Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)

Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)
Bab 56. Hampa


__ADS_3

Waktu seakan lambat sekali bergulir. Bu Dian yang sudah sadarkan diri segera menyusul ke ruang dimana Dandy sedang ditangani.


Bu Laras juga sudah datang ke rumah sakit dan mengatakan bahwa Zia dan Zio dititipkan pada adiknya, Rika.


Semua menunggu pintu ruangan terbuka dengan gelisah. Bu Dian belum bercerita apapun tentang penyakit yang di derita Dandy. Dia tidak menduga bahwa Dandy akan drop di hari pernikahannya.


Air mata bu Dian seperti enggan surut ketika menyaksikan sang Putra sedang berjuang melawan maut di dalam sana. Sedangkan bu Laras, dia setia memeluk bu Dian dan mengelus bahunya untuk menyalurkan ketenangan.


"Dandy pasti akan baik-baik saja," ujar bu Laras menenangkan. Walau pada kenyataannya, beliau sama kalutnya.


Sedangkan Nala, dia masih setia pada posisi awal, yaitu duduk di lantai dengan memeluk lututnya.


Tidak berapa lama, pintu ruangan terbuka. Semua sontak berdiri dan tergesa mendekati dokter laki-laki yang menangani Dandy. Terkecuali Nala. Melihat wajah sang dokter yang begitu murung dan menampakkan raut lelah, membuat Nala sudah tak bisa berpikir jernih lagi.


Ketakutannya akan terjadikah?


"Maafkan kami," ucap sang dokter untuk pertama kalinya yang membuat bu Dian berteriak histeris sedangkan bu Laras berusaha menenangkan.


Nala menutup telinganya rapat-rapat seakan tahu apa yang akan dokter katakan selanjutnya. Nala belum siap dan tidak akan pernah siap. Air matanya semakin deras mengalir ketika Nala benar-benar mendengar kabar buruk itu.


"Pak Dandy sudah berpulang lima menit yang lalu. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun, kami tidak bisa menyelamatkan pak Dandy. Penyakitnya sudah semakin ganas hingga menyerang otak dan ketahanan tubuhnya," ujar dokter lagi yang semakin membuat Nala tak terarah.


Apa-apaan ini? Mengapa semua terasa seperti mimpi? Nala sudah tidak memperhatikan sekitar lagi karena pandangannya kini menggelap dan Nala pingsan.


................


Nala menatap nanar pada gundukan tanah yang masih basah yang ditaburi kelopak bunga mawar berwarna merah dan putih. Air matanya seperti enggan mengering sejak tadi pagi.

__ADS_1


Hari ini, tepat di hari bahagianya, hari ini juga menjadi hari terburuk dan hari yang sangat menyedihkan. Dandy pergi sebelum dia benar-benar mengikat Nala dengan janji suci.


Bu Dian kembali pingsan saat jenazah Dandy baru saja dimasukkan ke liang lahat. Begitu juga dengan bu Laras yang mendadak drop. Semua sudah pulang terlebih dahulu termasuk Nanta yang harus menjaga ibunya.


Nala masih setia berada di pemakaman dimana Dandy di semayamkan. Kondisi Nala masih seperti tadi pagi, yaitu mengenakan kebaya pengantin. Namun, keadaanya kini sudah sangat berantakan. Nala tidak peduli itu karena saat ini kondisi mentalnya sedang terguncang.


Nala menatap pigura yang di pajang di atas makam Dandy. Itu merupakan foto Dandy yang terlihat mengukir senyum hangatnya. Nala semakin tersedu-sedu dalam tangis.


"Apa ini, Mas? Kenapa semua seperti film komedi? Kamu bercanda namun sudah keterlaluan hingga aku tidak sempat lagi untuk mengatakan isi hatiku. Perasaan yang selalu ingin kau dengar dari mulutku," racau Nala yang kini sudah bersimpuh di depan gundukan tanah itu.


Berulangkali Nala menyakinkan diri bahwa semua hanyalah mimpi. Namun, sekeras apapun Nala membohongi diri, kenyataan itu semakin nyata dan menghantui. Dandy telah tiada tanpa mengucap sepatah kata. Dandy telah pergi tanpa sempat mengikat Nala.


"Harusnya kau memberitahuku tentang penyakitmu itu. Mengapa kau pandai sekali menyembunyikan? Apakah kau tahu, aku sangat menyesal," ucap Nala begitu pedihnya.


Nala menarik dan menghembuskan napasnya beberapa kali untuk membunuh sesak yang saat ini menghimpit rongga dadanya.


