Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)

Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)
Bab 50. Papa!


__ADS_3

Nala begitu terkejut ketika Dandy sudah datang ke rumah saat waktu masih menunjukkan pukul enam pagi.


"Kamu berangkat jam berapa dari Jakarta, Mas?" tanya Nala heran.


Dandy terkekeh pelan. "Jam lima aku sudah berada di perjalanan. Berhubung masih pagi, jalan tol sepi dan aku bisa ngebut," jawab Dandy yang langsung mendapat pukulan di lengannya.


"Ish! Kamu pakai kecepatan berapa? Kok satu jam sudah sampai? Kamu tidak sayang nyawa? Heran deh," omel Nala merasa khawatir.


Dandy mengerjapkan matanya beberapa kali. "Kamu khawatir ya?" tanya Dandy dengan alis naik turun.


"Kamu nanyaek? Kamu bertanyaek-tanyaek?" jawab Nala kesal hingga mengeluarkan jurus yang saat ini sedang viral.


Sontak saja hal tersebut membuat Dandy tertawa terbahak-bahak. "Wah, sepertinya kamu sudah tercandu-candu ya?" jawab Dandy ikut-ikutan trend masa kini.


Kini giliran Nala yang tergelak renyah. "Ente kadang-kadang Ente."


Bu Laras yang menyaksikan itu pun geleng-geleng kepala. Bisa-bisanya dua manusia yang usianya sudah matang itu mengikuti trend anak muda.


"Nduk? Dandy kok tidak disuruh masuk? Malah kamu nanyaek kamu nanyaek tuh gimana sih," panggil bu Laras mengomel.


Nala dan Dandy langsung menutup mulut mereka dan berjalan memasuki rumah.


"Kamu belum sarapan kan, Mas? Kita sarapan bersama kalau begitu," ucap Nala perhatian.


"Aku sengaja belum sarapan agar bisa sarapan bersama kamu disini," jawab Dandy manis.


Nala menoleh cepat. "Ya sudah. Duduklah di ruang makan, Mas. Aku akan panggil Zia dan Zio dulu," ucap Nala yang segera melangkahkan kakinya menaiki tangga.


Tidak berapa lama, Nala kembali ke ruang makan bersama Zia dan Zio yang sudah terlihat rapi. Dandy tersenyum memandang dua bocah kembar yang saat ini sedang menuruni anak tangga.


"Hai Zia! Hai Zio? Apa kabar kalian?" sapa Dandy saat Zia dan Zio bergantian menyalaminya.

__ADS_1


"Kabar baik, Uncle," jawab Zia dan Zio hampir bersamaan.


"Oh iya, Mom. Kemarin aku sudah memarahi Daddy karena membuat Mommy menangis," terang Zio menggebu-gebu.


"Iya, Mom. Daddy juga janji untuk tidak membuat Mommy menangis lagi. Daddy mengatakan ingin membuat Mommy bahagia," imbuh Zia ikut menjelaskan.


Nala mengangguk-angguk kepala lalu matanya menatap Dandy untuk melihat apakah pria itu baik-baik saja ketika anak-anak menyebut ayahnya?


Bayangan akan kemarahan Dandy sirna sudah saat Dandy justru sedang menatap Zia dan Zio dengan senyum hangatnya.


"Oh ya? Lalu, Daddy kalian berbicara apa saja?" tanya Dandy penasaran.


"Daddy mengatakan kalau Uncle Dandy juga akan menjadi Daddy kami. Mommy juga mengatakan itu kemarin. Benar kan, Mom?" ucap Zia begitu pandai mengingat ucapan ibu dan ayahnya.


Nala mengangguk membenarkan. Sedangkan Dandy, dia tersenyum haru menatap dua bocah kembar di hadapannya. "Kalian mau tidak jika Uncle menjadi Daddy kalian?" tanya Dandy memastikan dan ingin mendengar jawaban langsung dari Zia dan Zio.


"Mau!" "Mau banget!" Zia dan Zio berseru dengan jawaban yang sama. Hal itu membuat tiga orang dewasa, yaitu bu Laras, Nala, dan Dandy tersenyum bahagia.


Nala tersenyum melihat keakraban yang terjalin antara Dandy dan dua anaknya. Sepertinya, menikahi dengan Dandy adalah pilihan yang sangat tepat.


