Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)

Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)
Bab 81. Ngopi yuk!


__ADS_3

Reigha tidak pernah menyerah untuk mendatangi rumah Nala. Walau yang didapat hanyalah sebuah penolakan oleh bu Laras, hal tersebut tidak menyusutkan semangat membara Reigha.


Kabar baiknya, Nala sudah tidak secuek dulu. Tepatnya saat pertemuan mereka di makam Dandy dua minggu yang lalu. Ya. Waktu begitu cepat berlalu. Sekarang baru hari Senin, tahu-tahu sudah hari Minggu lagi. Dunia memang sudah tua.


Jika Reigha berbicara, sekarang Nala lebih sering menanggapi. Entah karena paksaan saat ada anak-anak atau memang Nala yang sudah mulai berdamai dengan keadaan. Atau, justru Nala sudah kembali nyaman saat bersamanya?


Reigha merasa ada harapan baru yang bisa dia dapatkan dari perkembangan hubungannya dengan Nala. Zia dan Zio memang anak pembawa berkah. Bersyukur dulu Reigha membuat Nala hamil sehingga dia bisa mendapatkan manfaat dari perbuatannya di masa lalu.


Selain bonus dua bocah kembar, Reigha juga mendapat bonus untuk kembali dekat dengan mantan istrinya.


Entah mengapa, hari ini Reigha seperti mendapat durian runtuh. Saat dia mengunjungi rumah Nala di hari Minggu, bu Laras sedang tidak berada di rumah.


"Memangnya tante Laras kemana, Pak?" tanya Reigha pak satpam yang berjaga di depan rumah Nala.


"Keluar pagi-pagi sekali bersama Mas Nanta dan si kembar, Pak," jawab pak satpam ramah.


Reigha mengangguk senang. "Baiklah. Tapi Nala-nya di rumah kan, Pak?" tanya Reigha lagi memastikan.


"Setahu saya sih, di rumah, Pak. Soalnya, sejak tadi pagi belum keluar," jawab pak satpam lagi.


Reigha mengangguk kemudian pamit untuk masuk terlebih dahulu. Ini adalah kesempatan emas untuk Reigha mendekati Nala dengan leluasa. Setelah berada di depan pintu, Reigha mengetuknya terlebih dahulu.


Tok. Tok. Tok.


Reigha bisa mendengar teriakan dari wanita yang dia cintai dari arah dalam yang disusul pintu terbuka.


Ceklek.


Reigha bisa melihat raut terkejut yang ditunjukkan Nala untuk pertama kali. "Loh. Mas Reigha belum membuka pesanku ya?" tanya Nala masih berdiri di bilah pintu.


Reigha mengernyit bingung. "Pesan apa? Sejak tadi aku tidak memegang ponsel," jawab Reigha memberitahukan alasannya.


"Aku tadi pagi kirim pesan kalau Zia dan Zio ikut Oma dan Uncle-nya ke Bandung," jelas Nala dengan mengerjapkan matanya beberapa kali.


Reigha mengulum senyum. "Aku tidak tahu kalau soal itu. Baiklah. Besok aku akan datang lagi untuk menemui Zia dan Zio. Sekarang, aku ingin bertemu ibunya saja," ucap Reigha kemudian mendorong tubuh Nala untuk masuk dan Reigha segera menutup pintu.

__ADS_1


Nala sudah melotot tajam. "Mas! Kamu gila! Di rumah tidak ada orang! Bisa-bisa kita di gerebek warga kompleks!" gerutu Nala kesal.


"Tidak akan," jawab Reigha enteng.


Nala mendengkus sebal. Sepertinya, Nala sudah salah langkah untuk bersikap lebih baik lagi pada Reigha. Buktinya, laki-laki itu kini berbuat seenaknya.


"Pulang tidak! Aku tidak nyaman berada di rumah hanya berdua. Tolong, pulanglah, Mas," mohon Nala memelas.


Reigha hanya diam memperhatikan wanita yang dicintai mengomel. "Bagaimana jika aku tidak mau?" tanya Reigha tersenyum tengil.


Wajah Nala berubah datar. "Kamu mau aku tampar lagi?" ancam Nala yang sayangnya tidak memberikan efek apapun.


"Tampar aku di pipi ... Biar sadar dan ku mengerti ....." jawab Reigha yang malah bernyanyi.


"Aargh! Aku bisa gila lama-lama kalau terus menghadapi kamu, Mas," pekik Nala kesal.


Reigha terdiam dengan raut kecewa. Nala menghela napas lalu menghembuskannya kasar. "Pulang ya?" mohon Nala lagi.


