebuah rumah makan Sunda. Raut wajah yang ditunjukkan oleh Anjani benar-benar membuat Nanta merasa puas. Sepertinya, Anjani senang saat diajak makan di rumah makan tersebut.


"Kamu pesanlah yang membuatmu kenyang," pinta Nanta sambil mengendik pada buku menu di hadapan Anjani.


"Kamu yang bayar kan?" tanya Anjani dengan puppy eyes-nya.


Nanta berdecak sambil memutar bola matanya jengah. "Iya. Masa iya kamu yang bayar. Gengsi-lah aku sebagai laki-laki." Setelah mengucapkan itu, Nanta mengatakan pesanan pada sang Pramusaji yang dilakukan juga oleh Anjani.


"Nan?" panggil Anjani lembut dan Nanta langsung mengalihkan tatapan pada sosok cantik di hadapannya. Nanta juga sudah bersiap mendengar celotehan Anjani dengan memangku tangan.


"Iya, Sayang," jawabnya terkekeh pelan.


Anjani jelas terkejut hingga matanya membulat sempurna. Walau begitu, Anjani kembali berucap. "Aku akan bercerita padamu tentang kisah ... ayahku. Tetapi setelah makan malam ini. Bagaimana pun, aku butuh seseorang untuk bercerita." Terdengar ragu sekali saat mengucapkannya.


Tidak ingin membuat Anjani sungkan, Nanta tersenyum lalu tangannya bergerak menyentuh jemari Anjani yang berada di atas meja. "Katakan semua yang membuatmu mengganjal. Aku siap menjadi pendengarnya. Jangan sungkan," jawab Nanta hingga membuat Anjani tersenyum lembut.


"Terima kasih," jawab Anjani tersipu.


"Salah tingkah ya?" tanya Nanta yang menyadari wajah Anjani tampak merona.


Dengan kasar, Anjani menarik tangan yang digenggam oleh Nanta. "Apaan sih," ketusnya sambil bibirnya mencebik.

__ADS_1


Nanta terkekeh geli. Bersamaan dengan itu, pramusaji datang membawa pesanan mereka. Keduanya memutuskan untuk makan dengan tenang terlebih dahulu.


Makan malam selesai, Nanta menyingkirkan piring dan meminta pramusaji untuk membereskan meja mereka. Setelah meja bersih, Nanta menatap Anjani yang masih saja tampak salah tingkah.


Nanta mengulum senyum. "Kenapa salah tingkah? Eh. Ngomong-ngomong, apakah tiga hari tidak bertemu membuatmu merindukan ku?" tanya Nanta begitu percaya dirinya.


Hal itu sontak membuat Anjani tergelak renyah. "Kamu mau aku jujur atau jawab bohong nih?" Anjani justru balik mengajukan pertanyaan.


Nanta bergumam panjang. "Jujur lebih baik walau terkadang menyakitkan," jawabnya melankolis.


Anjani tergelak lagi. Bersama Nanta nyatanya bisa membuat perasaan hatinya membaik. ""Lupakan. Mengapa jadi membahas hal tersebut? Niat awalku kan ingin mencurahkan perasaan. Aku tanya sekali lagi, apakah kamu bersedia untuk aku jadikan tempat bercerita?" tanya Anjani merasa tidak enak hati.


Sekarang, Nanta baru tahu jika Anjani adalah tipekal orang yang tidak enakan, cenderung canggung saat menceritakan masalah pribadi, dan tidak mudah percaya dengan orang yang baru ditemuinya.


Setelah menghela napas, Nanta kembali bersuara. "Kamu bisa membagi isi hati dan kepalamu padaku. Bukankah kita masih menjadi pacar pura-pura?" Nanta berucap dengan senyum miringnya.


"Kata siapa? Kita belum putus. Walau pura-pura, kita juga harus melakukan putus pura-pura juga lah."


Anjani terperangah. mulutnya terbuka sebentar lalu tertutup lagi. Merasa tidak percaya bahwa Nanta memiliki pemikiran seperti itu. Niat hati ingin bercerita tentang sang Ayah, menguat seketika.


Nanta yang melihat bagaimana Anjani bereaksi, merasa gemas sendiri karena bibir penuh dan ranum itu begitu menggoda saat bergerak membuka lalu menutup.