Sedangkan di tempat lain, Reigha sedang terduduk lemas di kursi makan. Ada pak Prabu dan bu Nilam di ruangan tersebut. Reigha sengaja pulang ke ibu kota agar tidak lagi bertemu Nala. Karena hal itu bisa membuat Reigha gila dan semakin ingin memiliki Nala.


Setelah mengajak Zia dan Zio jalan-jalan, Reigha sudah berpamitan pada dua anaknya jika dalam waktu satu bulan ini tidak bisa menemui mereka.


Reigha beralasan bahwa ada pekerjaan. Padahal, dia hanya sedang menghindari Nala yang mungkin kini sedang berbahagia bersama Dandy karena seminggu lagi acara pertunangan mereka akan dilaksanakan.


"Di makan, Ga. Jangan hanya dilihat," pinta Bu Nilam lembut ketika melihat anaknya hanya duduk terdiam.


Reigha menggeleng. "Reigha sedang tidak berselera, Ma," jawab Reigha dengan suara rendah.


Pak Prabu berdecak menyaksikan drama Reigha di pagi hari. "Kamu kenapa lagi sih, Ga? Bukankah kamu sudah bertemu Nala dan anak-anak?" tanya pak Prabu kesal.

__ADS_1


"Papa!" peringat bu Nilam meminta suaminya itu untuk tidak mencecar Reigha yang mungkin sedang patah hati.


Kabar tentang pertunangan Nala dan Dandy tentu sudah merebak di seluruh dunia bisnis. Bagaimanapun, Dandy bukankah pebisnis sembarangan.


"Aku yakin, dia pasti berharap bahwa Nala akan kembali padanya. Mana bisa seperti itu? Kamu memang harus mendapatkan balasan yang setimpal," ucap pak Prabu terang-terangan dan tanpa ragu mengeluarkan kata-kata pedas.


Reigha mengusap wajahnya kasar. "Lalu aku harus bagaimana, Pa? Aku merasa duniaku sudah berhenti detik itu juga, dimana Nala menerima lamaran Dandy," rengek Reigha merasa frustasi.


Bu Nilam menghela napasnya kasar. "Hiduplah dengan baik, Ga. Jangan seperti sekarang ini. Lagian kan, janur kuning belum melengkung. Kamu bisa berdoa agar Nala digariskan menjadi jodohmu," ucap bu Nilam menyemangati.


Pak Prabu mendengkus pelan. "Tetap menyerah! Jangan semangat!" seru pak Prabu yang membuat bu Nilam melotot tajam pada suaminya itu.


"Papa kenapa sih? Punya masalah pribadi apa sampai anak sendiri di perlakukan seperti itu?" Kini Bu Nilam justru ingin mendebat suaminya.


Pak Prabu tertawa terbahak-bahak. "Coba kamu bertemu dengan Sandra dulu deh, Ga. Siapa tahu masih ada sisa-sisa kebodohan di kepala kamu," ucap pak Prabu pedas.


"Papa!" seru bu Nilam dan Reigha hampir bersamaan. Keduanya sama-sama frustasi karena pak Prabu seperti sedang tertawa di atas penderitaan Reigha.


"Hahaha. Jangan kesal-lah. Lebih baik kamu makan karena patah hati itu butuh tenaga," ejek pak Prabu lagi merasa sangat puas.


"Papaaaa," seru bu Nilam penuh penekanan.


Reigha menjambak rambutnya kasar. Pulang ke rumah orangtua bukannya membuat tenang, justru malah semakin membuat Reigha kesal.


Namun di balik itu semua, Reigha sadar bahwa dirinya sudah bersalah sejak awal. Seandainya dulu Reigha mau melihat cinta Nala sedikit saja, mungkin saat ini Reigha tidak akan merasa kehilangan.


Seandainya dulu Reigha langsung memutuskan hubungan dengan Sandra yang sudah memanfaatkannya, mungkin saat ini Reigha sudah hidup bahagia bersama isteri dan anak-anaknya.


Huh! Sayangnya, semua hanya sebuah andai-andai yang tidak mungkin terwujud.


Kursi yang diduduki Reigha berderit saat Reigha beranjak. "Aku akan makan nanti, Ma. Aku ke kamar dulu ya," pamit Reigha kemudian berjalan gontai menaiki anak tangga.

__ADS_1


Dia ingin merenung untuk beberapa hari ke depan. Biarlah semua pekerjaan di ambil alih oleh Nick terlebih dahulu.


__ADS_2