"Bagaimana jika kita pergi jalan-jalan? Aku kan sudah berjanji untuk menjaga kamu. Itu juga yang Dandy inginkan," tawar Reigha yang lagi-lagi menggunakan nama Dandy agar Nala luluh.


"Baiklah. Tunggu di luar. Aku akan ganti baju terlebih dahulu," putus Nala pada akhirnya. Reigha bersorak gembira karena berhasil membuat Nala luluh. Dia menunggu di jok kemudi dengan perasan berbunga-bunga.


Tidak berapa lama, Nala muncul dari dalam rumah. Reigha tersenyum sumringah dan turun lebih dulu untuk membukakan pintu mobil.


"Tidak usah, Mas. Kita naik motor saja. Kita jalan di dekat sini saja," tolak Nala halus.


Reigha mengangguk pasrah. "Baiklah. Memangnya ada motor?" tanya Reigha memastikan.


Nala mengangguk mengiyakan dan segera menuju garasi untuk mengambil motor matiknya. Motor matik yang berbadan besar dengan harga puluhan juta. Itu merupakan motor yang Nala beli dengan uangnya sendiri.


Nala menatap Reigha yang hanya diam dengan pandangan menatap motornya. "Kenapa? Kamu mau aku yang nyetir? Kamu tidak bisa mengendarai motor ya?" tanya Nala tersenyum mengejek.


Reigha menggeleng dengan senyum angkuhnya. "Tidak. Aku hanya sedang mengingat masa-masa di mana kamu mengendari motor sport," jawab Reigha kemudian segera mengambil alih kunci di tangan Nala.


Nala terdiam untuk mencerna kalimat Reigha. Dirinya tentu ingat kapan itu terjadi.

__ADS_1


"Mundur. Biar aku yang nyetir. Ada helm kan?" tanya Reigha lagi yang dijawab oleh tangan Nala yang menunjuk ke dalam lemari yang terletak di garasi. Disana berjajar berbagai jenis helm dari mulai sport hingga helm Bogo.


Setelah mengambil dua helm, Reigha memakaikan satu helm ke kepala Nala. Nala ingin protes namun Reigha memberikan tatapan peringatan yang akhirnya membuat Nala pasrah.


Setelah semua lengkap, Reigha mulai melakukan motor pelan-pelan meninggalkan rumah.


Nala tersenyum senang merasakan terpaan angin menampar wajahnya. Udara di pagi hari membuat Nala merasa nyaman.


"Huh! Sudah lama sekali aku tidak melakukan ini," teriak Nala agar suaranya di dengar oleh Reigha.


Reigha terkekeh kemudian melirik wajah Nala yang terpantul di kaca spion. Reigha bahagia saat bisa melihat senyum Nala seperti sekarang ini.


"Lain kali aku akan ajak kamu lagi. Setiap hari pun, aku bersedia," jawab Reigha tak kalah berteriak.


"Mau kemana?" tanya Reigha.


"Hah? Apa?" jawab Nala balik bertanya karena tidak mendengar ucapan Reigha. Wajar, angin telah membawa suara mereka ikut terbang.


"Mau singgah kemana?" tanya Reigha sedikit meninggikan suaranya.


"Ngopi yuk!" ajak Nala yang segera mendapat anggukan dari Nala.


Tidak berapa lama, Reigha membelokkan motor di sebuah kafe yang kebanyakan dindingnya terbuat dari kaca. Sangat Instagramable.


Nala tersenyum mengejek saat mengetahui Reigha membawanya ke kafe yang di depannya ada banner bertuliskan 'Promo'.


"Kamu pelit ternyata ya, Mas," ejek Nala sambil melepas helm-nya.


Reigha mengernyit heran. Kenapa Nala tiba-tiba mengatainya pelit? Apa ada yang salah? "Kenapa tiba-tiba kamu mengataiku pelit?" tanya Reigha tidak terima.


"Tuh." Nala menunjuk pada banner yang bertuliskan promo. Sontak hal itu membuat Reigha tertawa terbahak-bahak. Lucu sekali Nala ini.


"Aku benar-benar tidak tahu. Ini adalah kafe yang baru dibuka. Wajar sih kalau masih ada promo. Atau kita mau pindah saja?" tawar Reigha menatap Nala lekat.


"Tidak perlu. Ingat umur, Mas. Kita ini sudah tua dan memang butuh yang promo-promo," jawab Nala kemudian berjalan lebih dulu menuju deretan barista yang menyambut di pintu masuk.

__ADS_1


Reigha melongo menatap punggung kecil Nala yang berjalan menjauh. "Aneh sekali," ucap Reigha sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


__ADS_2