"Aku mencintaimu, Mas. Aku mencintaimu dengan segenap jiwa dan ragaku. Aku tahu aku terlambat. Bahkan sudah sangat terlambat. Entah kamu mendengarnya atau tidak, aku harap ini tersampaikan," racau Nala lagi putus asa.


"Bagaimana dengan hari-hariku tanpa hadirmu lagi? Bagaimana dengan Zia dan Zio? Apakah kamu tidak memikirkan tentang mereka? Mereka pasti akan menanyakan keberadaanmu. Aku harus berbicara apa?" tanya Nala lalu tangannya bergerak memukul dadanya, berharap sesak itu akan sedikit berkurang.


"Mereka akan bertanya kemana perginya sang Uncle idolanya. Uncle yang katanya akan menjadi daddy-nya. Namun, semua itu belum terjadi dan tidak akan pernah terjadi. Mengapa kamu pergi meninggalkan penyesalan yang begitu dalam, Mas? Mengapa kamu disaat aku belum mengatakan isi hatiku? Aku tidak tahu lagi apa maksudmu." Seakan masih saja ada yang ingin Nala ucapkan sehingga dia tak kunjung beranjak.


Hingga suara seseorang menyadarkan Nala bahwa dia tidak sendiri. "Nala? Ini sudah sore dan sebentar lagi akan petang. Sebaiknya kita pulang," ucap suara yang tidak lain adalah milik Reigha.


Ya, dia datang dan ikut terpukul atas kepergian sang sahabat. Walau Reigha tahu bahwa hubungannya dengan Dandy tidak baik-baik saja saat terakhir kali. Namun, semua kenangannya bersama Dandy tidak akan pernah Reigha lupa.


Tentang bagaimana Dandy selalu menemani Reigha di hari terpuruknya dan Dandy yang telah menjadi cahaya untuk seseorang yang dicintainya, yaitu Nala dan dan anak-anak.

__ADS_1


Melihat semua orang sedang larut dalam kesedihan hingga tidak memperhatikan Nala yang sama terpukulnya, Reigha memilih menemani mantan istrinya. Reigha sadar, Nala sedang butuh seseorang untuk menemani.


Nala menoleh tak suka. "Pulang saja sendiri. Aku tidak ingin pulang," jawab Nala dengan suara melemah.


Reigha menghela napas, ikut merasakan sesak melihat keadaan Nala yang sekarang. "Jangan seperti itu. Dandy pasti akan sedih melihatmu seperti itu. Masih ada Zia dan Zio yang butuh perhatianmu," ucap Reigha mencoba menyadarkan.


Nala terdiam lalu menghapus air matanya. Nala juga membenarkan ucapan Reigha bahwa Dandy pasti tidak ingin melihat dirinya semenyedihkan seperti sekarang.


Nala bangkit dan menatap sekali lagi pusara Dandy. "Aku pulang dulu, Mas. Besok aku akan datang lagi," pamit Nala seakan Dandy bisa mendengarnya.


Nala memejamkan mata dengan mendongak menatap langit yang tampak keorenan. Nala bisa merasakan angin yang berhembus menerpa wajahnya begitu lembut. Entah mengapa, Nala berpikir bahwa angin itu adalah Dandy yang sedang meyapanya.


Nala menangis lagi dengan bibir yang menyunggingkan senyum.


'Kamu sudah tidak sakit lagi disana, Mas. Kamu sudah terbebas dari lara yang kamu tahan semasa hidup. Aku mencintaimu mas Dandy Atmajaya, aku mencintaimu' batin Nala setulus hati.


Setelah itu, Nala mulai melangkah. Reigha membiarkan Nala berjalan lebih dulu melewati deretan gundukan tanah. Di sore hari itu, Nala meninggalkan pemakaman dengan perasaan yang begitu sesak dan nyeri.


Burung-burung tampak berterbangan di udara mengiringi langkahnya serta udara yang berhembus lembut seakan ikut menenangkan dada Nala yang sedang bergemuruh.


Nala menoleh sekali lagi pada makam milik Dandy dari kejauhan sebelum dia benar-benar masuk ke mobil. Entah mengapa Nala merasa Dandy sedang berdiri di sisi makamnya dengan senyum yang terkembang sempurna.


Dandy telah tenang di alam sana. Di alam yang berbeda dan sangat jauh darinya. Nala menghapus air mata dan tersenyum penuh luka.


"Aku yakin kau pasti sedang berbahagia disana. Tuhan lebih menyayangimu," gumam Nala lalu masuk ke mobil dan kembali ke rumah dengan perasaan hampa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


...mau kabur dulu ah .....


...takut komen kalian...🙉🛵🛵🛵...


__ADS_2