"Jangan mengeluarkan ekspresi seperti itu," pinta Nanta sambil menundukkan pandangan. Pikirannya begitu kotor jika sedang bersama Anjani. Padahal dulu saat bersama Rose, Nanta tidak pernah se-tertarik dan secandu ini.

__ADS_1


Anjani jelas bingung dengan kerutan di dahinya yang semakin dalam. "Kenapa memangnya? Aneh sekali," gerutu Anjani tidak habis pikir.


"Tidak ada. Sekarang ceritakan kisahmu. Jangan mengalihkannya lagi." Nanta kembali berucap pada inti pembicaraan mereka.


Anjani mengangguk lalu tatapannya menerawang jauh. "Seperti yang aku katakan tadi saat di taman. Aku lahir di luar nikah. Ibu dan Ayahku memang saling mencintai hingga ibuku rela melepas sesuatu yang paling berharga di hidupnya. Dari hal tersebut, muncullah aku. Namun pada saat itu, ibuku mengetahui fakta jika pria itu justru menikah dengan orang lain. Tentunya setelah mengetahui fakta aku ada di perut ibuku," ucap Anjani bercerita panjang lebar.


Nanta menyimak dengan baik dan sangat mencerna penjelasan Anjani. "Lalu, apakah pada saat itu, ibumu tidak datang untuk mendapatkan pertanggungjawaban?" tanya Nanta hati-hati.


Anjani tersenyum. "Ibu mengatakan bahwa ayah memutuskan hubungan begitu saja. Ibuku dibuang bagai barang rongsokan sekali pakai." Ucapan Anjani tampak pilu dan menyayat kalbu.


"Ibu membesarkan aku seorang diri dalam gunjingan banyak orang. Ibuku banyak menderita hanya demi mempertahankan aku yang ada dalam perutnya. Walau orang mengatakan ibuku bukan wanita baik-baik, bagiku ibu adalah malaikat tak bersayap. Dia adalah sosok ibu yang sangaaat baik. Aku menyayangi ibuku." Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Anjani menangis tersedu-sedu hingga membuat Nanta panik.


Nanta langung berpindah tempat duduk dan membawa Anjani dalam dekapan. "Kita ke mobil saja ya? Agar kamu bisa lebih leluasa menangis," ucap Nanta memberi saran dan Anjani langsung mengangguk menyetujui.


Setelah berada di mobil, Anjani kembali menumpahkan tangisnya. Cukup sudah Anjani berpura-pura kuat menjalani hidup. Senyum dan raut ceria yang ditunjukkan hanyalah topeng semata. Anjani begitu rapuh dan membutuhkan tempat untuk bersandar. Apalagi, dia besar tanpa ada seorang ayah yang membersamai.


"Kamu kuat dan hebat bisa bertahan sejauh ini," gumam Nanta masih setia memeluk Anjani dan menepuk-nepuk pelan punggung sang Gadis.


"Apapun hang terjadi di masa lalu, jadikanlah pelajaran untuk melakukan tindakan ke depannya. Tante Ruri ibu yang hebat hingga bisa melahirkan putri yang sehebat kamu," ucapnya lagi tulus. Dia ingin memberikan sedikit semangat.


Anjani tiba-tiba melepas pelukan dan menatap Nanta lekat-lekat. "Setelah kamu mengetahui apa yang terjadi padaku dan keluargaku, apakah kamu masih ingin berada di sekitarku dan ibuku?" tanyanya penuh harap.


Nanta terkekeh lalu mengacak rambut Anjani gemas. "Masih lah. Aku tidak punya alasan untuk menjauhi mu pacar pura-pura ku. Saat ini aku harus menghibur pacar yang sedang sedih. Bukankah begitu, wahai pacar pura-pura ku?" tanya Nanta dramatis.

__ADS_1


Hal itu sontak membuat Anjani tergelak renyah. "Pacar pura-pura?" tanyanya kemudian kembali tertawa. Seakan ucapan Nanta keluar dari mulut seorang komedian yang sudah profesional.


Namun, Nanta ikut bahagia jika Anjani kembali mengukir senyumnya.


__ADS_2